
Selir kehormatan dan selir agung yang melihat putra mereka frustasi pun mendekat.
"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya selir agung sambil terkikik.
"Ibunda.. Lihatlah.. Sepertinya anak yang ada di perut istriku itu sangat membenciku.. Gara-gara tak bisa mengambil buah belimbing yang dia inginkan, dia menyuruhku tidur di luar.. Dia benar-benar memusuhiku" ucap pangeran kedua dengan wajah bodohnya sambil mengacak rambutnya frustrasi
"Benar ibunda, bahkan anak yang ada dalam kandungan An Xia terus menyiksaku, dia membuat istriku jadi cengeng" ucap pangeran ketiga.
Mendengar aduan dari putra mereka, kedua selir tingkat tinggi itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Apa kalian pikir kalian juga tak seperti itu saat berada dalam kandungan kami?" tanya selir agung.
Pangeran kedua pun langsung mendekat ke arah ibunya.
"Lalu aku harus bagaimana ibunda?" ucap pangeran kedua
"Kau harus bisa lebih sabar putraku, emosi ibu hamil itu tidak stabil. Bisa jadi hari ini dia tertawa, besok menangis, besok nya lagi ngambek, itu sudah biasa. Intinya kalian tidak boleh membuat istri kalian sedih. Buatlah istri kalian itu nyaman dan bahagia di usia kehamilannya yang masih muda" ucap selir agung dengan bijak.
"Lalu apa yang harus kami lakukan ibunda?" tanya pangeran ketiga.
"Turuti apa pun keinginan istri kalian dan jangan membantah" ucap selir kehormatan sambil menekankan kata turuti agar kedua putra nya itu paham
"Baiklah ibunda... Kami akan mengikuti nasehat ibunda" ujar kedua pangeran itu sambil memeluk ibu mereka masing-masing.
Di aula istana saat ini sedang di adakan pertemuan, tiba-tiba saja seorang prajurit masuk dan melapor.
"Hormat hamba yang mulia.." ucap prajurit itu sambil membungkuk
"Ada apa?" tanya kaisar sambil menatap tajam prajurit itu.
"Yang mulia, Kaisar Jang membawa 15.000 pasukannya dan sudah memasuki kekaisaran Xuan, selain itu saat ini desa petir dan juga desa hujan di serang oleh para pemberontak" ucap prajurit itu dengan cepat.
__ADS_1
Kaisar Yuan pun memijit pelipis nya, dirinya benar-benar lelah dengan situasi kekaisaran yang semakin memanas. Baru saja beberapa saat yang lalu dia melepaskan kepergian putra ke empat dan juga kelima nya menuju daerah utara dan selatan dan sekarang malah terjadi pemberontakan.
"Ayahanda, Kenapa kaisar Jang datang dengan membawa banyak pasukan menuju kekaisaran kita?" tanya pangeran keenam
"Entahlah... Zen juga tak tahu" ucap kaisar Yuan sambil berpikir, namun setelah itu dengan cepat dia pun memerintahkan prajurit nya untuk memanggil pangeran kedua dan juga pangeran ketiga.
"Prajurit.. Segera pergi dan panggil pangeran kedua beserta pangeran ketiga kemari" ucap kaisar Yuan
"Baik yang mulia" ucap prajurit itu dengan patuh dan langsung berlari mencari keberadaan pangeran kedua dan pangeran ketiga.
Pangeran keenam merasa kesal dengan tindakan ayahnya, dia merasa jika ayahnya itu pilih kasih dan tak pernah melihat kemampuan dirinya, namun segala kekesalan dan amarah nya dia simpan dalam hati, dia tak ingin merusak semua rencana yang sudah di buatnya dengan susah payah.
Tak lama pangeran kedua dan pangeran ketiga pun datang memasuki aula, setelah membungkuk dan juga memberi hormat, kedua pangeran itu pun segera duduk di kursi mereka.
"Ada apa ayahanda?" tanya pangeran kedua
Kaisar Yuan pun segera menceritakan informasi yang tadi diberikan prajuritnya pada kedua putra nya itu.
"Zen juga tak tahu, kita tunggu saja kedatangan mereka nanti" ucap kaisar Yuan.
Satu jam kemudian, rombongan kaisar Jang pun tiba dengan sombong nya di depan gerbang kekaisaran Yuan.
Kaisar tua yang sombong itu pun turun dari kereta nya sambil menggandeng putri kesayangannya dan langsung di sambut oleh kaisar Yuan beserta keluarga istana.
Mereka pun di persilahkan masuk dan dengan segera para pelayan pun mempersiapkan tempat duduk.
"Silakan kaisar Jang" ucap kaisar Yuan dengan ramah.
Para pelayan pun segera masuk membawa berbagai macam kue yang begitu menyegarkan mata, tak lupa dengan minuman dingin pun segera tersedia dimeja.
Kaisar Jang terlihat sangat puas dengan penyambutan dari kaisar Yuan, meskipun dirinya datang tanpa memberi kabar.
__ADS_1
"Ada hal apa sehingga yang mulia kaisar Jang datang ke istana zen ini?" tanya kaisar Yuan
Kaisar Jang mendengar pertanyaan dari kaisar Yuan pun langsung tertawa dengan bahagia.
"Ya, zen datang kemari ingin mengajukan hubungan politik dengan yang mulia kaisar Yuan. Lagi pula putri kesayangan zen sangat menyukai putra yang mulia, jadi zen berpikir untuk menjodohkan putri zen dengan salah satu putra dari yang mulia" ucap kaisar Jang sambil mengangkat dagu nya dengan acuh. Hingga membuat semua yang hadir di aula itu mencibir dalam hati.
"Cih... Dasar kaisar sombong, dia pikir dia siapa bisa bersikap seperti itu di istana ini. Tapi jika putrinya itu menyukaiku, kurasa cukup bagus juga. Aku jadi memiliki dukungan untuk bisa merebut tahta di masa depan" pikir pangeran keenam sambil menyunggingkan senyum manis nya.
Sementara pangeran kedua dan juga pangeran ketiga hanya acuh tanpa menanggapi ucapan dari kaisar Jang
"Uhuk.." kaisar Yuan pun terbatuk mendengar ucapan dari kaisar Jang yang begitu yakin jika keinginan nya itu akan terwujud.
"Lalu pangeran mana yang diinginkan oleh putri yang mulia kaisar Jang?" tanya kaisar Yuan masih mempertahankan wibawa nya.
"Tentu saja putra keduamu itu. Bukankah putra pertama mu itu sudah mati karena berkhianat?" ucap kaisar Jang di akhiri dengan pertanyaan yang menohok.
"Apa maksudmu kaisar Jang?" tanya kaisar Yuan yang sudah tersulut emosi
"Tentu saja, putriku harus menikah dengan calon putra mahkota kekaisaran Yuan. Itu berarti lamaran ini untuk pangeran kedua" ucap kaisar Jang.
Pangeran kedua melihat ayah nya mulai emosi pun langsung mengedipkan matanya, kaisar Yuan yang melihat kode dari putra keduanya pun langsung mengerti.
Tak lama pangeran kedua pun berdiri memperkenalkan dirinya pada kausar Jang sekaligus mempermainkan nya.
"Salam yang mulia kaisar Jang. Hamba adalah pangeran kedua dari kekaisaran ini, namun sepertinya yang mulia telah salah mendengar kabar itu, memang benar jika putra mahkota yang pertama sudah tiada, namun calon putra mahkota selanjutnya bukanlah hamba, melainkan pangeran keempat yang saat ini sedang dalam perjalanan untuk menyelesaikan tugas dari ayahanda" ucap pangeran kedua memberi penjelasan dengan tenang lalu kembali duduk.
Jang Wei putri dari kaisar Jang yang mendengar suara dari pangeran kedua pun langsung mendongak, matanya terlihat berbinar cerah melihat ketampanan pangeran kedua, wajah gadis itu pun terlihat bersemu merah.
"Ayah.. Aku tak peduli siapa pun putra mahkota nya, aku hanya ingin menikah dengan pangeran kedua" ucap Jang Wei pada kaisar Jang.
Mendengar ucapan putri kesayangan nya, kaisar Jang pun tak bisa berkata apa-apa lagi dan langsung mengangguk.
__ADS_1