
————
"Hal yang paling menyakitkan itu ketika kita kehilangan kepercayaan dari orang yang kita sayangi." - Son Niko.
————
Suasana malam hari kota Seoul sangat menenangkan. Sebuah plester transparan menempel pada kening gadis yang kini tengah berjalan menyusuri jalanan. Semilir angin yang terasa sangat dingin menusuk kedalam tulang nya yang hanya memakai kemeja coklat kotak-kotak.
Di tatapnya langit malam yang begitu kelam, tidak ada bintang maupun bulan. Jalanan yang kian sepi karena sekarang tengah menunjukan pukul 23.50 dan sebentar lagi akan tengah malam.
Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, dia tidak tau kenapa, seberat apapun masalahnya ketika ia berjalan di bawah naungan sang malam. Gadis itu akan merasakan ketenangan dan dapat menepis semua masalah yang mehalau dirinya.
"Rembulan pun tak sanggup untuk melihatku menangis, kenapa orang-orang selalu saja membuatku menangis?" ujarnya dengan suara parau yang dapat di samarkan oleh sang angin.
Di tendangnya batu krikil yang ada sisi jalan, dia sangat marah, kecewa dan sedih, semua itu campur aduk menjadi satu. Siapa orang yang tega memfitnah dirinya?
"Siapapun itu... Mereka akan menyesal" gertaknya.
Suara derap langkah kaki di belakangnya membuat ia sedikit tersentak dan diam di tempat. Derap langkah kaki itu ikut berhenti. Niko berbalik dengan cepat, tak ada siapapun di belakangnya.
"T-tadi perasaan ada orang di belakang" gumam nya sedikit terbata.
"Iya tadi ada orang di belakang" ucap seseorang yang ada di belakang Niko.
Gadis itu tersentak kaget, dan langsung membalikan tubuhnya. "KAK DOYOUNG!!!" seru si gadis dengan okta tinggi.
Laki-laki yang bernama Doyoung itu terkekeh, menunjukan barisan gigi rapinya. "Ngapain kamu malem-malem di sini?" tanyanya.
"Nyari angin kak" sahutnya antusias.
"Nyari angin? Malem-malem gini?"
Gadis itu mengangguk cepat, Doyoung tak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh gadis bernama Niko ini. "Kamu nyari angin malem-malem, mau masuk angin hm?"
"Ihhh gak gitu!" cibirnya kesal.
Doyoung memegang kedua bahu Niko. "Mana baju kamu cuman kemeja sama rok pendek. Ini udah malem, pulang sana" ucapnya kemudian menyentil dahi Niko dengan telunjuk nya.
"Asssh" ringis gadis itu mengusap keningnya. "Yaak, kakak juga ngapain malem-malem keluyuran hah?!" sergah si gadis tak mau kalah.
Laki-laki itu terdiam, mengegakkan tubuhnya. "Kepo ya" kekehnya.
"Ihhh kok gituuu, biarin dong" dumel gadis di depan nya dengan bibir yang sedikit di majukan.
"Mau tau apa mau tau banget?"
"Kak, jangan ngeselin ya. Niko ceburin ke selokan mau?" ancamnya dengan wajah datar.
Kim Doyoung tertawa renyah mendengar ancaman gadis di depan nya yang tidak sama sekali menyeramkan melainkan sangat menggemaskan. "Ihh kak! Malah ketawa!"
"Haha iya iya, maaf. Kakak habis kerja kelompok"
"Masa sih?" gadis itu menaikan satu alisnya, di lihat nya Kim Doyoung yang sama sekali tidak membawa tas atau buku di tangan nya.
"Kenapa?" tanya Doyoung tertegun.
"Hem mencurigakan" gumamnya.
"A-apa?"
"Kakak kerkom kenapa gak bawa buku atau tas? Kakak boong ya?" celotehnya, menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya dengan lamat-lamat.
Napas Doyoung tercekat. "Hehe, maaf. Kakak sebenernya habis kerja"
"APA??"
Doyoung mengangguk pelan. "Iya, kakak kerja di mini market depan, mini market sebelum ke rumah kamu. Kakak jaga di sana setiap jam malem, ini kakak baru mau pulang, taunya kakak nemuin kamu disini" jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
"S-serius?" mata gadis itu terlihat membulat, entah itu terkejut atau berbinar.
"Iya Nik" katanya dengan tawa kecil di akhir kalimat nya.
"KERENN!!!"
"Haha"
"Kak" panggilnya kembali parau.
"Iya?"
"Kakak udah liat berita yang ada di web sekolah?" tanyanya ragu.
Doyoung mengangguk. "Iya udah, kenapa?"
"Anu, kakak percaya kalau itu aku?"
Doyoung terdiam, mengacak surai coklat Niko. "Kakak gak percaya" ucapnya.
"B-beneran?"
"Iya, kakak tau itu bukan kamu" ucapnya, di ikuti dengan senyuman di lekuk bibirnya.
"K-kenapa gak percaya?"
"Kamu mau kakak percaya sama poto itu?"
Niko menggeleng cepat. "Nggak!! Bukan itu! Maksudnya, banyak orang yang percaya sama poto itu, bahkan mereka ngehujat aku dari semua akun sosial media aku kak. Terus pas tadi di sekolah, aku di lemparin kertas sampe kening aku berdarah" ucap gadis itu panjang lebar.
"Apa?? Kapan?" tanya nya mulai cemas, di lihatnya plester yang ada di kening sang gadis. Doyoung menangkup wajah Niko. "Kakak gak percaya kalau itu kamu, wajah kalian beda" ucapnya pelan.
Niko membulatkan matanya, "maksud kakak?"
Doyoung menghela napasnya. "Kakak kira itu editan tapi bukan, itu emang asli. Cuman, itu bukan kamu"
Gadis itu terdiam, beruntung ada beberapa orang yang tidak mempercayai hal itu. Sebenernya siapa orang yang ada di balik penyebaran poto itu.
Doyoung tersenyum. "Kamu manis, lugu sedangkan dia terlihat dewasa dan tegas. Raut wajah kalian beda meski kalian sama persis" ucapnya.
"Kakak pakar wajah ya?"
Doyoung tertawa renyah, memasukan kedua tangan kedalam saku celana nya. "Haha gak gitu Niko, astaga. Kakak pernah belajar tentang psikologi, atau bahkan kakak suka hal-hal yang seperti itu. Dan kakak juga tau perbedaan kalian" ucapnya.
"Perbedaan apa??"
Laki-laki yang bernama Kim Doyoung itu menunjukan poto yang ada di web sekolah yang sudah ia unduh terlebih dahulu. Tangan kekar laki-laki tersebut bergerak, men-zoom poto yang di sebut-sebut adalah Niko.
"Tahi lalat, sedangkan kamu gak ada tahi lalat nya" ujarnya.
Niko kembali tertegun. Dia benar-benar di buat kagum oleh Kim Doyoung yang mempunyai pikiran dewasa tanpa kemakan issue belaka. "LAH IYA!!!" serunya.
"Kok kakak pinter??"
"Kalau gak pinter gak bakal jadi ketos dong?" tanyanya.
Kemudian keduanya tertawa, bersyukur bagi Niko telah mendapatkan sebuah fakta besar seperti ini. "Daebak! Kakak jadi pakar wajah aja, biar bisa baca raut wajah orang" kekehnya.
Doyoung mencondongkan wajahnya ke arah Niko, gadis itu mengerjap sesekali. "K-kenapa?"
"Tuhan menciptakan seorang wanita untuk di jaga, bukan di hina. Kalau di luaran sana ada yang hina kamu kakak siap buat ngejaga kamu. Kapanpun dan apapun itu" ujarnya.
Hening...
Niko memukul dada Kim Doyoung tak begitu keras namun mampu membuat Doyoung memundurkan tubuhnya. "Kakak apaan sih! Gombal!"
"Haha, pulang sana" ucapnya.
__ADS_1
Niko menatap ke sekeliling yang sangat sepi, bahkan cahaya lampu remang-remang jalanan pun mampu terkalahkan oleh gelapnya sang malam. "Kak" panggilnya.
"Iya, kenapa?"
"Anterin ehe" gadis itu menunjukan barisan giginya, menatap canggung ke arah Kim Doyoung.
"Astaga, yaudah ayo" kekeh lelaki bersurai hitam pekat itu. Menggenggam tangan Niko di genggaman tangan kekarnya.
"Kakak udah punya pacar?" tanya Niko di perjalanan.
Doyoung terdiam lantas menggeleng pelan. "Belum, kenapa?"
"Kirain udah ada pacar"
"Kamu sendiri?"
"Aku udah" jawabnya.
Napas Kim Doyoung tercekat mengetahui sebuah fakta itu. "Siapa?" tanyanya.
"Jung Jaehyun"
Sudah ia duga, pasti laki-laki itu. Doyoung menghela napasnya. "Baguslah"
"Tapi-"
"Tapi apa?"
"Dia... Kak, gimana rasanya jadi orang yang gak di percayai sama pacar sendiri?" ujar gadis di sisinya, yang kian memelan.
Sudah ia duga pasti gadis ini tengah mengalami masalah karena hal itu. "Jaehyun gak percaya sama kamu?"
Niko mengangguk pelan. "Kemungkinan besar, seperti itu"
"Gapapa, masih ada kakak yang percaya sama kamu"
"Ini beda kak, aku pengen nya Jaehyun gak percaya sama kabar itu dan dia percaya sama aku. Tapi malah sebaliknya, hehe"
Doyoung mempereratkan genggaman tangan nya. "Kalau mau nangis, nangis aja" ucapnya.
Niko mengangguk pelan. "Rasa sakit yang aku rasa bukan karena fitnah itu, tapi kehilangan kepercayaan dari orang yang kita sayang itu sangat menyakitkan kak" gumam nya.
"Aku gapapa di hina, aku udah tahan sama semua itu. Tapi kalau kayak gini, aku bener-bener kecewa kak" kekehnya terpaksa.
Doyoung menghentikan langkahnya, memegang kedua bahu Niko lantas memeluknya, membawa gadis di hadapan nya kedalam sebuah dekapan hangat yang ia miliki.
"Kakak percaya kalau itu bukan kamu, kakak bakalan bantu nyari siapa pelaku di balik semua ini. Kakak janji"
...❖❏❖❏❖...
Suara tawa terdengar menggema dari arah ruangan yang bernuansa serba putih dengan polet dan miniatur serba emas. Lisa, gadis itu tertawa sangat puas akan pekerjaan yang ia berikan kepada Kim Taera berjalan dengan mulus.
"Haha, kerja bagus. Gw suka cara lo" kekehnya.
"Oh tentu"
"Gw mau tau rencana pertama yang gw kasih ke lo, udah lo lakuin?" tanyanya, meminum segelas wine di gelas yang di pegang nya.
Kim Taera tersenyum miring. "Kayaknya cowo itu mudah terpengaruh, bahkan saat gw pura-pura jatuh dia langsung dengan sigap nangkap gw" ujarnya.
"Waw, good job girl" tawanya lagi.
"Qian Kun, sasaran yang mudah di taklukan"
TBC.
.
__ADS_1
.
.