»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.17


__ADS_3

Kicauan burung-burung terdengar samar, seorang gadis yang tengah menunggu di depan pintu gerbang rumahnya terlihat sangat antusias untuk pergi ke sekolah.


Di lihatnya jam tangan coklat yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukan pukul tujuh.


"Jaehyun jadi jemput nggak sih" gerutunya pelan, ia kembali mengecek ponselnya. Tidak ada pesan masuk dari jaehyun, bahkan pesan nya yang tadi belum di baca olehnya.


Setelah setengah jam menunggu, gadis itu menghela napasnya kasar, berlari dengan cepat ke arah halte bus. Semoga saja dia tidak terlambat, semoga.


Napas gadis itu terengah, terlihat bus yang telah berlalu dari halte itu, sedangkan belum sampai di depan halte. "TUNGGU!!! AISSHH KETINGGALAN!" celotehnya, memegang kedua lututnya yang terasa lelah.


Keringat dingin membasahi kening dan pelipisnya. Dia kembali berlari dengan sangat cepat, mengabaikan orang-orang yang tengah berlalu lalang dan melihat ke arahnya dengan tatapan terheran.


Sesampainya di sekolah, gerbang itu sudah tertutup rapat bahkan sudah di gembok oleh penjaga nya. "Ahhhh bodohh!" umpatnya kesal.


Dia kembali memegangi lututnya, terlihat Jaehyun yang tengah berjalan di arah koridor bersama, Lisa?


Yah benar gadis Thailand itu, Lisa bahkan memegang tangan Jaehyun, gelendotan di sana. Niko membulatkan matanya.


"J-jadi, Jaehyun... Ninggalin gw?" gumamnya. "JAEHYUN! JUNG JAEHYUN!" teriaknya yang langsung membuat dua orang yang berada di sekolah itu menoleh ke arahnya.


Jaehyun terlihat mengernyit, dengan cepat ia menepis tangan Lisa dari tangan nya. Gadis itu menatap tajam ke arah Jaehyun, dengan napas yang masih terengah dan penampilan yang sangat kusut membuat Lisa tertawa.


"Bhaks, cewe lo jelek amat. Mau ke sekolah apa mulung sih?" tawa Lisa semakin pecah.


Niko yang tidak bisa mendengar percakapan mereka hanya bisa menatapnya dengan alis bertaut penuh tanda tanya.


"Udah lah, buru ke kelas, nanti guru marah" seru Lisa, lantas kedua orang itu pergi meninggalkan Niko yang masih terengah.


"J-jaehyun" gumamnya, memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Wah lo badung juga ya" seru seseorang yang baru saja sampai di gerbang sekolah. Niko menoleh cepat ke arahnya.


Lee Taeyong.


"Apaan sih! Gw gak badung ya, cuman telat" cibir Niko, menegakkan tubuhnya.


Laki-laki itu mendengus geli. "Iyain aja. Tumbenan lo telat, kenapa?" tanyanya, bersandar di tembok gerbang sekolah.


Gadis itu terdiam, pandangan nya menjadi sendu, menatap ke arah dua kakinya yang memakai sepatu tali hitam putih. "Jaehyun" gumamnya.


Taeyong terdiam, membiarkan gadis itu untuk melanjutkan ucapannya. "Dia ninggalin gw" lanjutnya.


"Kok bisa?"


Ia menggeleng pelan, memegang ujung tas punggung nya. Kemudian tersenyum. "Dia lupa kali, hehe"


Taeyong mendengus geli, dia sangat jelas mengetahui bahwa senyuman itu sangat di paksakan. "Jadi, sekarang lo mau masuk apa kagak?" tanyanya.


"MAUUU" dengan sangat antusias gadis itu menyahut.

__ADS_1


Taeyong menarik tangan Niko, berlari meninggalkan gerbang sekolah.


"Lo mau bawa gw kemana??" tanya gadis itu, ikut berlari di samping Taeyong.


"Manjat pagar" ucapnya.


"HAH? LO GILA!"


"Brisik banget sih lo, diem bisa?"


"Y-yaa maaf!"


Sesampainya di sisi benteng sekolah yang di yakini adalah benteng taman belakang, gadis mengernyit pelan ketika Taeyong membawa sebuah anak tangga yang terbuat dari kayu. Dan sedikit rapuh.


"Naik" ucap Taeyong dengan aba-aba nya.


"Gak mau! Lo liat sendiri kan itu tangga udah rapuh! Gw gak mau nanti jatoh!" gerutu gadis itu menolak mentah-mentah perintah Taeyong.


"Bawel bener, naik atau gw lempar lo ke dalem?" ancamnya.


"Dih? Kok jahat??"


"Makannya buru naik, nanti gw pegangin"


"Isss iya iya" dumelnya kemudian menurut, dia menaiki anak tangga itu, di anak tangga kedua dia kembali berhenti, menatap ke arah Taeyong yang memegang anak tangga kayu itu.


"Tutup mata lo!" sarkas si gadis.


"Lah ngapain?"


"Lo **** atau pura-pura **** sih! Tutup aja!" bentaknya.


"Iya iya, buset ni anak" geram Taeyong kemudian memejamkan matanya.


Gadis itu kembali menaiki anak tangga yang di pegang oleh Taeyong. Sesampainya di atas benteng dia melihat ke arah bawah, tidak ada sarana untuk turun sama sekali. Di Dalam kehidupan nya baru kali ini dia nekat menerobos masuk melewati benteng. Sialan Lee Taeyong.


"Gw udah sampe, tapi kok gak ada tangga lagi?" tanya gadis itu, masih duduk di antara benteng.


Taeyong membuka matanya. "Ya lo lompat kebawah lah, gampang"


"DIH GAK MAU! NANTI GW JATOH GIMANA??"


"yakan emang jatoh" ucap lelaki itu, menaiki tangga dengan sangat cepat dan kini mereka berdua duduk di benteng secara berhadapan. "Lompat gih"


"GAK MAU!"


"Yaudah gw tinggal" ucapnya santai, tanpa tau rasa takut anak lelaki itu melompat ke bawah, dengan posisi lutut kiri menyentuh tanah, dan kedua tangan yang menahan di kedua sisi kakinya, untuk menjaga keseimbangan. Ia bangkit, berdiri sambil merapikan rambutnya yang sedikit menghalangi pemandangan nya.


"Gampang kan? Buru turun" ucapnya, menatap ke arah Niko.

__ADS_1


"Takut!"


"Gw tangkap dah, buru ***** keburu ada penjaga" gerutunya.


Niko mengangguk, gadis itu dengan ragu bersiap untuk melompat ke arah Taeyong.


Brukkk


Gadis itu benar-benar melompat ke arah Taeyong, membuat Taeyong dengan terkejut bukan main karena ia kehilangan keseimbangan nya. Dan mereka terjatuh secara bersamaan.


Punggung Taeyong terasa sangat sakit, tapi ia masih bisa menahannya. Gadis itu juga meringis kesakitan karena sikutnya membentur tanah dengan baju yang sedikit lecet.


Keduanya saling menatap satu sama lain, dua obsidian coklat milik Niko bertemu dengan dua obsidian legam milik Taeyong.


Kenapa gw segugup ini?


Batin Taeyong bertanya, gadis itu menjulurkan lidah ke arah Taeyong, bangkit dari jatuhnya kemudian berlari meninggalkan Taeyong yang masih terkapar di tanah.


"WOII SIALAN LO!" umpat Taeyong, lantas bangkit dari jatuhnya, membersihkan debu tanah yang mengotori bajunya.


"Gw bener-bener suka sama tuh cewe" ucapnya, menarik senyum di sudut bibirnya dan berjalan meninggalkan area taman belakang.


...❖❏❖❏❖...


Jaehyun memijit pelipisnya, mendengus kesal ketika mengingat bahwa orang tuanya akan mengirimnya ke USA jika dia menolak untuk bertunangan dengan Lalisa, gadis Thailand itu.


Dia tidak bisa pergi meninggalkan Seoul untuk saat ini. "Sialan" decaknya kesal.


"Napa lo?" tanya Winwin menoleh ke arah teman yang berada di sampingnya.


"Kagak" tukasnya tak berminat untuk bicara.


Terlihat kedatangan Taeyong dengan baju seragam yang sedikit terlihat kotor. Ia duduk di hadapan Jaehyun. "Bahas apa lo pada?"


"Ntah" sahut Winwin.


Yuta membuka ponselnya, membaca satu pesan singkat dari orang yang tidak kenal. "Tae, liat dah ni anak cari gara-gara ama kita" serunya.


"Anak sapa?" dia langsung merebut ponsel milik Yuta, mendengus geli. "Ngajak berantem, wah udah lama nih kita gak tawuran" kekehnya.


"Jabanin aja, gw lagi emosi sekarang" sahut Jaehyun.


TBC.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2