
Kim Taera, gadis itu di masukan ke penjara dengan hukuman 3 tahun penjara karena telah mencemarkan nama baik seseorang dan nama baik sekolah.
Kim Myungsoo, ayah dari Kim Taera suami dari Kim Taeyeon, di ancam hukuman mati atau hukuman seumur hidupnya. Karena telah menggelapkan uang perusahaan dan uang negara, pembunuhan berencana yang mengakibatkan banyak korban terluka karena tempat kejadian itu ada di apartement.
Taeyong dan Ayahnya yang mengajukan laporan tersebut, di bantu oleh ayahnya Jung Jaehyun yang selaku Jaksa di kepolisian kota Seoul.
• • •
Seperti biasa, gadis itu terlambat ke sekolah yang mengharuskan dirinya berlari dari rumah sampai ke sekolah. Beruntung baginya karena tepat waktu sampai di sana.
Ada satu hal yang membuatnya sangat bahagia hari ini, bukan karena masalah nya dengan sekolah selesai dan soal yang di web itu. Tapi kini dia telah memutuskan untuk menjalin hubungan kembali dengan Jung Jaehyun.
Teman sekelas gadis bersurai coklat legam itu menyambut kedatangannya dengan sangat antuasias. Ada beberapa dari mereka yang meminta maaf karena kejadian waktu itu.
Tentu saja dia memaafkannya. Mereka bertiga, ketiga sahabat itu saling berpelukan.
"Gw kangen huaaaa" rengek Son Niko.
"Gw juga!" sahut mereka berdua, Ryujin dan Shuhua. Lantas mereka tertawa renyah.
Pelajaran berlangsung dengan lancar dan ini saatnya dia akan menghampiri Jung Jaehyun. Dia berjalan dengan sangat antuasias, bersenandung pelan yang menandakan bahwa kini dia benar-benar tengah bahagia. Masalah yang selama ini di pikul olehnya telah tuntas dan tidak akan ada lagi masalah yang dapat membuat hidupnya menderita.
"Jaehyun!" panggilnya pada sosok Jaehyun yang baru saja terlihat keluar dari dalam kelas.
Pria itu menoleh ke arahnya, tersenyum simpul. "Hai Nik" sapanya.
"Hai! Hehe"
Setelah saling menyapa, keduanya memutuskan untuk mengobrol di atap, tempat pertama mereka bertemu.
"Gw kangen sama lo" suara Jaehyun memecah keheningan yang tercipta beberapa saat di antara mereka.
"K-kok bisa?" tanyanya terbata, menatap ke arah Jaehyun.
"Gw rindu" ujar pria itu lagi.
"Ahmasa boong banget lo" dumel gadis itu.
Jaehyun merotasikan bola matanya jengah. "Serahlah" kemudian pergi meninggalkan Son Niko.
Ia hendak bercanda dengannya namun kenapa respon Jaehyun malah sangat sensitif terhadapnya. Ia menahan tangan Jaehyun, memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Gw juga... Gw juga kangen sama lo" serunya, masih meleluk Jaehyun dari belakang.
Jaehyun terdiam, menarik senyumnya. "Gw jauh lebih kangen dari pada lo" ujarnya, membalikan tubuhnya, dan balas memeluk Son Niko. Mengecup pucuk kepala gadis yang sangat di rindukannya.
Niko menarik senyumnya. "Hehe"
"Gimana kabar lo?" tanya Niko.
"Hmm baik" sahut si empu.
Entah perasaan apa ini, menyambar tanpa di harapkan, gelisah. Begitu saja. Dan merasa ada hal yang mengganjal dalam ulu hatinya.
"Baguslah" ia masih tersenyum.
"kenapa lo blokir nomor gua?" celoteh Jaehyun.
Ia mengulum bibir bawahnya, mencengirkan giginya sehingga nampak barisan gigi rapi nan putih yang di miliki olehnya. "Ehe, maaf"
"Dasar" decak Jaehyun.
Gadis itu menunduk, apa ini saatnya dia berbicara kepada Jaehyun mengenai hubungan nya?
"Anu, Jae..."
"Hmm?"
"Mau balikan sama gw?" ucapnya to the point.
Jaehyun terlihat terkejut, menatap ke arah gadis yang menundukkan kepalanya. "Hmm soal itu.."
__ADS_1
"Gw masih bingung, dan ragu buat jalanin hubungan sama lo lagi" ucapnya.
Deg!
"Gw rasa, perasaan gw ke lu udah abu-abu semenjak lo minta break sama gw"
"Dan lagi, gw lebih suka lo yang jadi cewe aneh ketiban jadi pacar gw"
Ia terdiam, terdiam seribu bahasa, menatap Jaehyun lamat-lamat. Mencari celah candaan dari arah sorot matanya. Namun ia sangat yakin bahwa Jaehyun kali ini tidak sedang bercanda dengannya.
"Oh gitu hehe, gapapa" kekeh gadis itu, menghela napasnya pelan.
Jaehyun mengacak surai lembut milik Niko. "Thanks, gw cabut dulu" ia kemudian pergi meninggalkan gadis itu yang masih berdiri membeku di tempat.
Jantungnya terasa ingin berhenti berdetak, napasnya begitu sesak, dan lagi-lagi tangan dan tubuhnya bergetar hebat.
"J-jaehyun..."
Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak, napasnya tak beraturan. Ini bukan yang ia harapkan, ini bukan keinginannya, dan ini bukan jawaban yang ia nantikan.
Gadis itu ambruk ke aspal atap, terus memegangi dadanya yang terasa sangat sesak, ia menangis tanpa suara. Tidak kuat jika ia mengeluarkan satu katapun.
"Hah... Hah..." napasnya terengah.
Kali ini benar-benar sakit. "S-siapapun... T-tolong-ngin g-gw akhh"
• • •
Tit... Tit...
Suara monitor menggema seluruh ruangan bernuansa putih tersebut, gadis itu tengah berbaring dengan selang oksigen yang membantunya untuk bernapas. Ia masih tak sadarkan diri.
Beruntung Kim Doyoung menemukan sosok Niko tepat pada waktunya, dia tidak tau lagi kalau sampai dia terlambat disana. Bisa-bisa gadis ini pingsan tanpa ada orang yang menyadari keberadaannya.
Doyoung meraih tangan Son Niko, memegang tangan dengan ruas jari jemari yang kecil tersebut. Sangat dingin. "Nik kamu harus cepat sadar" gumam pria itu.
Tak beberapa lama kemudian, pintu ruang kamar yang di tempati oleh Niko terbuka. Menampakkan sosok Taeyong, Ryujin, Jeno, Shuhua dan Kun.
"Kata dokter mentalnya Niko lemah, dan itu sebabnya dia gak sadarkan diri karena ada suatu hal yang buat dia jadi drop" jelas Kim Doyoung, menyampaikan apa kata dokter yang tadi di sampaikan padanya.
"Astaga Niko" gumam Shuhua.
Taeyong mendengus kasar. "Pasti karena dia tau kalau Jaehyun udah punya pacar baru" serunya tanpa aba-aba, dan langsung membuat semua orang terkejut.
"Apa?" sahut mereka serempak.
"Maksud lo, Lisa?" tanya Shuhua.
Ia menggeleng. "Bokapnya si Jaehyun kan gak jadi ngejodohin Jaehyun sama si Lisa" Taeyong mendengus geli, mengusap rambut Son Niko yang masih terpejam.
"Lah terus? Sama siapa?" giliran Ryujin yang bertanya.
"Jeon Somi, anak kelas 10 Mipa utama" seru Taeyong.
Semua orang di sana terkejut bukan main, pantas saja Niko drop. Orang tadi pagi dia semangat untuk memperbaiki hubungannya dengan Jung Jaehyun - pikir Ryujin.
"Kasian gw sama ni bocah" seru Qian Kun, menatap iba kepada gadis yang masih tak sadarkan diri itu.
Doyoung menghela napasnya pelan. "Semudah itu ngelupain orang yang udah menjadi sebagian kisah hidup kita?" suaranya terdengar.
"Mudah, apalagi cuman sebatas mau ngejatuhin rival" ujar Lee Taeyong menatap ke arah Kim Doyoung.
Semua orang disana tidak paham apa yang di maksud oleh Taeyong. Hanya mereka berdua yang paham -Taeyong dan Doyoung sendiri-
Gadis itu membuka matanya perlahan, membiarkan cahaya masuk kedalam retinanya.
"Eh nik lo udah sadar" seru Jeno yang sedari tadi hanya menyimak dan memerhatikan Son Niko saja.
Mereka semua bersyukur melihat bahwa Niko kini baik-baik saja. Gadis itu menampakan senyuman khasnya, masih dengan pandangan redupnya.
"Kalian brisik ya, ganggu aja" serunya dengan nada menyindir.
__ADS_1
"Lo dari tadi nguping??" kaget Ryujin.
Ia mengangguk. "Hum sebagian sih" kekehnya.
"J-jadi yang soal Jaehyun lo denger?" tanya Shuhua.
Ia terdiam, melebarkan senyumannya. "Iya denger lah emang gw budek apa" gerutu gadis itu.
Doyoung mempererat tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Son Niko. "Jangan di pikirin dulu, kamu harus sehat" ujarnya sangat ramah, gadis itu balas dengan anggukan.
"Iya kak"
Taeyong memilih untuk duduk di sofa, memijit pelepisnya pelan. Dia tidak terkejut tentang berita baru mengenai teman nya Jung Jaehyun yang kini telah mempunyai kekasih baru bernama Jeon Somi. Hanya saja dia tidak habir pikir terhadapnya, hanya karena 'rival' dia malah memanfaatkan seorang gadis dengan berjuta masalahnya untuk di jadikan sebagai korbannya.
Kalau dia 'Lee Taeyong' yang dulu, sudah ia pasti ia akan mematahkan tulang benulang milik Jaehyun. Tapi karena dia sudah berjanji kepada ayahnya, kalau dia akan menjadi ahli waris yang sah dari keluarga Lee group dan perusahaan Kim Crop. Maka dari itu dia harus bersikap baik dan tidak lagi untuk mencari masalah.
Ingat tujuan geng Hyperion di buat itu untuk mencari jati diri masing-masing bukan untuk tawuran dan melakukan hal yang merugikan diri sendiri. Taeyong berdiri dari duduknya. "Oii, gw cabut dulu ye" serunya kepada semua orang yang ada disana.
"Lah kemana lo?" tanya Qian Kun.
Taeyong menggerakan telunjuknya. "Mau jadi detektif konan dulu, bye"
"Wah bener-bener tuh anak satu" cetus Qian Kun tak habis pikir.
• • •
Setelah pulang dari rumah sakit, gadis itu masih diam di kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas single bad empuk tersebut.
Dia menggigit bibirnya, berusaha untuk melupakan sosok Jung Jaehyun. Yah secepat itu, tak ada cerita percintaan selama ia berpacaran dengan Jaehyun, hanya luka... Masa lalu... Dan kejadian aneh...
Gadis itu mengernyit, meredam tangisannya, berkali-kali ia menghapus jejak air mata yang lolos keluar dari pelupuk matanya. Ia menepuk dadanya yang terasa sesak seperti tadi.
Suara ketukan pintu terdengar, seseorang memanggilnya. Dia tau siapa pemilik suara tersebut. Orang yang tepat untuknya saat ini.
Dengan susah payah gadis itu berjalan, membuka pintu dan menemukan sosok Na Jaemin pemilik surai hitam pekat, yah dia mengubah warna rambutnya.
"Lo kenapa?! Kok gini?!" kaget Jaemin, menahan tubuh kecil Son Niko dan langsung membawanya kembali kedalam kamar si gadis.
"N-na hiks" isaknya.
"Lo kenapa? Gara-gara cowo lagi??"
Niko menggeleng, bahunya bergerak naik turun. "Terus kenapa??" tanya Jaemin lagi penuh penuntutan.
"Jaehyun hiks, gw udah putus sama dia" isak nya.
Jaemin mengerutkan keningnya, mendengus kesal akan kalimat yang di ujarkan oleh Son Niko. "Astaga Niko! Gw kira lo kenapa, taunya cuman ini" jengah Jaemin. Mengusap pucuk rambut sepupunya. "Cuman di putusin kan? Gak usah nangis elah, cemen amat" dia tertawa pelan di akhir kalimat.
Hal itu langsung membuat Niko mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. "Rese lo! Gak tau apa kalau kita tadinya break tapi pas break taunya dia udah ada gandengan baru hhuwaaaa!!!!"
"Hah?! Gimana? Gimana gw gak paham" ia sedikit mengaduh kesakitan, bangkit dari jatuhnya dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di single bad Son Niko.
"Isss, intinya gitu tau ah!!" kesal Niko.
Laki-laki itu tertawa renyah, kembali duduk dan merangkul bahu sepupunya. "Gw paham perasaan lo, gw lebih suka lo yang ngamuk kek biasanya bukan nangis kek gini" kekeh Jaemin.
Niko mengerucutkan bibirnya. "Na, kenapa ya dari dulu hubungan gw gak pernah mulus"
"Belom ada yang pas kali, bukan jodoh" ujar Jaemin, kembali mengusap surai coklat milik Niko.
Ia menghela napasnya pelan, menarik senyum simpul di sudut bibirnya. "Jadi... Yang gw harus lakuin apa?"
"Melupakan, itu jalan terbaik yang sekarang lo harus lakuin" seru Jaemin.
Niko mengulum bibirnya, tersenyum miris pada dirinya sendiri. "Melupakan ya" gumamnya.
TBC.
.
.
__ADS_1
.