»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.15


__ADS_3


"Karena pada dasarnya janji itu adalah hal yang sering di ingkari" - Son Niko.


-----


"LO PIKIR GW BARANG HAH?!" bentak Niko, mendorong tubuh Taeyong.


"Eh *****! Diem! Kalo jatoh gimana?" dengus Taeyong, menahan tangan gadis yang sedari tadi mengoceh di hadapan nya.


"Lo sih ngeselin" geram gadis bersurai coklat legam itu.


"Iye bawel"


"Dih?!"


"Apa? Fakta kalo lo bawel, buktinya lo dari tadi gak pernah diem" ucapnya dengan nada sedikit mengejek.


"Sialan lo Lee Taeyong!"


"Soal poto lo yang di web" ujar lelaki itu yang kini membuat Niko diam seketika.


"A-apa?"


Taeyong menarik senyumnya. "Gw suka gaya lo"


Bukkhh


Niko meninju bahu Taeyong sangat keras, gadis itu berdiri dan menjauh dari tepi atap. "Maksud lo apaan?!"


Terdengar suara tawa kecil Lee Taeyong yang membuat Niko kesal setengah mati akan manusia aneh di depan nya. Taeyong mengikuti langkah Niko, menepuk-nepuk celana nya yang kotor. "Gw tau itu bukan lo" ucapnya.


Gadis itu menoleh cepat ke arah Lee Taeyong. "Maksud lo?"


Taeyong tersenyum, memasukan kedua tangan nya kedalam celana sekolahnya. "Lo punya twins?"


"Twins?" alis gadis itu terlihat menukik, berusaha mencerna pertanyaan dari lee Taeyong.


"Yah, twins, semacam kembaran? Saudara yang mirip sama lo or lo emang punya saudara kembar?" tebaknya menerka-nerka.


Niko menendang kaki Lee Taeyong. "Gila ya lu! Gw anak tunggal" decaknya kesal.


"Nama lo siapa sih?" tanya Taeyong kesal, mengusap kaki kanan nya.


"Son Niko"


"Marga?"


"Son"


"Nama bokap lo?"


"Kim Myungsoo"


Taeyong membelalakan matanya. "Hah? Apa?"


"Kim Myungsoo, kenapa sih?!" ulangnya kesal.


"Kim? Berarti marga lo harusnya Kim dong bukan Son?" celoteh Taeyong dengan tebakan nya.


Niko terdiam di tempat, benar juga kenapa bisa ia bermarga Son padahal marga ayah nya Kim. "Y-ya mana gw tau"


"Nama nyokap lo?"


"Kim Taeyeon"


"Sama-sama kim dong? Terus kok lo Son sendiri?" ujarnya.


Niko menggedikan bahunya. "I dont know" ucapnya pelan.


"Nyokap bokap lo gak bilang asal usul marga lo apa? Atau semacam nya?"


"Udah napa! Gw gak mood bahas itu!" bentaknya, menatap tajam ke arah Taeyong.


Di lihatnya sosok gadis bermarga Son itu yang pergi meninggalkan nya. Taeyong terdiam mematung dengan beribu pertanyaan dan bermacam-macam jenis tebakan akan gadis yang sekarang tengah menghilang dari pandangan nya.


"Son? Kim?"


"Ahh ***** napa lebih rumit dari soal matematika" decaknya.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya, menekan salah satu nomor dari salulernya.


"Hallo? Iya ini gw, Taeyong. Soal chip kemarin lo kirim aja langsung ke rumah gw" ujarnya kepada seseorang yang ada di sebrang telepon.


"Yaya, nanti gw bayar santai"


Laki-laki bersurai merah menyala itu mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar dari lawan bicaranya.


"Yah oke, thanks atas kerjasama nya. Biar gw yang handle semua nanti"


"Yoi bro"


Finalnya, lantas ia turun dari arah atap. Memutuskan untuk pergi ke kelasnya, masa bodoh dengan pelajaran yang tengah berlangsung, ia menerobos masuk tanpa permisi.


Jaehyun menatap kedatangan nya dengan tatapan tajam dan alis yang menukik, raut wajah horror itu tak pernah membuat seorang Lee Taeyong tunduk padanya. Karena bagaimanapun, Taeyong lebih di atas dari Jung Jaehyun.


...❖❏❖❏❖...


Shuhua sedari tadi tidak bicara, bahkan anak itu kini tengah menghindar dari Niko. Semua orang di kelas juga menjauhinya, terkecuali Jungkook dan Ryujin.


Ia paham benar Shuhua tengah marah padanya, soal poto Kun yang sedang berpelukan dengan perempuan yang Shuhua yakini itu adalah dirinya.


Niko menghela napasnya perlahan, teringat akan ucapan Taeyong yang membahas soal 'Marga' keluarganya. Benar juga, kenapa nama nya Son Niko, bukan Kim Niko?


Gadis itu menggeleng cepat, kembali mencatat rangkuman materi yang telah di berikan oleh guru yang sedang menulis materi di papan tulis.


"Siswi bernama Son Niko, di panggil ke ruang Kepala Sekolah" ujar salah satu siswa yang baru saja datang, berbicara di ambang pintu kelas.


Niko mengerjap polos, berdiri dengan ragu. Kemudian ia menghampiri siswa yang ia yakini anak Osis itu. Berjalan ke arah ruang Kepala Sekolah sendiri.


"Permisi" ijin nya sebelum masuk kedalam ruangan.


"Ya, silahkan masuk" ucap pria separuh baya itu.


Niko mengangguk kemudian duduk di kursi yang tersedia, di hadapan meja kepala sekolah.


"Son Niko, kamu siswi yang telah mencemarkan nama baik sekolahan. Soal poto kamu yang menyebar luas di web sekolah dan publik membuat sekolah ini berstatus buruk saat ini"ucapnya, menatap ke arah Niko dengan tatapan datar namun mampu membuat siapapun yang menatapnya menjadi bungkam.


"Tapi pak, itu bukan saya" ujarnya membela diri.


"Mau itu kamu atau bukan, yang pasti itu menyangkut nama kamu dan nama baik sekolah."


"M-maaf"


"Pak itu bukan saya"


"Diam. Siapa yang menyuruhmu angkat bicara?" tegasnya, gadis itu menundukkan kepalanya.


"Kamu tau? Sekolah kita yang tadinya baik-baik saja kini menjadi buruk, bahkan jauh dari kata baik. Kalau gosip ini semakin menyebar luas, saya tidak segan-segan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah"


Niko membulatkan matanya. "Pak, saha mohon, jangan keluarin saya dari sekolah"


"Kalau kamu bisa membuktikan bahwa poto itu bukan kamu, dan kamu bisa membuat nama sekolah kita menjadi baik kembali, saya akan jamin kamu tidak akan kenapa-kenapa. Tapi kalau gosip ini terus-terusan menyebar ke publik, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluarkan kamu" ucapnya dengan pengakhiran yang tidak mengenakan.


Gadis itu mengangguk pelan. "Beri saya waktu, saya tidak bersalah karena itu bukan saya. Permisi" ucapnya lantas pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.


...❖❏❖❏❖...


"Hmm Niko" panggil Qian Kun.


"Iya? Kenapa?"


Kun mencium bibir gadis yang berada di hadapan nya. "Thanks" ucapnya dengan senyuman yang menyertai bibirnya.


Gadis itu tersenyum. "Makasih? Kenapa?"


"Udah mau nemenin gw seharian"


"Oh, tentu" kekehnya.


Qian Kun yang tertidur di pangkuan nya, membuat gadis itu tersenyum menang karena rencana nya berhasil. Mereka tidak melakukan apapun, hanya menghabiskan waktu bersama di manssion Qian Kun.


Tangan gadis itu bergerak, mengusap sudut bibir laki-laki yang tengah terlelap di pangkuan nya. "Kenapa lo milih Jaehyun?" seru Qian Kun, membuka matanya dan menatap ke arah gadis itu.


"Hanya untuk bermain-main" ujarnya lembut.


Kun tersenyum, mengusap pipi si gadis. "Kenapa gak sama gw aja hm?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Gw udah lama suka sama lo Nik, cuman yang bisa gw dapetin itu Shuhua. Bukan lo" ujarnya.


Gadis itu tersenyum tipis. "Dengan kata lain Shuhua pelampiasan lo?"


Kun mengangguk.


Bodoh, terjebak dengan begitu mudah


Batin gadis itu. Kun beranjak dari tidurnya, duduk di samping Niko. "Yah" jawabnya.


Senyuman di gadis itu kembali nampak, membuat Qian Kun benar-benar terpukau akan kecantikan nya. "Really?"


Di balas dengan anggukan dari laki-laki di hadapan nya.


...❖❏❖❏❖...


Seseorang tengah bersandar di gerbang rumah Niko, menunggu si pemilik rumah itu datang. Dia Jung Jaehyun.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama akhirnya dia melihat kedatangan Niko yang tengah berjalan sendiri dengan langkah gontainya. Dia mendengus kesal karena melihat jaket jeans milik Taeyong yang masih di pakai oleh gadisnya.


Seakan dia tak melihat sosok Jaehyun, gadis itu membuka pintu pagarnya dan masuk tanpa menoleh kesisi manapun, antara melamun dan pura-pura tidak melihat.


Jaehyun ikut masuk kedalam rumahnya, tanpa di sadari oleh si pemilik rumah. Helaan napas kasar sang gadis, terdengar begitu parau, gadis itu melempar tasnya sembarang ke arah sopa. Membuka jaket milik Taeyong yang sedari tadi melekat sempurna di tubuhnya.


"Son, Kim" gumam si gadis yang membuat Jaehyun yang berada di belakangnya, tidak mengerti.


Gadis itu melepas sepatunya dan menundanya di rak sepatu ruang tamu. Dan oh sial!


Dia juga membuka seragam nya di depan Jaehyun yang berada di belakangnya. Dengan cepat laki-laki itu memeluk tubuh Niko dari belakang, menghentikan perbuatan gadisnya.


Niko tersentak kaget ketika seseorang memeluknya dari belakang. "Jangan di buka, gw belum siap" ucapnya. Suara yang sangat di kenal oleh Niko.


"J-jaehyun?" serunya.


"Hm" gumam si empu, memeluk erat tubuh gadisnya. Seberapapun dia kesal dan marah kepada Niko, gadis ini tetap pacarnya dan dia sangat marah ketika laki-laki lain menyentuh miliknya.


"K-kenapa di sini?" tanyanya ragu.


"Hanya memastikan"


"Mastiin apa?"


"Lo gak selingkuh"


Bukhh


Niko menyikut perut Jung Jaehyun yang sekali hentakan membuatnya terhuyung ke belakang. "PERGI LO DARI SINI!" bentak Niko sangat kesal, kembali mengancingkan seragam atasnya.


"Ahh *****. Apa maksud hah? Lo ngusir?"


"Kalo iya kenapa?!"


"Ck" dia mendecak kesal. Menarik tangan Niko keras, membantingkan tubuh Niko ke tembok dan langsung ia himpit meski tidak terlalu dekat, masih ada jarak di antara mereka.


"Mau lo apa sih? Belum cukup lo hina gw tadi pagi? Belum cukup lo buat gw nangis hah?! Pergi jae, pergi" isaknya dengan mata yang kembali berair.


Jaehyun menghela napasnya kasar. "Gw bingung, gw antara percaya gak percaya sama hal itu. Gw bingung Nik!" bentaknya membuat Niko memejamkan matanya.


Ia menarik tubuh Niko, memeluk gadisnya erat. "Sorry" gumamnya.


Gadis itu kembali terisak di pelukan Jaehyun, balas memeluknya erat. "Berapa kali gw harus bilang, itu bukan gw Jae" isaknya.


Jaehyun mengangguk pelan, mengusap rambut gadisnya. "Iya Nik iya, jangan nangis lagi" ucapnya.


Ia menangkup wajah Niko, menatapnya sendu. Kalau kalian ada di posisi Jaehyun, pasti kalian akan melakukan hal yang sama dengan nya.


Jaehyun mencium bibir cherry milik gadisnya, membiarkan keduanya saling menempel tanpa melakukan hal lebih dari itu. "Gw sayang lo" ucapnya.


Gadis itu mengangguk dan kembali memeluk tubuh Jung Jaehyun. "Semoga bakalan tetep sama seperti itu" ucapnya parau.


"Gw janji, hal itu bakalan tetep sama" tegas Jaehyun.


Niko memejamkan matanya, membiarkan Jaehyun menciumi keningnya.


"Karena pada dasarnya janji itu untuk di ingkari" ucap Niko pelan.


TBC.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2