»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.27


__ADS_3

Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong melihat ke arah dua pohon besar yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Dua pohon yang menjulang tinggi ke atas di tepi danau yang terasa sangat sepi dan sejuk. Ia mengepalkan tangannya yang sudah bergetar sedari tadi.


Taeyong yang sedari tadi memerhatikan gadis itu dari belakang hanya bisa menghela napas lirih, berjalan menghampiri gadis yang masih berdiri dengan kaku disana.


Ia meraih tubuh kecil Son Niko dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.


"Yong... Indah ya" kekeh gadis itu, berada dalam dekapan Lee Taeyong.


Taeyong mengerutkan keningnya tidak mengerti akan maksud gadis ini. "Apanya?"


"Indah... Gw hidup di dunia sendirian haha" tawanya semakin pecah.


Yang mendengarnya merasa iba, bahkan tak enak hati ketika mendengar tawa gadis tersebut. Taeyong memegang kedua bahu Son Niko. Mendaratkan bibirnya tepat di bibir Son Niko, dan langsung membuat gadis itu bungkam seribu bahasa.


Taeyong memejamkan matanya, begitupun dengan Son Niko yang kini malah menangis tanpa suara. Ia memeluk Lee Taeyong erat, bersembunyi di dada bidang pria yang ada di hadapannya. Tubuhnya mulai bergetar hebat, isak tangisnya mulai terdengar.


"Gapapa, semua bakalan baik-baik aja. Jangan nangis, sumpah gw gak bisa liat ini" dengus Taeyong. Mencium pucuk rambut Son Niko dan makin mempererat pelukan antara keduanya.


Ia masih bungkam, hanya bisa terisak dan meremat jaket denim Lee Taeyong. Taeyong menghela napas panjang, menangkup wajah Son Niko yang sudah basah akibat air matanya. Hidung yang tadinya berwarna kuning langsat sekarang berubah menjadi merah.


"Dengerin gw, gak ada yang perlu di tangisi sekarang. Semuanya udah terjadi, hidup itu buat jalani bukan untuk di tangisi apa lagi di sesali. Jadi gw minta berhenti nangis"


Seolah perkataan itu menyambar ke ulu hatinya, membuat ia semakin tersayat akan perkataan Lee Taeyong. "T-tap--pi h-hiks"


Cuaca yang sedari tadi sudah mendung kini dengan jelas menampakan awan kelabunya. Gerimis mulai menuruni kota Seoul tanpa permisi atau bahkan memperdulikan beberapa orang yang tengah berkunjung di pemakaman.


"Sialan napa hujan sih" gerutu Lee Taeyong, menghindari hujan dengan cara menepis-nepiskan tangan nya ke udara. Seperti orang yang tengah menghindari serangga yang siap menyerang dirinya.


Gadis itu terkekeh pelan, dia tak habis pikir dengan perilaku Taeyong yang sebodoh ini.


"Nah sekarang malah ketawa! Demen banget ya lo liat gw menderita!" ketus lelaki itu, membuka jaket denimnya dan menjadikannya sebagai pelindung dirinya dan Son Niko.


"Ya abisnya lo aneh, masa hujan turun lo usir kek orang yang lagi ngusir serangga" dia kembali tertawa pelan, dengan suara yang sedikit tersumbat.


Taeyong merotasikan bola matanya jengah, dalam hati dia berterimakasih karena berkat kebodohannya ini Niko berhenti menangis.


"Yaudah lah ayo neduh, nanti basah" celotehnya.


Gadis itu menggeleng. "Kata orang hujan itu berkah, dan hujan itu pertanda bahwa kebahagian lebih buruk daripada penderitaan" seru si gadis, masih diam di tempat.


"Alah kebanyakan ngegosip lo jadi gini" decak Taeyong.


"Dih apasih" cibirnya pelan.


Taeyong menarik tangannya membuat ia sontak kaget dan mengikutinya untuk berlarian. Awalnya Niko kira Taeyong bakal menyeretnya untuk pulang, tapi laki-laki itu malah mengajaknya untuk bermain bersama hujan.


Keduanya saling tertawa, menikmati setiap tetesan hujan yang membasahi diri mereka. Menikmati lantunan irama suara alam yang terdengar, suara gemuruh hujan yang menyatu dengan tetesan air yang terjatuh melalui dedaunan.


Taeyong menarik tubuh gadis itu, mengangkatnya ke atas, dengan rasa antusias Niko melebarkan kedua tangannya seperti seorang anak yang berlaga akan terbang ke atas langit. Tawanya pecah, dia bersyukur. Sangat.

__ADS_1


Lee Taeyong, entah siapa dia. Teman, sahabat, sepupu, saudara atau bahkan apapun itu. Niko akan berterimakasih kepadanya karena dia selalu membuat kisah baru yang tak di nantikan olehnya. Lee Taeyong, terimakasih telah membuat gadis biasa sepertinya kembali menoreh senyum di atas luka lama yang baru saja terbuka.


• • •


"LEPASIN GUA SIALAN!" teriak gadis itu, memberontak sedari tadi ketika keempat anak laki-laki itu berhasil menangkapnya.


"Lo ya! Bisa diem kagak?! udah nipu gua juga" geram Qian Kun kepada Kim Taera yang menipunya beberapa waktu lalu. Yah bahkan karena gadis ini hubungan persahabatan mereka hampir hancur.


"Brisik banget lo berdua dari tadi gw simak gada henti-hentinya" celoteh Winwin, yah dimana ada Kun yang berbicara pasti ada Winwin yang siap mengomel padanya. Seperti itulah mereka.


Sedangkan Yuta dan Doyoung lebih memilih untuk tidak meladeni mereka. Keduanya sibuk untuk mengumpulkan beberapa bukti lagi setelah mereka berhasil menangkap dan menginterogasi Kim Taera.


Dan, nama Lalisa tersangkut tentunya.


"LO PADA MAU APA HAH?! NGAPAIN KALIAN BANTU SI ANAK PUNGUT ITU?! DI BAYAR BERAPA LO SEMUA?!" racau gadis tersebut.


"Alah bacot lo kaleng rombeng" dengus Qian Kun, memasukan setengah donat kedalam mulut Kim Taera.


Demi tuhan, perlakuan Qian Kun yang satu ini dapat membuat mereka tertawa. Bahkan Yuta, laki-laki itu sampah terbahak dan terjatuh dari kursinya. Yah mereka ada di ruang bawah tanah Lee Taeyong.


"NGAKAK WOE!" - Yuta.


"Faghh! Haha!" - Winwin.


"Haha ada-ada aja" - Kim Doyoung.


Kim Taera merotasikan bola matanya, memilih untuk menatap ke arah lain. Yuta berdiri dari jatuhnya, kembali duduk di atas kursi dengan benar.


Mendengar nama Kim Mingyu di sebutkan, Taera dengan cepat menoleh ke arah Yuta dengan alis yang menukik tajam. "Yah Mingyu, Kim Mingyu mantan nya Son Niko yang lo ajak kerjasama itu, sebenernya dia cuman mau ngejebak lo doang" tawa nya terdengar.


"APA MAKSUD LO?!" sarkas gadis itu, meludahkan donat yang sedari tadi berada di mulutnya.


"Lo suka kan sama Mingyu? Makannya lo manfaatin cara ini biar deket sama Mingyu. Eh taunya Mingyu balik manfaatin lo" itu suara Lee Taeyong yang baru saja datang bersama Son Niko.


Semua yang ada disana langsung menatap ke pusat sumber suara, mereka sudah mengganti bajunya. Dan kini Niko memakai baju Hoodie kebesaran milik Taeyong.


Napas Niko tercekat ketika melihat sosok gadis yang tengah di ikat, duduk di kursi dengan keadaan yang sangat acak-acakan. "E-lo?" seru Son Niko, melangkah menghampiri gadis tersebut.


"APA HAH?!" bentaknya sangat sarkas yang membuat gadis di hadapannya tersentak ke belakang untung saja ada Doyoung yang menahan tubuh Son Niko dari belakang.


"K-kak, kakak" gugup Niko, masih menatap sendu ke arah Kim Taera yang balas menatapnya dengan tatapan tajam.


Ia menoleh sekilas ke arah Kim Doyoung yang memegang kedua bahunya. Kemudian beralih kembali menatap ke arah Kim Taera, perempuan yang terlihat dua tahun lebih tua darinya.


"Kakak kenapa lakuin ini?" tanyanya pelan.


Taera mendecih pelan. "Jangan sok lugu lo, lo yang rebut semuanya dari gw! Lo yang rebut nyokap gw! Dan lo yang rebut Kim Mingyu dari gua!" gadis itu meneriaki Son Niko.


Sebentar...

__ADS_1


Nyokap?


Niko mengerutkan keningnya, dia telah mengenal Kim Taera waktu ia masih SMP dan saat itu Taera adalah kakak kelasnya yang menyukai Kim Mingyu pacarnya. Dia mengetahui itu... Tapi soal 'nyokap' dia masih belum memahaminya.


"N-nyokap?" tanyanya dengan alis bertaut.


Taeyong menghela napasnya pelan, memilih untuk duduk di samping Winwin.


"YA! LO REBUT NYOKAP GW DARI GW! KIM TAEYEON ITU NYOKAP GW! BUKAN NYOKAP LO! DASAR SAMPAH! ANAK PUNGUT!" bentaknya, menyumpah serapahi Son Niko.


"Jaga bicara lo" sarkas Kim Doyoung.


"Lo gak usah ikut campur!" pekiknya.


"Kak! Gw gak tau soal itu!" kini Niko memberanikan diri untuk balas membentak.


"Halah mau nyangkal apa lagi lo sampah?!"


"Sampah teriak sampah" tawa Lee Taeyong terdengar. Ini kedua kalinya ia mengatakan kalimat itu.


"Maaf, tapi gw emang gak tau soal itu. Dan yah, kalau lo gak mau gw ngerebut nyokap lo, terus kenapa keluarga lo dengan seenaknya ngerebut nyokap bokap gw hah?!" seketika suasana menjadi senyap.


Kim Doyoung saja yang mendengarnya langsung terdiam, dia baru mengetahui bahwa gadis di depannya terlihat dua kali lebih menakutkan dari pada bos mafia yang ada di novel yang selalu ia baca. Oke, kutu buku- ini dunia nyata bukan novel.


Kun dan Winwin saling menatap satu sama lain seperti anak kecil yang tengah ketakutan karena akan di marahi sang ibu.


Yuta hanya menyimak dengan aesthetic, menumpukkan dagunya di punggung kursi. Berbeda dengan Taeyong yang malah tersenyum tipis.


Taera menggeram, dia mengumpat kasar ke arah Son Niko. Tapi gadis itu terlihat tenang-tenang saja. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Kim Taera.


"Dan lagi, wajah kita emang agak mirip, cuman agak- bukan berarti iya" tekannya pada setiap kalimat.


Taera semakin dia buat terkejut akan perilaku Son Niko yang jauh dari luar nalarnya. Niko berbalik dan menghampiri Kim Doyoung yang berada di sampingnya.


"Udah ah cape ektingnya" seru gadis itu, mengerucutkan bibir merah mudanya kehadapan para lelaki yang tadinya menyimak dengan serius kini malah merotasikan bola matanya jengah.


"YEUUU ANJERR GW UDAH NYIMAK SERIUS YE!" bentak Qian Kun.


"Apaan ini miskah" celoteh Yuta yang lolos membuat semua orang tertawa, tidak dengan Taera.


"Bukan temen gw" cibir Taeyong, berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat ke arah Taera.


"Oh yah, gimana soal ancaman gw yang ada di line hm? Udah puas? Mau lo godain jaksa Jung dengan dalih-dalih menyamar sebagai Niko?" seru Taeyong, menangkup dagu Taera dengan tangan kirinya.


"Brengsek!" umpat Taera.


TBC.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2