
Gadis itu memakan makan malamnya seperti biasa. Dia menatap sang ibu lamat-lamat, kemudian mengalihkan pandangannya ketika sang ibu balas menatapnya. Dia menunduk dalam diam, kenapa bisa dia melupakan hal terbesar yang terjadi pada kehidupannya. Dimana kedua orang tuanya meninggal akibat kebakaran apartement kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.
Memakan nasi goreng kimchi yang di buat oleh sang ibu, dia kemudian mendongak. "Bu" ujarnya pelan.
"Iya, kenapa sayang?" sahutnya.
Ia terdiam, mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya. "Eum di kehidupan ibu yang sekarang, apa ada hal atau sesuatu yang pernah menjadi rahasia terbesar bagi diri ibu?" serunya sedikit ragu. Menghabiskan semua makanan yang berada di piring nya.
Sang ibu terlihat terdiam, lantas tersenyum dengan antusias. "Setiap orang pasti mempunyai sebuah rahasia, dan mereka punya alasan tertentu untuk merahasiakan hal itu" ucapnya, mengusap pucuk rambut gadis remaja di hadapannya.
Ia mengangguk pelan. "Kalau pada suatu saat rahasia itu terbongkar. Anu, bagaimana reaksi ibu?"
Dia menghela napasnya lirih, masih menampakkan senyum di lekuk bibirnya. "Itu sudah jalan tuhan yang di takdirkan untuk kita, dan apapun yang terjadi pasti ada hikmahnya. Tidak semua rahasia dapat menjadi rahasia, terkadang rahasia itu bersifat sementara nak" katanya.
"Kalau di dunia tersisa dua pilihan, memilih jujur atau berbohong. Ibu memilih yang mana?"
"Hem ibu bakalan pilih sesuai keadaan, kalau saat itu memungkinkan untuk jujur maka ibu akan memilihnya begitupun sebaliknya. Kenapa kamu bertanya seperti ini? Tidak seperti biasanya" ia tertawa pelan, menatap ke arah Son Niko yang malah nyengir tanpa dosa.
"Ehe, jadi ibu kapan bakalan jujur ke aku, soal ayah?" celotehnya, yang langsung membuat wanita yang lebih tua darinya itu tersedak.
"Uhuk" ia terbatuk, Son Niko memberinya air putih.
"A-ah maaf bu, ini minum dulu" serunya.
Wanita bernama Kim Taeyeon itu terdiam, menatap lamat-lamat ke arah dirinya. Di raihnya salah satu tangan gadis remaja yang berada di hadapan nya. "Kamu pasti tau dari Taeyong kan?"
Niko mengulum bibirnya, lalu ia mengangguk pelan. "Iya, aku tau dari dia. Kenapa ibu gak bilang soal ini?"
Ia tersenyum. "Gadis sebaik kamu dan setulus kamu, gak boleh tau soal hal yang menyakitkan dan tak enak di dengar seperti ini. Jujur saja nak, ibu sangat menyayangi dan ibu tidak mau kamu terluka karena mengetahui kebenaran ini"
"Nggak bu, aku gak bakalan terluka soal ini, aku gak bakalan marah atau apapun sama ibu. Karena ibu tetaplah ibuku, ibu yang selalu berada di sampingku. Meski aku pada kenyataannya bukan siapa-siapa" isaknya dengan air mata yang langsung lolos dari pelupuknya.
"Hei, ibu lebih suka di panggil mamah olehmu" cibir wanita itu.
Gadis yang tengah terisak itu memaksa untuk tersenyum, berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Kim Taeyeon, memeluknya erat. "Mamah bisa aja hiks. Mah... Aku pengen ketemu mereka" ujarnya, masih memeluk tubuh Kim Taeyeon.
"Kamu mau kesana? Taeyong akan menjemputmu besok sore" serunya.
Niko terdiam. "Mamah kenal Taeyong darimana?"
"Lhoo kan dia sepupu kamu, yah meski sepupu sambung. Ah entahlah mamah gak tau" kekehnya.
"Idihh" cibir Son Niko, menghapus jejak air matanya.
"Taeyong banyak bantu kamu, dari dulu dia selalu ngikutin kamu kemanapun" ujar Kim Taeyeon, mengusap pucuk rambut Son Niko.
Gadis itu membulatkan matanya, "ahmasa sih mah? Ngapain dia ngikutin aku? Segabut itu?"
"Ya namanya juga cinta" godanya.
__ADS_1
"EH?! KOK? Mahh apaan sih!!" gerutu gadis itu, menjauh dari pelukan sang ibu.
"Dia juga cerita sama mamah soal kamu yang putus sama Jaehyun"
"Hah?? S-siapa yang putus?? Nggak ada!" tukas nya tidak terima.
Kim Taeyeon memakan kimchi di sumpitnya. "Lah itu kata Taeyong apa?"
"Bohong kali"
"Kalo bohong kenapa Jaehyun gak main ke rumah lagi?"
Gadis itu terdiam, menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. "Y-ya sibuk nyiapin diri buat ujian minggu depan mah, kan mepet" elaknya beralasan.
Wanita itu berdeham. "Ekhem, sekarang siapa yang bohong?"
"Eeh??"
"Niko, mamah tau betul siapa kamu. Dan mamah juga kenal sama ayahnya Jung Jaehyun, jaksa Jung Jinyoung kan?"
Ia semakin diam.
"Nak, mamah juga tau kalau Jaksa Jung menjodohkan Jaehyun sama gadis pilihan keluarga mereka-"
"Mah udah" potongnya, menyambar begitu saja tanpa ijin siapapun, gadis itu langsung pergi kedalam kamarnya, menutup pintu kayu itu sangat rapat. Terduduk di lantai, menyenderkan tubuhnya ke pintu tersebut.
"Hah..." helanya kasar. Ia merogoh saku celana dan mengambil ponselnya. Sudah lama dia tidak berkomunikasi dengan Jaehyun, dia sangat merindukan pria itu. Sungguh.
"Gak ada harapan lagi kah, buat kita memperbaiki hubungan ini, Jae?" ucapnya lirih. Mematikan ponselnya.
• • •
"Gw dah tau lokasi tempat tinggal Kim Taera" suara Kun terdengar saat memasuki rumah Lee Taeyong, ruang bawah tanah tempat khusus yang ada di rumah keluarga Lee.
"Dimana?" sahut Kim Doyoung.
"Lokasinya bukan di Seoul sih tapi di Itaewon" ucap Qian Kun terlihat ragu.
Lee Taeyong mendengus geli. "Lo tau mak lampir? Tuh cewe ada dimana-dimana, dari pelacak yang gw temuin dia gak jauh dari sini. Masih daerah Seoul, kalo Itaewon itu tempat pelarian dia" jelas Lee Taeyong.
Qian Kun nyengir kuda, menggaruk lehernya. "Lo lebih cocok jadi detektif daripada jadi ketua geng Hyperion" celahnya.
"Wohoo bawa-bawa partai woe!" teriak Nakamoto Yuta yang baru saja datang bersama Winwin.
Kim Doyoung dan Qian Kun terlihat terkejut pasalnya Taeyong tidak memberitahu keberadaan dua anak geng Hyperion. "Lah ngapain lo pada?" ketus Taeyong.
"Ya ***** lo kalo ada misi menyelamatkan dunia kek gini lo gak ngajak-ngajak, setan" umpat Winwin, melempar soda ke arah Taeyong.
"Yeuh ngegas si dugong" decak Taeyong, reflex menangkap soda tersebut.
__ADS_1
"Jadi rencana kita selanjutnya apa?" tanya Kim Doyoung yang paling kalem disana.
Yuta memberikan sebuah Chip kepada Taeyong. "Noh gw dapet dari Kim Mingyu, mantan nya Niko. Kata dia ada bukti rekaman percakapan dia sama Kim Taera" ujar Nakamoto Yuta. Siapa yang tau kalau Yuta dan Mingyu saling mengenal.
"***** Mingyu siapa lagi" seru Qian Kun yang merasa pusing akan hal ini.
"Mantan ***" sahut Winwin, mengusap rambutnya yang masih basah. Maklum baru mandi.
"Mantep nih" kekeh Taeyong.
"Kepala sekolah bakalan ngeluarin Niko lebih cepet kalau kita masih lama bertindak" ujar si Ketos. "Gw kemarin nanya ke kepala sekolah soal Web yang nyebar itu, udah nyampai beribuan viewrs nya" lanjutnya, sambil menunjukan web yang menjadi pusat masalah dan benar saja. Berita itu telah menyebar keluar sekolah.
"Btw mana si Jaehyun?" seru Winwin yang tidak melihat keberadaan Jung Jaehyun.
Taeyong mendengus geli. "Lo pikir cowo playboy kek dia mau ngurusin satu cewe? Dia sama si Lisa noh" tukasnya sedikit jiji mengatakan kata 'playboy' itu.
"Wah bener-bener" timpal Yuta tidak menduga.
"Doy, gw minta lo jaga Niko mulai besok. Biar kita berempat yang turun tangan buat ngungkap kejahatan Taera sama Lisa, dan soal tempo lalu yang Niko ke kurung di kamar mandi itu juga ulah Lalisa" seru Taeyong.
Kim Doyoung membalas dengan anggukan. "Yah, itu urusan gampang. Tapi lo yakin kalau bukti ini cukup? Kalau nanti Kim Myungsoo ikut turun tangan gimana?"
"Kim Myungsoo? Kakaknya nyokap lo kan Yong?" sahut Yuta, menebak.
Taeyong menggumam. "Hemm iye"
"Kalau masalah Kim Myungsoo, bokap gw bakalan bantuin kita. Soalnya tuh aki aki udah nipu perusahaan nyokap gw. Dan gelapin sebagian uang negara" decak Lee Taeyong.
"Bentar ini gw yang blegug atau karena tugas kita yang tadinya pengen bantu bersihin nama baik Niko jadi malah nyebar kemana-mana? Atau apa? ***** gak paham" suara Kun kembali terdengar.
Winwin yang berada di sampingnya langsung menjitak kepala laki-laki yang sedari tadi menyimak namun tidak pernah paham itu. "Lu kalo makan empe asi jangan di tambahin bubuk micin dah. Jadi ngawur kan lu" dengusnya.
"Kagak gitu konsepnya dodol" dumel Qian Kun tidak terima.
"Alah alasan"
Taeyong melihat ke arah jam tangan hitam yang berada di tangan kirinya. Dia bergegas mengambil jaket denim warna hitam dan langsung memakainya. "Weh gw harus jemput Niko dulu" serunya.
Doyoung mengerutkan keningnya. "Mau kemana?"
"Altar" sahut si empu, pergi tanpa permisi meninggalkan mereka berempat yang berada di salah satu ruangan rumahnya.
"Ngada-ngada *****" dengus mereka yang mendengarkan. Tidak dengan Kim Doyoung yang hanya bisa menghela napas pasrah.
TBC.
.
.
__ADS_1
.