
Yuan Jicheng tengah duduk santai di gazebo, sebuah surat terlihat masih tergulung rapi di tangan nya, saat ini entah kenapa hatinya begitu sakit saat menerima surat undangan dari kekaisaran Yuan.
Yuan Jicheng sendiri telah mengetahui jika dalam beberapa waktu ke depan, pangeran ketiga akan segera menyandang posisi sebagai kaisar di kekaisaran Ming, bukan kah itu impian Yuan Jicheng dan juga kedua saudaranya? Saat ini Yuan Jicheng hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya saat mengingat kedua saudaranya yang harus mati dengan sangat tragis.
Dia sebenarnya tak lagi peduli dengan siapa yang akan menjadi Kaisar di kekaisaran ming atau pun di kekaisaran Yuan kelak, hanya saja hatinya begitu tercubit saat membaca surat dari ayah kandung nya sendiri yang berisi undangan untuk menghadiri acara penyambutan tiga orang pangeran kecil.
Bukankah dirinya saat ini tak lagi memiliki hubungan dengan kekaisaran Yuan dan juga seluruh anggota istana? Lalu untuk apa kaisar Yuan mengundang dirinya untuk datang. Apakah dia berniat untuk memamerkan kebahagiaan nya setelah Yuan Jicheng keluar dari istana kekaisaran Yuan? Ataukah ingin menunjukkan betapa bahagia dan tentram nya istana kekaisaran Yuan tanpa Yuan Jicheng.
Xin Quan yang melihat suaminya terus menarik nafas kasar pun segera mendekati nya, dia mendudukkan dirinya di samping Yuan Jicheng sambil menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
"Apa yang kau pikirkan suamiku?" tanya Xin Quan sambil menatap wajah Yuan Jicheng.
"Apakah kau sedih karena saudara ketigamu itu akan segera menjadi kaisar?" tanya Xin Quan.
Yuan Jicheng hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Xin Quan dengan penuh cinta.
"Terima kasih karena tak meninggalkan ku saat aku benar-benar terpuruk" ucap Yuan Jicheng sambil mengecup kening Xin Quan.
"Mau berapa kali lagi kau mengucapkan terima kasih suamiku?" tanya Xin Quan sambil menatap tajam Yuan Jicheng.
"Seberapa banyak pun aku mengucapkan terima kasih, tetap tak sebanding dengan pengorbanan mu yang bersedia menerima manusia hina ini menjadi suamimu" ucap Yuan Jicheng sambil memeluk tubuh Xin Quan dan menumpahkan rasa sesak yang sejak tadi melanda dirinya.
"Kau terlihat seperti anak kecil jika terus bersikap seperti ini" ucap Xin Quan sambil mengusap lembut kepala Yuan Jicheng.
"Beberapa bulan kedepan kita tak mungkin seperti ini lagi istriku.. Jadi biarkan aku yerus merasakan kedamaian seperti ini" ucap Yuan Jicheng sambil mengelus perut rata milik Xin Quan.
"Ya, setelah anak ini lahir, kita mungkin akan sedikit kerepotan" ucap Xin Quan sambil ikut mengusap perut nya.
__ADS_1
"Apa kita akan berangkat ke kekaisaran Yuan?" tanya Xin Quan yang langsung di jawab anggukan kepala Yuan Jicheng.
"Meskipun aku bukan lagi pangeran di kekaisaran Yuan, setidaknya aku masihlah putra dari ayahanda" ucap Yuan Jicheng sambil mencium perut rata Xin Quan.
"Apa kau yakin?" Xin Quan kembali menanyakan kesiapan dari suaminya untuk kembali bertemu dengan keluarganya.
Yuan Jicheng tersenyum tipis mendengar keraguan dari ucapan Xin Quan, sambil membetulkan posisi duduk nya, Yuan Jicheng pun segera berucap "Siap atau tidak, suatu saat kita harus tetap menghadapi mereka, aku tak ingin di anggap lemah. Kita akan berangkat kesana" ucap Yuan Jicheng.
Akhirnya Xin Quan pun mengangguk setuju dengan keputusan yang di ambil oleh suaminya itu.
"Ku harap ini akan jadi pilihan terbaik untuk kita" ucap Xin Quan sambil menatap lekat mata suaminya.
Sementara itu di istana kekaisaran Yuan saat ini pangeran kedua dan juga pangeran ketiga terlihat sangat frustasi, istri mereka tak lagi menghiraukan keberadaan kedua pangeran itu dan terus saja sibuk dengan bayi mereka.
Akhirnya kedua pangeran itu pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja kaisar Yuan sambil terus bersungut-sungut.
"Kau benar kakak kedua, bahkan saat ini bukan hanya istriku saja yang mengacuhkan ku, tapi juga ibu selir" ucap pangeran ketiga memberi tahu.
"Huh.. Tunggu saja nanti, aku akan membuat anak itu tidur di kamar lain agar tak terus menangis dan mengganggu tidurku" ucap pangeran kedua.
"Huh.. Putraku juga sama, dia begitu manja pada istriku, aku harus segera mengirimkan anak itu ke akademi" ucap pangeran ketiga.
"Bagaimana kau bisa mengirim putra mu itu ke akademi? Sedangkan hingga saat ini putramu itu belum bisa berjalan atau pun berbicara. Apa kau telah kehilangan akal?" tanya pangeran kedua.
Pangeran ketiga tak lagi menjawab pertanyaan kakak keduanya, saat ini dirinya tengah fokus untuk segera menemui ayahanda nya agar menemukan solusi terbaik untuk menjauhkan putra manjanya itu dari istrinya.
"Salam ayahanda" ucap pangeran kedua dan pangeran ketiga bersamaan.
__ADS_1
"Duduklah.." ucap kaisar Yuan mempersilahkan kedua putranya untuk duduk.
"Pesta penyambutan pangeran kecil akan di lakukan satu minggu lagi, apa kalian sudah memiliki nama untuk putra-putra kalian?" tanya kaisar Yuan sambil menatap keduanya.
Pangeran kedua dan pangeran ketiga hanya mengangguk membenarkan ucapan dari kaisar Yuan, keduanya memang telah mempersiapkan nama-nama yang bagus untuk putra mereka.
"Katakan pada zen, nama apa yang kau berikan pada putramu?" tanya kaisar Yuan sambil menatap pangeran kedua.
"Aku memberi nama putraku Yuan Weimin dan juga Yuan Weisheng." ucap pangeran kedua
"Dan kau?" tanya kaisar Yuan pada pangeran ketiga.
"Yuan Mingyu" ucap pangeran ketiga seolah tak ingin menyebut nama putranya.
"Hmmm... Nama yang sangat bagus, Weimin artinya pahlawan rakyat, dan Weisheng artinya kehebatan lahir, lalu kenapa kau memberi nama putramu Mingyu?" tanya kaisar Yuan
"Tadinya pangeran ini akan memberikan nama Yuan Junjie, hanya saja mengingat dia terus menerus mencari perhatian dari istriku, dan merebut kasih sayang nya, maka pangeran ini berfikir jika nama Mingyu jauh lebih pantas untuk nya." ucap pangeran ketiga tanpa melihat wajah ayah nya.
"Baiklah, zen setuju. Zen akan segera mengumumkan nama ketiga putra kalian pada semua orang." ucap kaisar Yuan.
Pangeran kedua dan pangeran ketiga terlihat sangat malas, bahkan keduanya saat ini terus saja mengurut keningnya yang pusing.
Tentu saja semua itu karena pangeran kecil itu sama sekali tak memberikan kesempatan pada kedua suami itu untuk mendekati istri mereka masing-masing.
Huh...
Terdengar hela nafas dari kedua pangeran itu, hingga saat ini keduanya bahkan belum memeluk atau pun menggendong putra mereka, karena istri dan juga ibu mereka yang terus saja berebut ingin menggendong dan bermain dengan si kecil.
__ADS_1
Kaisar Yuan hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah kedua putranya yang kini tengah cemburu pada putra mereka sendiri.