
Tiga orang pria tengah berdiri di gedung tua yang sudah tak terpakai. Salah satu dari mereka menunduk dan menampakkan senyumnya. Dia melempar sebuah pemantik api ke arah poster besar yang ada di hadapannya, dan poster tersebut langsung terbakar begitu saja.
"Gw gak nyangka ternyata salah satu dari kita bakal ngelakuin hal sebodoh ini" seru Winwin.
Yuta menghela napasnya. "Mau bagaimana lagi" ucapnya lirih.
"Menurut lo, pertemanan kita sama Jaehyun dan geng Hyperion yang dulu kita banggakan ini bakalan berakhir?" tanya Winwin kepada Taeyong yang masih melihat ke arah poster yang terbakar itu.
Ia menghela napas, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jens yang di pakai olehnya. "Hyperion dulu emang kebanggaan kita. Tapi nama itu pula yang buat kita hancur berantakan, semua bukan salah Jaehyun." serunya.
"Lalu salah siapa?" tanya Yuta padanya.
"Gak ada yang salah di sini, cuman waktu yang belum tepat" jawabnya.
Yuta bergumam pelan. "Btw apa kabar sama si Jaehyun?"
Winwin menepuk bahunya. "Dia bakalan baik-baik aja, takdir udah nentuin semuanya"
"Maksud lo, dia udah ketemu sama Niko??"
"Hem, gitu"
"Yong, lo emang gak cemburu apa? Bukannya lo suka sama si Niko?" celoteh Yuta yang sangat penasaran.
"Mau gw suka dan cinta sekalipun sama dia, pada hakikatnya Niko udah di takdirin sama Jaehyun" sahut pria itu begitu tenang.
"Lo mau kemana?" tanya Winwin yang melihat Taeyong hendak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mau nuntasin misi dunia" kekehnya kemudian pergi.
Taeyong mengendarai motornya sangat cepat, dia mengutuk dirinya sendiri. Dia harus sadar diri kalau dia hanya bermimpi untuk mendapatkan seorang Son Niko di hidupnya.
Taeyong menepikan motornya di tepi. dia berjalan mendaki ke arah bukit, membiarkan semilir angin menerpa tubuhnya.
"ARRRGGHHH!! KEPARAT!!" umpatnya setelah sampai di puncak. Meluapkan semua emosinya.
"Gw terlalu berharap banyak sama lo Son Niko! Padahal udah jelas dua tahun terakhir gw selalu ada di samping lo tapi yang ada di hati lo cuman Jaehyun! Jung Jaehyun! Dan bakalan tetap itu!" sarkasnya mengumpat dan menyumpah serapahi dirinya sendiri.
Taeyong menendang beberapa batu krikil yang ada di hadapannya. Memukul ke arah pohon besar yang ada di sampingnya hingga punggung tangannya sedikit berdarah. "Niko, sampai kapanpun... Meski gw gak bisa milikin lo seutuhnya, gw bakalan tetep jadi bayangan lo"
"Bayangan yang selalu menemani namun tak pernah di sadari kehadirannya" tambahnya.
Taeyong mengacak surai coklatnya kasar, menunduk dalam diam sembari meremat rumput-rumput yang ada di bawahnya.
Taeyong mengambil ponselnya, mengetik sesuatu di note miliknya.
Dear peri cantik
Tujuan hidup gw sekarang hanya satu...
Melihat lo tersenyum meski bukan gw yang menjadi alasan lo tersenyum.
Melihat lo bahagia meski bukan gw yang buat kisah bersama di hidup lo.
Dan yang bisa gw lakuin hanya satu, menjadi seorang bayangan namun tak pernah di sadari kehadirannya.
Niko, gw gak bakal hapus semua perasaan gw ke lo. Karena gw udah terlanjur jatuh dan gak akan pernah ada yang buat gw bangkit dari jatuh gw yang satu ini. Son Niko, gadis titipan bintang yang di ciptakan untuk melengkapi sang malam. Gw Cinta sama lo.
~`Lee Taeyong 2022
Taeyong menghela napasnya lirih, mengambil sebuah kotak kecil di dalam sakunya. Dia mengambil beberapa pil putih kemudian langsung memakannya begitu saja. Dia menetralkan napasnya dengan mata terpejam. Kemudian tersenyum tipis ketika melihat sekilas sosok Niko yang menghampiri pikirannya.
• • •
Jaehyun mengajak Niko untuk makan siang bersama, keduanya larut dalam perasaan dan pikiran masing-masing. Sejak tadi keduanya tak angkat bicara, tenggelam dalam kesunyian.
Jaehyun menghela napas, menatap ke arah gadis yang duduk di depannya lamat-lamat. "Nik" panggilnya.
"Hmm?"
"Saya minta sesuatu boleh?"
__ADS_1
Niko mengerutkan keningnya. "Minta apa?"
"Boleh saya meminta singgasana yang dulu pernah saya miliki untuk kembali menjadi milik saya?" katanya yang langsung membuat gadis itu tersedak oleh makanannya.
Uhuk uhuk!!
Jaehyun mengambil gelas berisi air putih yang ada di hadapannya, memberikannya kepada Niko. "Hati-hati"
Niko langsung meminumnya dan menormalkan kembali napasnya. "Apa yang kau katakan?" tanyanya.
"Saya tau kamu paham. Maksudku, aku tau bahwa kau memahaminya" ralatnya.
Gadis itu menunduk. "Aku masih takut tentang satu hal"
"Apa?"
"Aku takut kalau kamu melupakan ku lagi Jaehyun"
"Sejak kapan aku melupakanmu? Bahkan sampai saat ini aku masih memikirkanmu dan akan tetap begitu"
Gadis itu semakin diam di buatnya. Menunduk dalam diam. "Terlalu sulit bagiku untuk mempercayai ini semua, terimakasih atas waktunya pak. Jam kerja saya sudah habis" serunya, beranjak duduk dari kursi yang sedari tadi menopang tubuhnya.
Jaehyun menarik tangannya yang membuat gadis itu langsung berbalik dan menghadap ke arahnya. Jaehyun berdiri untuk mengimbangi gadis itu. "Saat ini aky benar-benar tulus Nik"
"Kamu lupa, kalau cintamu hanya sebatas menjatuhkan rival? Kenapa Jaehyun? Apa saat ini aku juga hanya sebatas mainan bagimu?" ia menangis tanpa sepengetahuannya.
Jaehyun yang merasa sangat bersalah tidak dapat berkata apapun pada gadis yang telah menjadi korbannya ini. Ia memegang kedua bahu Son Niko. "Akan aku ubah semuanya Son Niko. Jika di masa lalu kamu adalah sebatas mainan hanya untuk menjatuhkan rival maka kau salah"
"Saat ini, aku berkata jujur padamu. Bahwa kamu adalah putri paling sempurna yang pernah mengukir senyum di hidupku. Aku mohon kembalikan itu semua, jadilah miliku. Dan lupakan masa lalu itu" tambahnya.
Gadis itu masih menangis tanpa suara, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Apa kamu serius mengatakan hal ini?"
"Aku bersumpah di hadapanmu kalau yang ada di hatiku hanya dirimu dan akan selalu ada namamu yang terukir disana. Percayalah"
Ia semakin terisak, Jaehyun mendekap tubuh kecil Son Niko. Mengusap punggungnya mencoba untuk menenangkan tubuhnya yang kini sudah bergetar. Sama seperti waktu SMA, dia selalu merasakan hal ini dari Son Niko.
"Aku mencintaimu Jung Jaehyun" ucapnya, menatap ke arah Jaehyun dengan mata yang sudah berair.
"Aku beribu kali lipat mencintaimu Son Niko"
• • •
"LO GILA?! SUDAH BERAPA KALI GW BILANG JANGAN NGONSUMSI OBAT OBATAN INI LEE TAEYONG-!" pekik Kim Doyoung kepada pria yang tengah duduk di ruang tamu rumahnya.
"Terus apa yang bisa gw lakuin selain ini?"
"Hidup lo masih berarti bagi banyak orang Lee Taeyong! Kondisi jantung lo lemah bangsat!" pekik nya lagi.
Taeyong menundukkan kepalanya, memegang bagian dada kirinya. "Ya gw tau"
"Bukannya lo harusnya jadi pewaris Lee Group? Kenapa lo malah kelayapan ke rumah gw" tukasnya.
"Rumah kecil aja belagu lo. Gw mau nginep di sini" ia mendengus geli. Doyoung terkejut bukan main.
"Lo mau nginep di rumah gw? Mimpi apaan lo semalam?"
"Alah gak udah lebay deh" cibirnya sambil melempar koaci ke arah Kim Doyoung.
"Ck, sampe kapan lo mau ketergantungan sama obat? Lo lupa sama tante Taeyeon yang meninggal gara-gara kebanyakan ngonsumsi obat dosis tinggi?"
Pletak!
Taeyong menjitak kepalanya. "Heh jaga omongan lo, ini obat buat nenangin jantung gua anj! Bukan narkoba!" umpatnya menyumpah serapahi Doyoung.
Doyoung membulatkan matanya. "Lo gak boong kan?"
"Ngapain gw boong" dengusnya.
"Y-yaudah deh"
"Btw gw mau lo janji sama gw"
__ADS_1
"Janji apa?" tanya Doyoung.
Taeyong menghela napasnya. "Jangan kasih tau siapa-siapa kalau jantung gw bermasalah" katanya.
"Tapi Yong, keluarga lo berhak tau"
"Gak, gak ada yang boleh tau. Apalagi Niko" tukasnya.
Kim Doyoung di buat membeku, menatap ke arah pria brandal yang ada di hadapannya. "Kalo dia tau gimana?"
"Gw bakalan bunuh lo, karena cuman lo orang yang gw kasih tau tentang penyakit gua" ketus Taeyong.
"Anjer mana bisa gitu!"
"Bisa!!"
• • •
Jaehyun menggenggam erat tangan gadisnya. Mereka tengah berdiri tepat di sungai Han, tempat pertama pertemuan dan kisah mereka di mulai. Gadis itu masih diam membeku tanpa mengucap sepatah katapun. Dan pada akhirnya Jaehyun memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Kedinginan?" serunya, menaruh dagu di bahu gadisnya.
Niko menarik senyumnya, kemudian mengangguk pelan. "Sedikit" katanya dengan sedikit di pelankan.
"Nik"
"Hum?"
"Aku minta maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu" ujar Jaehyun, mengeratkan pelukannya.
Niko mengusap lengan Jaehyun yang melingkar di tubuhnya. "Bukannya kita sudah berjanji untuk melupakan hal itu Jae?"
"Tidak semudah itu bagiku, setiap perilaku buruk ku di masa lalu terus menghantuiku Nik." balasnya.
Niko terkekeh pelan, membalikan posisinya untuk menghadap kepada Jung Jaehyun. "Mau mulai semuanya dari awal bersamaku?" serunya dengan senyuman yang menyertai lekuk bibir tipisnya.
Jaehyun mengangguk cepat. "Tentu" ia menarik tubuh Niko kedalam dekapannya.
Di sisi lain, dua orang pria yang tengah berdiri tak jauh dari sana kalut dengan perasaan masing-masing. Perasaan terluka yang tak akan pernah dapat di sembuhkan.
Taeyong menatap ke arah Kim Doyoung, sobat karibnya sekarang. Ia mendengus geli. "Apa nih? Cemburu lo" ejeknya.
Doyoung menatapnya malas kemudian pergi begitu saja tanpa menggubris perkataan Lee Taeyong. Pria dengan surai coklat itu menarik napasnya lirih kemudian mengikuti langkah perginya Kim Doyoung.
"Cinta memang murni dan tak dapat di paksakan" batinnya.
"Jadi kita nyerah buat dapetin Niko?" tanya Kim Doyoung, duduk di antara padang rumput yang terbentang luas.
Taeyong mengangkat bahunya. "Lo tau kan kalo jodoh gak bakal kemana? Ya si Niko milik Jaehyun lah. Kek gw dong enjoy enjoy bae" tawa pria itu pecah.
"Ck, emang aneh lo. Suka sama orang tapi biarin dia sama yang laen" jengah Doyoung.
"Suka sama cinta beda coy"
"Maksud?"
"Mungkin sukanya gw ke Niko sekedar menjadi pelindung dan bayangan aja. Beda sama cinta Jaehyun ke Niko yang kata lain menyangkut perasaan dua hati" katanya cepat.
"Ooh, jadi kalau rasa suka gw ke Niko apaan?"
Taeyong menjitak kepalanya. "Lo Rank satu ya di kelas, tapi kenapa otak lo koslet kalo hal beginian?" decaknya.
"Heh! Teori psychologi beda sama teori Cinta!"
"HAHAHA! MAKANNYA JANGAN KEMAKAN RUMUS TEORI!" tawa Lee Taeyong pecah begitu saja.
"Heh! Lo sialan! Tunggu gw!" Doyoung yang kesal bukan main karena Taeyong terus-terusan mengejeknya, diapun mengejar kepergian Lee Taeyong.
THE END
.
__ADS_1
.
.