
Sejak saat itu Jung Jaehyun menghilang entah kemana setelah hari kelulusan mereka. Banyak orang yang merasa aneh dengan kehilangan sosok Jaehyun.
Terlebih dengan gadis bernama Son Niko yang sampai saat ini belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Padahal tak ada yang spesial dalam hubungannya waktu itu. Tapi tetap saja dia masih mengingat pria itu.
Ia tengah bekerja di satu cafe sebagai pelayan. Kalian tau dua tahun terakhir ini hidupnya ah bisa di katakan memburuk setelah kematian ibunya Kim Taeyeon yang meninggal akibat overdosis obat. Yang Niko sendiri tidak mengetahuinya.
Dan dia memutuskan untuk tinggal di apartment, dan melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri. Soal rumahnya yang dulu, itu bukan hak nya. Dia memberikan rumah itu kepada Kim Taera anak asli dari Kim Myungsoo dan Kim Taeyeon. Banyak perubahan di antara Kim Taera dengannya, keduanya sudah menjalin hubungan baik bak seorang saudara kandung.
"Oi gw pesen dari tadi lo malah bengong aja" ketus seorang pria yang tak merubah sedikitpun penampilannya. Siapa lagi, kalau bukan Lee Taeyong.
Gadis bersurai panjang itu menoleh ke arahnya, mendengus geli. "Lo! Udah berapa kali gw bilang jangan ganggu gw pas jam kerja" sarkas Niko menatap ke arahnya malas.
Taeyong menyentil kening Son Niko dengan telunjuknya. "Gw langganan di cafe ini, jadi lo harus baik sama pelanggan satu ini" serunya yang entah kenapa membuat gadis itu merasa kesal.
"Cih, bodo. Balik sono ke kursi lo" dengusnya.
"Iye iye"
"Niko! Maaf terlambat" seru Song Yuqi, gadis bersurai ikal yang juga kerja paruh waktu disana.
"Ahh gapapa kok" sahut Niko.
"Giliran gw ya, lo pulang aja. Biar gw yang urus" katanya seraya memakai topi dan perlengkapan pelayan cafe lainnya.
Niko mengangguk antusias. "Siap Qi, gw pulang duluan ya!"
"Iya, hati-hati!"
Niko terkekeh pelan, menjulurkan lidahnya ke arah Lee Taeyong yang menatapnya terkejut. Kemudian ia berlalu pergi dari cafe itu.
"Anjim Nik!" umpat Taeyong.
• • •
Ia memutuskan untuk langsung pulang ke apartment nya, malas untuk pergi keluar. Dia ingin tiduran saja hari ini. Dan soal skripsi akhir semester, dia baru mengerjakannya separuh. Ah masa bodoh lah. Dia terlalu lelah.
Niko kini tampil dengan penampilan yang sangat berbeda. Dengan rambut panjang hitam pekat yang sekarang menjadi ciri khasnya. Sebenarnya dia malas ingin memotong tapi dia juga harus tau kalau saat ini dia sudah menginjak umur 19 tahun bukan 17 lagi.

Ia meremat pelipisnya ketika sudah berada di atas kasur king size yang tersedia di apartment tersebut. Sepertinya uang bulanan yang di pegangnya semakin menipis. Dia harus segera mencari pekerjaan baru untuk memenuhi semua kebutuhannya di masa mendatang.
Niko meraih laptopnya dan mencari pekerjaan yang ada di website. Setelah berkali-kali dia membuka beberapa web. Dia rasa menjadi seorang pegawai di kantor akan sangat baik.
"Jung Company!" serunya sangat antusias.
Dia bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi. Memakai baju kemeja putih dan rok span berwarna coklat pastel. Dia juga mengikat rambutnya poni style ke belakang yang sedikit membuat anak rambutnya terjatuh.
"Huh! Semoga sukses!" ia membawa tas selempang dan map coklat yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.
Dengan sangat antusias dia naik ke satu taksi untuk menuju kantor pusat Jung Company. Sesampainya di depan gedung luas itu, ia memberanikan diri untuk melangkah masuk menuju kantor tersebut.
"Permisi pak, apa disini menerima lowongan kerja?" tanyanya kepada penjaga yang ada di depan pintu kaca yang menjulang tinggi itu.
"Ada dek, silahkan kamu masuk ke ruang tunggu untuk langsung melaksanakan interview" serunya.
Gadis itu menarik senyumnya dan membungkuk setengah badan ke arah penjaga. Dia masuk dengan sangat antusias. "Ternyata banyak juga yang lagi nyari kerjaan" gumamnya saat melihat ada banyak orang yang tengah menunggu untuk di interview.
Seharusnya dia tak bekerja, karena sudah mendapat jaminan dari keluarga Lee Taeyong. Tapi dia menolak itu semua, sudah cukup dia menumpang hidup pada orang lain. Dan di sini saat nya dia mulai merintih dan hidup mandiri.
__ADS_1
"Son Niko" panggil petugas yang akan meng-interview dirinya.
• • •
"Bagaimana dengan berkas-berkas pegawai baru?" tanya seseorang yang tengah duduk di kursinya.
"Semuanya baik pak, baik dari latar belakang pendidikan maupun yang lainnya" jawab orang duduk di hadapannya sembari memberikan berkas yang sedari tadi di bawanya.
Pria itu membuka tiap tiap lembar berkas tersebut sampai pada akhirnya napasnya tercekat karena membaca salah satu nama yang selalu ia ingat di benaknya. "Son Niko?" serunya.
"Ada pegawai baru yang bernama Son Niko?" tanyanya kepada orang bawahannya itu.
"Ada pak, dia masih kuliah dan sangat membutuhkan kerja paruh waktu ini. Meski saya sudah tegaskan bahwa bekerja di sini adalah fulltime bukan paruh waktu tapi dia tetap pada pendiriannya. Dan ketika saya mulai mewawancarainya, hasilnya semua bagus. Maaf kalau saya salah pak" jelasnya.
"Terima dia apapun itu, saya tidak mau kalau sampai dia tidak di terima disini" tegasnya.
"Baik pak" ia langsung pergi meninggalkan atasannya setelah selesai memberitahu itu semua.
Pria itu masih duduk dan membaca laporan-laporan mengenai Son Niko. Ia sedikit senang ketika mengetahui bahwa gadis itu kini kembali dalam hidupnya, tapi di sisi lain. Masih ada banyak dosa yang belum ia tebus pada gadis itu.
Yah, dia Jung Jaehyun, pewaris terakhir keluarga Jung Company. Awalnya dia akan menjadi seorang jaksa meneruskan karir ayahnya namun menjadi CEO itu lebih baik baginya.
• • •
"Untuk nona Son Niko, anda langsung kami terima kerja disini. Dan mulai hari ini anda bisa bekerja sebagai sekretaris CEO Jung" seru petugas yang tadi meng-interview dirinya.
Betapa terkejut dia mendengar hal itu, sampai dia membuka mulutnya karena masih tak percaya.
"Sekretaris Son, anda bisa langsung pergi ke ruangan CEO Jung untuk mengetahui hal-hal lebih lanjut" tambahnya.
"B-baiklah" sahutnya sedikit ragu. Dia keluar dari ruangan tersebut dan berjalan pergi untuk masuk ke ruangan CEO Jung.
Dia berjalan dengan langkah tak bersuara. "Permisi pak, apakah anda memanggil saya?" serunya kepada orang yang tengah duduk sambil membelakanginya.
Jaehyun menarik senyum tipis ketika mendengar ucapan lembut dari gadis yang selalu ia rindukan di hidupnya.
Merasa tidak ada jawaban dari sang atasan. Niko kembali bersuara. "P-permisi pak?"
"Hm?" ia menyahuti dengan berdeham tanpa membalikan posisinya.
"A-anu itu. Saya Son Niko, sekretaris baru bapak"
"Setua itukah saya sampai kamu memanggil saya dengan sebutan bapak?" Jung Jaehyun mulai bersuara dan membalikan kursinya menghadap Son Niko yang langsung menatapnya dengan mata terkejut.
"J-jaehyun?"
Niko mengepalkan tangannya, berharap kondisi Hiperventilasi nya tidak kambuh saat ini.
"Sudah lama kita tidak bertemu Nik"
Nada bicaranya jauh berbeda dengan Jung Jaehyun yang dulu. Kini dia jauh lebih berwibawa terlebih dengan posisinya sebagai CEO.
CEO? Kenapa Niko bisa lupa kalau Jung Company itu adalah perusahaan milik keluarga Jung! Bodoh!!!
"I-iya" gugupnya. "Sebaiknya aku mengundurkan diri saja" tambahnya yang langsung membuat Jaehyun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Niko yang masih mematung.
"Apa maksudmu??"
Gadis itu menghela napas kasar. "Permisi pak"
__ADS_1
Ketika ia hendak membuka pintu, Jaehyun langsung kembali menutupnya dan bahkan dia menguncinya begitu saja. Niko semakin di buat skors jantung terlebih dengan posisi mereka yang sangat berdekatan.
"Siapa yang suruh kamu pergi? Kamu mau mengundurkan diri? Silahkan"
"Tapi kamu harus membayar denda sebesar 50 juta kepada saya" lanjut Jaehyun yang lagi-lagi membuat gadis itu terkejut.
"Apa maksudnya!" bentak Niko.
"Dan juga kamu harur bayar denda karena telah menghindari takdir"
Gadis itu menatap ke arah Jaehyun dengan alis bertaut. "Takdir?"
Ia mengangguk. "Yah, karena takdir sudah mempertemukan kita lagi. Dan ini lah saatnya aku untuk membalas semua dosaku yang telah aku perbuat padamu" katanya.
Gadis itu diam membeku, tak mengalihkan pandangannya dari dua obsidian hitam milik Jung Jaehyun.
"Apa yang kau lihat?" tanya Jaehyun yang membuyarkan pandangannya.
"Tidak! Menjauhlah!" sarkasnya sambil mendorong tubuh Jaehyun yang sedari tadi menghimpitnya di pintu.
"Jangan menghindariku Son Niko"
"Kamu yang pergi! Kenapa kamu mengira bahwa aku yang menghindarimu?!" ia menatap Jaehyun dengan tatapan tajam nya, namun tak dapat di pungkiri bahwa air sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Aku kalut dalam semua kesalahanku, dan takdir mempertemukan kita lagi. Itu adalah kesempatan bagiku untuk menebus semua dosaku" tukas Jaehyun.
"Aku masih menyukaimu sampai saat ini Son Niko" tambahnya yang langsung membuat tubuh kecil itu bergetar hebat.
"J-jangan membuatku kembali terjatuh untuk yang kedua kalinya Jae"
"Aku tak bermaksud membuatmu jatuh Nik" Jaehyun meraih tangan Son Niko yang masih terkepal dan gemetar. "Aku masih mencintaimu" serunya penuh keyakinan.
Tok... Tok.. Tokkk
"Permisi pak, ada client yang sudah menunggumu di ruang meeting" seru seseorang di luar sana.
Niko dengan cepat menghapus jejak air matanya yang hampir menetes.
"Ya, saya akan segara kesana" sahut Jaehyun.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana" ujar Jaehyun padanya.
"T-tap-"
"Aku mohon"
"Baiklah" jawab Niko menyetujui pria itu.
Jaehyun tersenyum kemudian berlalu pergi dari ruangannya. Niko memegang dadanya yang berdetak begitu hebat. "Kenapa takdir bisa mempertemukan kembali aku dengannya?"
"Apa kau sanggup membuka luka lama yang sudah susah payah aku kubur?" tanyanya kepada diri sendiri.
TBC.
.
.
.
__ADS_1