
Xin Quan menatap pantulan dirinya di depan cermin meja rias nya sambil tersenyum manis, para pelayan yang kini tengah meriasnya pun terus menggoda ibu hamil satu ini dengan berbagai pujian dan juga candaan yang membuatnya semakin tertawa dengan lebar.
Apa lagi saat dia mendengar informasi yang di berikan oleh pelayan setianya jika Mei dan juga Yui saat ini sedang bersitegang.
Kedua selir itu bahkan kini saling melemparkan ejekan dan juga makian. Mei telah memerintahkan pelayannya untuk mengirimkan racun ke makanan Yui, dan Yui juga melakukan hal yang sama.
Sedangkan sang pembuat drama adu domba kini menyeringai di dalam paviliun nya sambil mengelus perut nya.
"Kau lihat itu anakku? Jika kau sudah lahir nanti, kau harus lebih pintar dan juga lebih cerdik dari ibunda dan juga ayah mu!" ucap Xin Quan sambil mengusap-usap perut nya.
"Bibi Liuu! Kemari!" teriak Xin Quan pada pelayan setia nya.
Pelayan itu pun segera datang menghampiri Xin Quan sambil membungkuk hormat.
"Ambil kedua kotak ini, dan berikan hadiah ini pada selir Yui, katakan jika ini hadiah dari suamiku Yuan Jicheng" ucap Xin Quan sambil menyerahkan dua kotak hadiah berisi hanfu dan juga perhiasan.
"Baik putri" ucap Liu dengan patuh.
"Tunggu bibi!" teriak Xin Quan pada Liu sang pelayan sambil berjalan dengan anggun ke samping sang pelayan tua itu.
"Ingat! Berikan kotak ini pada selir Yui di depan selir Mei! Dan ajak juga beberapa pelayan untuk menemanimu kesana! Kau harus terlihat sangat meyakinkan" ucap Xin Quan berbisik pada Liu.
"Hamba mengerti putri" ucap pelayan itu sambil mengangguk perlahan.
Bibir pelayan itu menyunggingkan senyuman sinis, nampaknya tuan dan pelayan ini sama-sama memendam kekejaman di hati keduanya.
Liu segera beranjak gari paviliun Xin Quan dan mengajak beberapa orang pelayan untuk mengiringinya mengantarkan hadiah itu pada Yui yang kini tengah beradu mulut dengan Mei di gazebo taman.
Mei terus memandang penuh permusuhan pada Yui, sedangkan Yui menatap Mei dengan pandangan sinis, tentu saja Yui saat ini merasa ada di atas angin, karena Yuan Jicheng mmilihnya untuk menjadi istri sah nya dan juga dukungan dari Xin Quan yang mendorong nya untuk semakin berbangga diri.
"Kau tak perlu sombong di hadapan ku Yui! Ingatlah.. Jika bukan karena dulu kau mengantarku ke paviliun pangeran kelima, kau juga tak mungkin di jadikan selir nya!" ucap Mei.
__ADS_1
"Benarkah Mei? Sepertinya kau belum tahu jika di malam kau tidur bersama dengan pangeran kelima, dia juga meniduriku di sebelah kamar yang kau tempati" jawab Yui sambil tersenyum pongah.
Bola mata Mei terlihat melotot dan hampir keluar saat mendengar ucapan Yui, dia benar-benar tak menyangka jika di malam itu Yui juga telah melakukan hal yang sama dengan nya.
"Apa kau pikir aku akan mempercayai ucapan mu?" tanya Mei sambil mendelik.
Yui hanya tersenyum masam mendengar pertanyaan Mei "Jika dia benar-benar menyukai mu, dia tak akan meninggalkan mu dan memanggilku untuk melayaninya malam itu! Lagi pula hari dimana aku keluar dari istana ini adalah hari dimana dia memintaku untuk ikut bersama nya ke daerah selatan, apa dia mengajak mu Mei? Tentu saja tidak! Karena dia jauh lebih menyukaiku di bandingkan dirimu" ucap Yui semakin memprovokasi Mei.
Beberapa pelayan tiba-tiba saja datang ke hadapan kedua selir yang terus berdebat dengan sangat sengit itu, Liu melangkah dengan penuh hormat dan langsung menyerahkan dua kotak yang ada di tangannya pada Yui.
"Salam untuk kedua selir, hamba di utus oleh pangeran Yuan Jicheng untuk memberikan hadiah ini pada selir Yui" ucap Liu sambil membungkuk.
Yui tersenyum makin pongah di hadapan Mei, hari ini dia berhasil menunjukkan siapa yang lebih di cintai dan lebih di inginkan oleh Yuan Jicheng antara dirinya dan juga Mei.
Sambil menutup mulut nya yang terkikik, Yui pun segera menyuruh pelayan nya untuk mengambil kotak itu dari Liu, dan langsung membukanya.
Mata kedua selir itu terlihat membola saat pelayan Yui membuka kotak nya, sebuah hanfu yang sangat indah dan juga mewah berwana merah muda beserta perhiasan mahal terpampang di hadapan keduanya.
"Katakan ucapan terima kasih ku pada pangeran Yuan Jicheng, aku sangat menyukai hadiah nya." ucap Yui.
Liu pun mengangguk dan segera undur duri, tapi baru saja beberapa langkah, Liu kembali berhenti dan membalikkan badannya pada Yui dan Mei.
"Pangeran ingin agar selir Yui menggunakan hanfu itu besok pagi saat kembali menuju ke kediaman" ucap Liu.
Yui pun mengangguk menyanggupi permintaan Yuan Jicheng.
"Katakan pada pangeran Yuan Jicheng, aku akan memakainya besok" ucap nya sambil tersenyum mengambang.
Wajah Mei menghitam, kemarahan terlihat begitu jelas dari wajah nya, bahkan kilatan kebencian dan juga api cemburu pun berkilat di mata lentik selir itu.
Kedua tangannya mengepal di sebalik hanfu yang dia kenakan, Mei semakin emosi setelah melihat betapa Yuan Jicheng memperlakukan Yui dengan begitu baik, sangat berbeda dengan dirinya yang terus menerus di tolak oleh Yuan Jicheng.
__ADS_1
Bahkan saat Mei menghampiri Yuan Jicheng dengan menggunakan pakaian yang terbuka sekali pun, suami nya itu seolah tak tertarik dan tak menginginkan kehadirannya.
Mei hanya bisa menatap getir nasib nya. Mei pun segera pergi meninggalkan Yui yang saat ini tengah bahagia dan berbunga-bunga, langkah nya semakin lebar diiringi dengan derai air mata yang mengalir semakin deras dari mata indah nya.
Dengan cepat, Mei segera menyuruh pelayan nya untuk mengambil kertas dan juga tinta, dia ingin menulis surat untuk para pembunuh bayaran agar melenyapkan Yui juga malam ini bersama dengan Xin Quan.
Mei tak akan membiarkan seorang pun dekat dengan suaminya, kini keinginan Mei untuk memiliki Yuan Jicheng sepenuhnya semakin membara, apalagi saat melihat sendiri bagaimana perhatian suaminya itu pada Yui.
Di tempat Yui saat ini, selir itu pun segera mengajak pelayan nya untuk pergi dari istana menuju ke kota, tujuannya hanya satu, ingin melenyapkan Mei yang dia yakini telah membuat rencana untuk melenyapkannya.
Yui menggunakan kereta milik pangeran kelima untuk keluar, tak lupa dia juga menyewa beberapa puluh orang untuk melenyapkan Mei.
Agar tak mengundang kecurigaan orang-orang istana, Yui pun memborong beberapa hanfu dan juga perhiasan mahal, bahkan jajanan dan juga beberapa hadiah untuk Yuan Jicheng dan juga Xin Quan.
Malam harinya, ratusan pembunuh bayaran telah berdiri di belakang tembok istana kekaisaran, bahkan ada juga yang berdiri di balik pepohonan.
Malam ini keseluruh pembunuh bayaran itu telah di persiapkan untuk membantai samua istri pangeran Yuan Jicheng.
Tap...
Tap...
Tap...
Puluhan pria berbaju hitam mulai berjalan perlahan diatas atap paviliun milik Mei, Yui dan juga Xin Quan.
Sementara itu di paviliun kedua selir, saat ini suasana nya sangatlah gelap. Nampaknya Mei dan juga Yui tengah beristirahat dengan sangat nyaman, keduanya bahkan tak tahu jika dewa kematian sedang mengintainya di atas atap kediaman.
Jauh berbeda dengan Xin Quan yang saat ini tengah mengasah pedang nya, bersiap menyambut kedatangan tamu yang tak di undang yang aura nya telah dia rasakan sejak tadi.
Jangan lupa untuk terus mendukung author ya, klik like dan juga komentar nya. Jika berkenan lemparkan juga vote dan gift nya.
__ADS_1
Sukses selalu untuk semua.. 🙏🙏🙏