2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 57


__ADS_3

Pangeran ketujuh berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang kerja pangeran kedua, saat sampai disana, dia merasa heran melihat saudara kedua dan juga ketiganya sedang tertawa bersama.


Dengan langkah cepat, dia pun segera menghampiri keduanya sambil bertolak pinggang.


Matanya melotot memandang kedua saudaranya itu, dia pun berbicara dengan kesal sambil menenangkan nafas nya yang tak beraturan.


"Apa kalian akan tetap disini dan terus berdiam diri seperti ini?" tanya pangeran ketujuh.


"Ada apa adik ke tujuh? Kenapa kau tiba-tiba datang dan marah-marah seperti itu? Apakah ada masalah yang serius?" tanya pangeran kedua.


"Kalian tak tahu atau sedang pura-pura tak tahu? Saat ini nyawa istri dan juga calon anak kalian sedang dalam bahaya, pangeran ke empat dan juga pangeran kelima telah membayar banyak sekali pembunuh bayaran untuk membunuh mereka!" ucap pangeran ketujuh dengan menggebu-gebu.


"Benarkah? Akh.. Sepertinya kami telah melewatkan pertunjukan bagus, ayo kita segera pergi melihatnya" ucap pangeran ketiga sambil menarik tangan pangeran kedua dan juga pangeran ke tujuh.


"Bukankah kita seharusnya membawa tikar dan juga cemilan ringan? Ataukah kita duduk disana saja?" tunjuk pangeran ketiga.


"Duduk apanya? Saat ini istri dan juga calon anak kalian sedang dalam bahaya, cepat ambil pedang kalian dan kita bunuh mereka semua" ucap pangeran ke tujuh sambil mengacungkan pedang miliknya.


Pangeran kedua dan juga pangeran ketiga hanya terkikik menyaksikan tindakan adik nya itu, mereka pun cukup bersyukur karena memiliki adik yang baik dan juga sangat menyayangi mereka.


"Itu tak perlu adik, ayo cepat kemari dan duduk" ajak pangeran kedua sambil mendudukkan dirinya di atas rumput.


"Pelayaaan.. Ambil beberapa cemilan dan juga hidangkan teh melati untuk kami" ucap pangeran ketiga.


Segera pelayan itu pun mempersiapkan semua yang di minta majikan mereka dan menyiapkan meja rendah untuk tempat menyajikan teh dan juga cemilan.


Trang...


Trang...


Trang...


Terdengar suara pedang beradu, pangeran ke tujuh semakin was-was apalagi melihat kedua saudaranya itu saat ini malah duduk dengan santai.


Saat mata pangeran ketujuh melihat ke sekeliling, tanpa di duga dari kejauhan dia juga melihat ayahanda bersama ibunda nya dan juga selir kehormatan sedang duduk dan minum teh bersama.


Pangeran ketujuh pun makin kesal, semua yang tinggal di istana seperti nya tak ada yang peduli pada putri Han dan juga putri An.


Trang...

__ADS_1


Trang...


Trang...


Brak...


Bruk...


Aww..


Slash..


Glundung...


Satu buah kepala manusia menggelinding ke dekat kaki pangeran ketujuh, dengan mata yang melotot dan juga leher yang masih mengeluarkan darah.


Sontak pangeran ke tujuh pun meloncat kebelakang dan tangannya langsung di tarik oleh pangeran kedua dan di bawa duduk.


"Diamlah.. Jangan mengganggu kesenangan kedua kakak ipar mu" ucap pangeran kedua.


Pangeran ketujuh akhirnya mengerti arti dari kata 'kesenangan kakak ipar mu' seketika mata nya pun membulat sempurna saat tanpa sengaja mulut nya mengatakan "jadi yang di maksud kesenangan kakak ipar adalah membunuh?"


Pangeran ketujuh pun menelan ludah nya dengan paksa sementara pangeran kedua dan pangeran ketiga tersenyum menyeringai.


"Akhirnya kau mengerti juga, duduklah atau kau akan ketinggalan tontonan yang menyenangkan" ucap pangeran kedua


Pangeran ketujuh mengernyitkan dahinya hingga kerutan muncul sambil terus memikirkan ucapan kakak kedua nya.


"Apakah membunuh juga bisa di sebut kesenangan?" pikir nya sambil menggelengkan kepalanya.


Brak...


Brak...


Brak...


Puluhan pembunuh bayaran pun di lempar dari paviliun An Xia dan juga Ai Li, tumpukan mayat para pembunuh bayaran itu membuat pangeran ketujuh menjadi mual.


Tapi yang lebih mengerikan adalah saat ini kedua kakak ipar nya berjalan menuju tempat mereka dengan menjambak rambut ketua pembunuh bayaran dan juga wakil nya.

__ADS_1


Tangan kedua wanita itu masih terlihat membawa senjata tajam, An Xia dengan tombak besi nya sedangkan Ai Li dengan katana nya.


"Suamiku.. Lihatlah.. Sepertinya pembunuh bayaran ini sudah tak berdaya gara-gara ku potong kedua tangannya" ucap Ai Li sambil mendorong tubuh ketua pembunuh bayaran yang sudah buntung itu ke dekat kaki pangeran kedua.


"Akh.. Wakil pembunuh bayaran ini juga sudah tak bersuara lagi padahal tadi dia benar-benar berisik" ucap An Xia sambil menendang tubuh wakil pembunuh bayaran itu ke dekat kaki pangeran ketiga.


Pangeran kedua dan pangeran ketiga pun bangkit dari duduknya dan segera mendekati istri mereka masing-masing.


"Lalu apa yang istriku ini inginkan?" tanya pangeran kedua sambil menarik pinggang ramping Ai Li dan memeluknya.


"Tebas saja lehernya.. Kurasa itu cukup bagus jika kepala nya ku awetkan untuk ku jadikan bola sepak untuk putra kita kelak" ucap Ai Li sambil menyerahkan katananya.


Crash...


Tanpa banyak bicara pangeran kedua pun langsung memenggal leher ketua pembunuh bayaran itu.


"Apa istri ku juga menginginkan sesuatu?" tanya pangeran ketiga


"Tidak.. Orang ini benar-benar jelek, bahkan giginya saja tak pantas jadi bagian dari koleksiku" ucap An Xia sambil menancapkan tombak besinya ke dalam mulut wakil ketua pembunuh bayaran itu hingga melewati kerongkongannya.


Pangeran ketujuh hampir saja pingsan melihat tingkat kesadisan saudara ipar nya itu, tapi dia juga merasa aneh dengan kedua kakaknya yang terlihat tenang setelah menyaksikan istri mereka membunuh dengan begitu sadis.


"Prajurit.." panggil pangeran kedua


"Hamba pangeran.." para prajurit pun segera datang


"Besihkan semua kekacauan ini dan lemparkan saja tubuh mereka ke danau di belakang kediaman pangeran ketiga untuk makanan kesayangan putri An, sepertinya kadal kesayangan putri An mulai terlihat kurus" ucap pangeran kedua


"Jangan lupa untuk melemparkan 4 orang ke halaman paviliun pangeran kedua, sepertinya kucing kecil kesayangan putri Han juga terlihat kurus akhir-akhir ini" ucap pangeran ketiga sambil menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya duduk di gazebo bersama kaisar Yuan dan juga para selir.


Sementara pangeran ketujuh mengikuti para prajurit ke paviliun lotus salju untuk melihat kucing kecil nya Ai Li, namun dia hampir saja menjatuhkan tubuh nya saat tahu jika kucing kecil yang di maksud kakak ketiganya itu adalah dua ekor harimau putih yang besar.


"Apakah kadal yang di maksud kakak kedua itu juga bohong?" gumam pangeran ketujuh sambil masuk ke paviliun pangeran ketiga dan berusaha menerobos ke danau.


Matanya membulat sempurna saat tahu kadal yang di maksud kakak keduanya itu adalah 10 ekor buaya besar dengan taring yang sangat tajam.


"Benar-benar pasangan yang abnormal" ucap pangeran ketujuh sambil mempercepat langkah nya menuju gazebo tempat kedua orang tua beserta kakakdan kakak ipar nya berkumpul.


"Sepertinya aku juga harus segera mencari calon istri yang satu aliran dengan kakak ipar" ucap pangeran ketujuh dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2