
Ujian akhir semester tengah di mulai, semua siswa/siswi mengerjakan soal demi soal dengan sangat telaten karena tidak ingin menerima hasil yang tidak memuaskan. Dengan tidak elit nya, kelas IPS utama di satukan dengan kelas MIPA utama. Yang tak lain adalah kelas Niko dan Somi.
Somi, gadis itu bahkan sedaritadi menatap tajam ke arah Son Niko yang berada di depan nya. Tak membuat gadis bermarga Son itu gentar, dia fokus kepada soal ujian nya.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, siswa/siswi yang sudah beres mengerjakan langsung mengumpulkan lembar jawabannya ke meja pengawas. Beruntung bagi Son Niko yang mengetahui semua jawaban ini, dengan cepat dia berjalan ke depan dan menyerahkan lembar jawabannya kepada pengawas. Lalu ia pergi keluar kelas, yah karena ia telah beres mengerjakan semua soal.
Sekilas tatapan ia dan Jeon Somi bertemu, gadis itu masih saja menatap dirinya tak suka. Padahal sudah jelas dia dengan Jaehyun tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Tak jauh dari sana tetlihat sosok Taeyong yang berjalan menghampiri Son Niko.
"Gimana ujiannya? Lancar?" serunya.
Niko mengangguk pelan, kemudian berjalan di samping Lee Taeyong. "Ya gitu deh" jawabnya.
Taeyong menoleh ke arahnya kemudian tertawa pelan. "Sekelas sama pacar barunya Jaehyun ye?" serunya.
"Bodo amat!" sergah gadis itu kemudian pergi meninggalkan Lee Taeyong yang tertawa pelan.
Di sisi lain terlihat sosok Jaehyun yang hendak menjemput Somi kekasihnya. Di pikirannya terlintas sosok Niko yang selalu bersama Taeyong.
"Ck ngapain gw mikirin Niko lagi" dengusnya kesal.
Taeyong sedari tadi membuntuti Son Niko bahkan pria itu dengan usilnya menarik rambut Niko yang membuat gadis itu meringis kesakitan.
"IHHH YONG! LO NGAPAIN SIH?! GANGGU GW MULU AHH!" bentaknya sambil mendorong bahu Lee Taeyong.
"Makannya jangan ninggalin gw" timpal Lee Taeyong, meraih tangan Son Niko kemudian menyatukan jari jemari mereka. "Lo mau tau kehebatan dunia kagak?" serunya.
Niko merotasikan bola matanya jengah. "Kehebatan apaan astaga... Lo ribet banget!"
Pria itu mengusap surai lembut miliknya. "Dunia itu hebat"
"Iya apanya yang hebat" ia memaksa dirinya untuk tersenyum lebar di hadapan Lee Taeyong.
"Dunia itu hebat karena udah mempertemukan gw sama lo, dan lo jadi alasan di balik tawa gw meski gw belum bisa buat lo tertawa atau bahkan belum pernah buat lo tersenyum. Lo itu bagian dari cerita kehidupan gw walaupun gw sama lo belum bisa buat kisah bersama." ucapnya yang langsung membuat Niko tertegun.
Demi apa? Bahkan gadis itu meneteskan air matanya. Perasaannya akhir-akhir ini gampang berubah ubah dan tidak menentu. Terkadang dia menjadi orang yang sangat lemah.
"Lah kok lo nangis sat?" sarkas Lee Taeyong, menangkup kedua pipi Son Niko.
"Tau ah! Lo sih" ketusnya, sambil menyeka air mata yang lolos membasahi pipinya.
"Gw cium nih" kekeh Taeyong.
"Dih apaan"
"Ya makannya jangan nangis" ucapnya, mengusap pipi Son Niko.
"lo kenapa suka sama gw?"
"Emang ada alasan buat gw suka sama lo? Nothing" jawabnya kemudian merangkul bahu Son Niko untuk melanjutkan perjalanannya menuju parkiran.
Niko mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil, banyak orang yang mengira sekarang Niko dan Taeyong tengah berpacaran. "Cih mana ada kek gitu" cibir gadis itu kemudian menaikki motor Lee Taeyong dan menaruh lengannya di kedua bahu Lee Taeyong.
"Haha, ada lah. Kan itu gw" serunya sambil memakai helm dan mulai melajukan motornya.
"Nyenye"
Gadis itu tersenyum tipis. "Hyperion apa kabar?" tanyanya.
Taeyong terdiam beberapa saat. "Bubar kali" jawabnya.
__ADS_1
"Lah kok bubar?"
"Ya terus?"
"Nggak sih hehe" kekehnya pelan.
Gadis itu terlihat berpikir, benar juga. Kemungkinan besar mereka bubar meski hanya satu anggota yang tidak sependapat, Jung Jaehyun. Bukan Hyperion lagi namanya kalau cuman bertiga.
• • •
"PAH! PAPAH APAAN SIH!" teriak seorang gadis bersuara nyalang yang datang dari arah anak tangga. Berjalan menghampiri seorang pria yang belum terlalu tua.
"Kenapa papah masih aja jodohin aku sama Jaehyun?! Aku gak suka Jaehyun!" bentaknya.
Pria itu menghela napasnya kasar. "Ini demi bisnis"
"Bukannya papah udah tau kalau om Jung Jinyoung membatalkan perjodohan kita? Kenapa papah masih kekeuh sih!" Lalisa semakin dia buat jengah dengan perilaku papahnya.
"Kamu tau kalau Jung Jaehyun itu pewaris perusahaan Jung Company? Masa depan kamu bakalan cerah kalau kita menjalin hubungan dengan mereka" sergah pria itu sambil menyimpan kembali majalah yang ada di tangannya.
"Tapi aku gak suka Jaehyun! Dan Jaehyun juga udah punya pacar!"
"Siapa?!"
"Jeon Somi" jawab Lisa cepat.
"Jeon Somi? Anak komisaris mana?" tanyanya.
Lisa merotasikan bola matanya, duduk di hadapan papahnya. "Kenapa sih di otak papah isinya komisaris, perusahaan, harta, warisan! Kapan papah mikirin aku!"
"Ini juga demi kebaikan kamu!" bentaknya.
Lisa mengepalkan tangannya kuat, meluapkan semua emosinya yang tertahan. Lisa sama sekali tidak menyukai Jung Jaehyun dari awal. Lelaki keparat itu membuat dirinya dan kekasihnya terpisah, yah gara-gara Jung Jaehyun. Dia dan Lucas memutuskan untuk berpisah.
Mengapa? Karena Jaehyun lebih mapan dari pada Lucas. Latar belakang keluarga. Ck
Lisa mendengus sarkas, membanting pas bunga yang ada di hadapannya.
Prang....
Seketika pas bunga itupun pecah berhamburan. Dan sekarang dia tak tau kemana perginya Lucas, terakhir dua tahun yang lalu papahnya Moon Taeil memaki kekasihnya bahkan memfitnahnya.
Dan dengan sialnya, Jung Jaehyun... Pria itu menolak mentah-mentah dirinya setelah berhasil membuatnya berpisah dengan kekasihnya. Keparat Jung Jaehyun!
Lisa meredam tangisnya, melempar semua barang yang ada di hadapannya. Karena itu lah dia sangat dendam kepada Jaehyun, dia mengusik siapapun yang menjadi alasan Jaehyun bahagia.
Dan motif dia menjebak Niko dulu... Bukan sepenuhnya dia membenci Son Niko, melainkan dia ingin memberi pelajaran kepada Jung Jaehyun. Dan sekarang dengan gampangnya lelaki itu membuang Niko begitu saja. Padahal Lisa tau, Niko mencintai pria keparat itu dengan sungguh. Bukan singgah seperti Jeon Somi si anak pengurus kebun itu.
"Gw bakalan buat lo menderita lagi Jaehyun, liat aja" geramnya dengan tangan yang masih terkepal kuat.
• • •
"Isssshhh Taeyong! Lo ngeselin banget ahh! Mati lo mati!" gerutu Niko sambil mendorong tubuh Lee Taeyong.
"Ya makannya tinggi dodol!" cetusnya ikut kesal, dalam hati dia tertawa menang.
Taeyong kembali memantulkan bola basketnya ke aspal lapangan olahraga. Niko, gadis kecil itu mencoba merebut bola basket dari tangan Taeyong namun tetap saja usahanya sama sekali tidak ada yang berhasil.
Tap tap tap
Suara pantulannya semakin terdengar.
__ADS_1
"TAEYONG!" gerutu Niko yang mulai kehabisan kesabarannya. Gadis itu menarik tangan Lee Taeyong yang memegang bola basket. Tapi dengan cepat pria itu melompat dan memasukan bola basketnya kedalam ring yang ada di belakang Son Niko.
"Yes!" seru Lee Taeyong sangat antusias.
Gadis itu semakin di buat kesal, dia berjongkok malas, memeluk kedua lututnya seperti anak kecil. Taeyong mengikuti dirinya dan ikut duduk di atas aspal lapangan. Menatap ke arah gadis yang tengah menekuk wajahnya kesal.
Taeyong menarik pipi kiri Son Niko yang langsung membuat si empu berteriak sangat kesal. "LEE TAEYONG! HUAAAA!"
"Mampus" umpatnya kemudian tertawa. Ia menidurkan dirinya, menjadikan tangan nya sebagai bantalan. "Cape gak?"
"Cape lah" jawabnya sedikit jutek.
"Marah?"
"Nggak, siapa yang marah" cetusnya.
"Terus?"
"KESAL!!" bentaknya.
Taeyong menutup telinganya reflex. "Astaga" cibirnya.
Gadis itu ikut menidurkan dirinya di lapangan, mengambil tas ransel milik Lee Taeyong yang ia jadikan sebagai bantalan. Menatap langit yang tengah menampakan sang senja. Surya yang perlahan meredup dengan awan yang sedikit berwarna oren bercampur merah muda. Terlihat sangat indah untuknya.
"Yong kalo gw senja lo jadi apa?" serunya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
Taeyong menoleh ke arah gadis itu kemudian ikut menatap ke arah langit dengan berjuta keindahannya. "Kalo lo senja gw langitnya"
"K-kenapa langit?"
"Karena gak bakalan ada senja kalau gak ada langit" jawabnya.
Niko meneguk ludahnya pelan, ini jawaban yang jauh dari nostalgianya. "Kenapa lo gak jadi fajar aja?" tanyanya lagi.
Taeyong mendecak pelan. "Lo gila? Senja bakalan pergi kalau fajar datang, dan fajar bakalan pergi kalau senja tiba. Kapan bersatunya" cibir pria itu, dengan mata terpejam.
Gadis itu menarik senyumnya, menatap lamat-lamat ke arah Lee Taeyong. Dia baru menyadari bahwa pria yang kini tengah berada di sampingnya ini adalah pria yang tampan.
Hidung runcing, kulit putih, bibir tipis, lekuk wajah yang bisa di katakan sempurna dan juga rambut coklat legam. Yah dia telah mengubah warna rambutnya.
Gadis itu mengulurkan tangannya, mengusap hidung mancung milik Lee Taeyong dengan telunjuknya tanpa ragu. Taeyong yang merasakan sentuhan lembut itu menarik senyum di sudut bibirnya, menahan tangan Son Niko untuk tetap menyentuh kulit wajahnya.
"E-eh" kagetnya.
Taeyong mengusap tangan mungil milik Niko, memegangnya di atas dada bidangnya. "Jangan bilang lo udah suka sama gw Nik" tudingnya.
Niko membulatkan matanya. "APANYA?! NGGAK YA!" bentak Niko, menarik kembali tangannya. Kemudian berdiri dan membersihkan baju seragamnya.
"Haha santai" tawa Taeyong kembali pecah. Dia ikut berdiri di samping Son Niko. Mengambil tas miliknya kemudian memakainya. "Pulang sekarang?"
"Hum!" ia mengangguk antusias.
Taeyong kembali merangkul bahunya, berjalan secara bersamaan seperti layaknya seorang teman dekat, adik kakak atau bahkan seorang kekasih. Niko juga tak ragu lagi dengan Lee Taeyong, dia sangat percaya padanya melebihi ia percaya pada dirinya sendiri.
TBC.
.
.
.
__ADS_1