»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.12


__ADS_3

————


"Tuhan gak bakal ngasih ujian yang lebih dari kemampuan seseorang yang di ujinya. Semua yang terjadi pasti bakalan ada alasan dan akhirnya." - Na Jaemin.


————


Cahaya mentari masuk kedalam kamarnya melewati pantulan kaca jendela, terdengar sayup-sayup kicauan burung dari luar bagai irama alam yang sangat menenangkan.


Tak lama setelahnya, di susul dengan suara alarm yang menggema di seluruh kamar gadis yang kini masih tertidur lelap itu. Di singkirkan nya selimut yang menutupi wajahnya, lantas ia mematikan jam alarm yang berada di samping nya, di atas nakas.


Gadis itu menghela napasnya lirih, lantas berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah. Di tatapnya dirinya dari pantulan cermin, sekarang dia benar-benar tumbuh menjadi gadis remaja bukan anak gadis lagi.


Selesai dengan segala aktivitasnya, gadis itu langsung turun kebawah dengan pakaian yang sudah lengkap khas anak sekolahan. "Maaa! Niko ke sekolah dulu ya!" serunya tanpa sarapan terlebih dahulu.


Berlari ke luar rumahnya dengan rok tenis kotak-kotak yang telah menjadi ciri khas anak sekolah. Dia berjalan begitu antusias menuju halte bus depan, di persimpangan jalan dia bertemu dengan Jungkook teman nya. Lantas mereka berdua memutuskan untuk berangkat bersama.


"Waw ada apa nih? Tumben senyum senyum" seru Jungkook yang berada di kursi dekat jendela bus.


Niko yang berada di sampingnya langsung nyengir kuda, meraih tangan Jungkook dan menggenggam nya erat. "Lo tau? Gw baru jadian!" serunya sangat antusias.


Laki-laki yang mempunyai gigi kelinci itu mengangkat satu alisnya. "Hah? Sama siapa?"


"Tebak coba"


"Doyoung? Jaehyun?" tebaknya.


"Jaehyun ehe" kekehnya dengan wajah berseri.


Jungkook menggeleng heran. "Udah gw dugong. Yakin lo jadian sama dia? Gw takut kalo lo kenapa-kenapa lagi sumpah" ucapnya penuh kekhawatiran, menatap lamat-lamat ke arah teman masa kecilnya.


"Yaa semoga aja beda sama yang lalu-lalu" cibirnya.


Laki-laki itu mengangguk, mengusap surai coklat legam milik gadis di depan nya. "Apapun yang terjadi, kalo ada masalah cerita sama gw. Oke?"


Gadis itu langsung mengangguk cepat dan tersenyum antusias ke arahnya.


Siswa siswi mulai berdatangan ke arah gerbang sekolah, begitupun dengan Niko dan Jungkook yang kini tengah berjalan bersampingan melewati koridor sekolah.


Semua pasang mata menatap ke arah Niko dengan tatapan tak suka, bahkan ada beberapa dari mereka yang terdengar sedang mengejek dirinya.


"Nik?" seru Jungkook pelan. Gadis itu menoleh ke arah nya.


"Hah?"


"Mereka kenapa?" tanya Jungkook yang sama bingung nya dengan Niko saat ini. Gadis itu menggeleng.


"Gak tau"


"Hem yaudah, biarin aja" gumamnya lantas kembali berjalan bersampingan.


Sesampainya di kelas, semua juga menatap tajam ke arah Niko, membuat suasana kelas terlihat sangat menyeramkan di matanya. Mencoba menepis semua isi pikiran negatif nya saat ini, ia dengan cepat mendudukan dirinya di bangku miliknya.


"Ini kenapa pada liatin gw sih?" seru Niko, sedikit berbisik kepada Ryujin yang ada di depan nya.


"Gak tau juga gw" sahutnya.


"Shuhua mana?" tanya Niko lagi.


"Belum dateng kek nya"


"Oooh" gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Tak lama setelah itu kedatangan guru mata pelajaran bahasa datang ke kelas.


Jam pelajaran berlangsung dengan sangat baik, meski suasana kelas tak sehangat kemarin-kemarin. Semua hening dan setiap pasang mata menatap tajam ke arah Niko, gadis yang sama sekali tidak mengetahui kesalahan nya apa.


Di tatapnya bangku Shuhua dan Kun yang kosong, kemana sebenarnya mereka berdua sampai tidak bisa masuk ke sekolah secara bersamaan.


"Baik, pelajari bab terakhir lusa di kumpulin pas pelajaran bapak lagi" ucapnya lantas pergi meninggalkan kelas.


Hening...


Brak...


Salah satu siswi menggebrak meja Niko, membuat semua suasana kelas yang tadinya senyap menjadi gaduh seketika.


"Apaan lo?!" sarkas Niko.


Ryujin dan Jungkook menoleh ke belakang, ke arah bangku Niko. "Lo! Cewek ******! ********!" umpat gadis berambut panjang lurus itu, menatap tajam ke arah Niko.


"Tau nih kok ****** ada di kelas kita!"


"Usir aja woiii"


"Gak punya malu bgst"


"Najis"


Suasana kelas yang tadinya adem ayem sekarang menjadi tempat yang sangat berisik. Niko yang sama sekali tidak paham hanya membulatkan matanya dengan alis yang mengangkat, menatap bergiliran ke arah Ryujin dan Jungkook secara bergantian.


"APAAN LO PADA?! ****** SIAPA HAH?!" bentak Niko tidak terima.


Sreekkk....


Sialan, suara itu. Niko menatap ke arah bangkunya yang menyisakan potongan rok kotak-kotaknya. Gadis itu membelalakan matanya, semua orang tertawa tidak dengan Ryujin dan Jungkook.


"DIEM LO PADA!" sarkas Ryujin berteriak nyalang.


"KALIAN APA DAH?! LO SEMUA NGERJAIN NIKO HAH?!" sarkas Jungkook, mengambil jaketnya dan memakaikannya kepada Niko.


Gadis itu hanya terdiam, tangan nya mulai bergetar. Jungkook yang menyadarinya langsung menarik Niko keluar kelas.


Suara sorakan siswa siswi dari dalam kelas maupun luar kelas terdengar ketika melihat kedatangan Niko. Tak hanya itu, mereka bahkan melemparinya dengan gumpalan kertas dari balik jendela.


"K-kook" ucapnya sedikit terbata.


Jungkook semakin mengeratkan genggaman tangannya. Mencoba menghindari lemparan-lemparan tersebut.

__ADS_1


Dukh


Ahhh


Satu lemparan kertas mengenai dahi Niko, yang langsung membuat dahi gadis itu sedikit berdarah.


"KALIAN KENAPA SIH?! NGEBAHAYAIN *******!" pekik Jungkook, kini mereka berdua berhenti di tengah-tengah koridor kelas.


Di ambilnya sebuah gumpalan kertas yang tadi mengenai dahi Niko. Jungkook membukanya dan dia mendapatkan beberapa batu krikil di kertas tersebut.


"B-batu" seru Niko, menatap ke arah Jungkook dengan mata nya yang kini mulai memerah.


"BERHENTI ATAU GW LAPORIN KEPALA SEKOLAH?!" teriaknya lagi.


Semua orang yang tadi melakukan itu mencibir kesal.


"Huuuuuuu gak seru!"


"Aduan!"


"Payah!"


Jungkook kembali menarik tangan Niko, membawanya ke atap sekolah. Tubuh nya mulai gemetar, dahi yang berdarah dan jaket yang melingkar asal di pinggang rampingnya membuat Jungkook terheran akan semuanya.


Di raihnya tangan mungil milik temannya. "Lo gapapa?"


Gadis itu menggeleng. "Sebenernya apa yang terjadi?" tanya Jungkook.


Ia menggeleng, menatap teman laki-lakinya. "Gw gak tau" jawabnya parau.


"Lo ada masalah? Cerita sama gw Nik"


Gadis itu terdiam, bagaimana dia bisa cerita kalau dirinya sendiri tidak tau apa penyebab semua ini.


Brakkkk


Pintu atap terbuka menunjukan sosok Ryujin yang tengah berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa. "Hah... Hah... Gw gak tau ini bener atau gak, yang pasti kejadian itu karena ini" Ryujin menunjukan poto di layar ponselnya dengan napas terengah.


"Apa?" tanya Jungkook, dengan cepat dia meraih ponsel milik Ryujin. Matanya membelalak terkejut ketika melihat salah satu poto di ponsel Ryujin.


"A-apa? Kenapa?" tanya Niko cemas, lantas ia merebut ponsel Ryujin di tangan Jungkook. Napasnya tercekat.


"Ini bukan gw! Demi tuhan ini bukan gw!" sergah Niko dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.


"Gw tau ini bukan lo Nik!" seru Ryujin, menarik tubuh Niko kedalam pelukan nya, membiarkan temannya itu menangis dalam pelukannya.


"Sialan, siapa dah yang ngedit poto sampe mulus kek gini *******" umpat Jungkook dengan sumpah serapahnya.


"Lo dapet poto itu darimana?" tanya Jungkook.


"Web sekolah, udah nyebar ke seluruh siswa" ujar Ryujin.


"Itu bukan gw Jin, sumpah. Gw gak pernah maen ke bar sama cowo!"


Yah benar, di sana terlihat poto 'Niko' yang sedang berciuman dengan laki-laki dengan busana yang terbilang cukup minim.


...❖❏❖❏❖...


"Apaan nih su, ini bukan nya cewe nya si Jaehyun?" seru Winwin yang baru saja menbuka web sekolah di ponselnya.


Jaehyun yang merasa terpanggil menunjukan raut wajah tanda bertanya. "What's?"


Winwin menunjukan poto tersebut kepada Taeyong yang berada di sampingnya. Seketika napasnya tercekat dan bahkan ia tersedak salivanya sendiri. "Ini seriusan si Niko? Waw" laki-laki bermarga Lee itu tersenyum miring, menatap ke arah Jaehyun yang sedang menyesap vave nya.


"Cewe lo buat gw aja ya" ujarnya yang langsung membuat ketiga teman nya membulatkan matanya, terlebih lagi Jaehyun yang langsung menatap dengan sorotan tajam.


"Ada apaan dah? Kepo gw" seru Yuta.


"Buka web sekolah coba" ujar Winwin.


Lantas Jaehyun dan Yuta membuka ponselnya dan langsung ketujuan nya. Jaehyun membulatkan matanya. "*******" umpatnya.


"Pantes aja lo suka sama tuh cewe, ternyata ini yang lo suka. Bhaks" tawa Taeyong pecah, di ikuti dengan Winwin dan Yuta.


"Diem lo" sarkas Jaehyun.


"Enak juga ya, gw bobolin si Niko" lagi-lagi perkataan Taeyong membuat Jaehyun tersulut emosi.


"LO MAU APA HAH?" pekik Jaehyun, mencengkram kerah milik Taeyong.


"Let's play" ucapnya begitu tenang dengan senyuman yang masih menyertai lekuk bibir tipisnya.


Jaehyun mendorongnya sampai ia membentur sofa. "Berani lo sentuh cewe gua, mati lo!" ancam Jaehyun kemudian pergi dari markas itu.


Dia masuk kedalam mobil sport hitam nya, berniat untuk pergi ke rumah Niko dan menanyakan perbuat yang Niko lakukan. Jaehyun memang tak percaya seutuhnya, tapi kalau di bilang editan. Itu jauh dari kata editan.


Jaehyun memukul stir nya sesekali, mendengus kesal ketika mengingat perkataan demi perkataan Taeyong yang di utarakan untuknya terhadap Niko.


"Sialan" ia mendecih sarkas.


...❖❏❖❏❖...


Ting tong...


Suara bel rumah terdengar, Niko yang berada di kamar mau tak mau harus turun ke bawah dan membukakan pintu bagi orang yang akan datang. Yah jangan tanyakan kemana ibunya, sudah di pastikan ibunya tengah pergi kembali ke rumah Nenek, karena ia kembali mendapat kabar bahwa nenek sakit lagi.


Dengan mata sembabnya Niko berjalan dengan langkah gontainya menuju pintu utama. Napasnya tercekat ketika melihat siapa yang datang.


Jung Jaehyun, menatapnya dengan sorotan tajam yang terpancar dari dua obsidian legam yang di milikinya. "Jaehyun?" seru Niko.


"Mamah mana?" tanya Jaehyun pelan.


"Ke rumah nenek"


Niko mempersilahkan Jaehyun untuk masuk ke dalam rumahnya, dan kini mereka tengah duduk di sofa ruang tamu dengan suasana yang canggung.

__ADS_1


"Gw-"


Keduanya kembali terdiam ketika mereka satu sama lain akan berujar. "Lu duluan" ujar Niko.


"Lu aja"


Diam... Keduanya kembali terlarut dalam suasana keheningan.


Niko mengambil napas panjang sebelum ia kembali berbicara. "Gw tau tujuan lo ke sini apa" ujar Niko, menundukkan kepalanya sedalam mungkin.


"Ooh"


"Gw tau kalau lo bakal ilfeel kan sama gw? Atau mungkin tujuan lo kesini buat mutusin gw" ujarnya, menahan air mata yang bisa saja lolos kapan pun.


"Maksud lo?"


Ia menggeleng. "Lo udah tau kan, soal poto yang ada di web sekolah?" gadis itu menoleh ke arah Jaehyun yang menatapnya datar.


"Ya, udah"


"Lo percaya kalau itu gw?"


Jaehyun terdiam, jujur saja dia juga bingung. "Ntah"


Niko tersenyum miris, sebelum kedatangan Jaehyun dia mendapat hujatan besar-besaran dari semua aplikasi sosial medianya. "Haha gapapa" tawa sang gadis yang terlihat di paksakan.


"Gw cuman mau bilang, terserah lo mau percaya atau gak tentang ini" ujarnya sedikit tertahan, Jaehyun menatap sang gadis lamat-lamat.


"Gw takut" air mata yang dari tadi ia sembunyikan kini begitu nampak, hidungnya kembali memerah. "Setiap kali gw menjalin hubungan sama orang, pasti endingnya bakal gini. Hehe" kekehnya.


"Hm maksud?"


"Jung Jaehyun" panggilnya parau. "Gw gak seceria apa yang lo pikir, gw pernah pacaran sama cowo dulu... Dia psychopath" ucapnya sedikit ragu.


"Namanya Kim Mingyu, dia cowo yang terlalu over, dia suka ngekang gw ini itu, bukan cinta tapi obsesi" air mata itu lolos kembali, menetes ke telapak tangan nya.


Jaehyun yang mendengarkan hanya bisa memasang ekspresi datar karena di masih bingung dengan apa yang di bahas oleh kekasihnya.


"You know? Gw trauma buat pacaran lagi. Tapi semenjak kehadiran lo, gw merasa aman. But, hari ini, kita baru sehari pacaran kan?" tanyanya.


"Yah"


"Hem, udah ada masalah aja ya. Hehe" lagi-lagi gadis itu menunjukan senyuman palsunya.


"Sumpah demi apapun, itu bukan gw. Jung Jaehyun." paraunya.


Jaehyun kembali menyimak. "Lo percaya kalau gw ******? Lo percaya kalo cewe itu gw?" tanyanya.


"Gw bingung Nik"


Kalimat itu seakan menghantam keras ke ulu hati Niko, berarti sudah di pastikan bahwa Jaehyun meragukan semua apa yang di ucapkan olehnya. "Hah..." menghela napas panjang.


"Gapapa, lo boleh percaya atau gak. Yang pasti itu bukan gw" tekan nya.


"Kalo bukan lo terus siapa?" tanya Jaehyun dengan okta yang sedikit ia naikan.


Niko membelalakan matanya, tangan nya kembali bergetar dia tidak tau apa penyebab tangan atau tubuhnya selalu bergetar hebat ketika berada dalam posisi yang seperti ini. "Gw kemarin sama lo kan? Lo yang anterin gw ke kamar kan?" ujarnya dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Dan lo liat, jam nya? Samaan. Dimana gw kemarin malam sama lo, di taman depan. Lo masih gak percaya hah?!" kali ini Niko benar-benar tidak bisa membendung emosinya.


Jaehyun meraih tangan Niko yang bergetar hebat, menggenggam nya erat. "Gw gak tau" ucapnya ragu.


Niko menarik senyumnya, menepis tangan Jaehyun dari genggamannya. "Gw mau sendiri"


Jaehyun terdiam.


"Plis buat saat ini"


"Ya oke" final Jaehyun kemudian berdiri dari duduknya dan pergi dari rumah Niko.


Setelah memastikan Jaehyun pergi, Niko terduduk lemas di lantai, memeluk kedua lututnya dan menangis sekeras-kerasnya.


"Itu bukan gw hiks!" isaknya di tengah tangisan nya.


Bahunya bergerak naik turun, pintu utama terbuka.


"NIKO?!" kaget Jaemin, laki-laki bersurai blonde itu langsung menghampiri Niko dan memeluknya erat.


"Lo kenapa nangis?? Siapa yang buat lo nangis??" tanyanya sangat cemas. Niko menggeleng, Jaemin semakin mengeratkan pelukan nya. "Its oke, lo gak mau cerita gapapa. Gw ada di sini" ucapnya, mempererat pelukannya.


Jaemin tidak mengetahui permasalahan yang terjadi pada sepupunya. Karena mereka tidak satu sekolah. Jadi jangan tanyakan kenapa Jaemin tidak mengetahui hal itu.


"Na" panggil Niko dengan suara paraunya.


"Kenapa?"


"Dunia emang kejam ya" ucap gadis itu.


Jaemin menghela napasnya, menepuk bahu sepupunya. "Iya, dunia emang kejam. Banyak orang munafik yang ada dunia, ketiban orang-orang yang baik. Yang lemah semakin di injak-injak, sedangkan yang kuat makin berkuasa. Itulah dunia, dimana yang benar di salahkan dan yang salah di agung-agungkan" ucap lelaki bersurai blonde itu, entah kenapa perkataan itu sangat menyakitkan.


"But, yang harus kita lakukan cuman menerima dan menjalani tanpa di perbolehkan untuk menghakimi. Karena semua udah di atur oleh tuhan."


Seolah bisa membaca semua isi pikiran Niko, lelaki itu kembali berujar. "Lu gak boleh kalah karena gelapnya dunia, kalo lo nyerah mereka bakal mikir lo kalah dan lo yang salah. Mau apapun yang terjadi, lo harus semangat."


"Tapi ini berat Na"


"Tuhan gak bakal ngasih ujian yang lebih dari kemampuan seseorang yang di ujinya. Semua yang terjadi pasti bakalan ada alasan dan akhirnya. Oke? Fighting!"


Jaemin mengacak rambut sepupunya. Niko menarik senyumnya. "Thanks, Na"


"Will"


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2