
Xin Quan tersenyum miring saat tahu perbuatan suaminya pada Yun, sedikit pun tak ada raut sedih di wajahnya, jauh berbeda dengan Yui yang terus terisak.
Mei yang berada di samping Yui pun segera menenangkan nya, dia dengan tenang membangunkan Yui dan memapahnya agar bisa berjalan kembali menuju ke paviliun nya.
Sudut mata Mei melirik sedikit ke arah pelayan nya, kemudian menganggukkan kepalanya, tak lama kemudian pelayan itu pun ikut tersenyum dan mengangguk.
Seperti nya Mei dan pelayan nya itu telah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan orang lain.
Yuan Jicheng dan Xin Quan pun saling memandang, kemudian menganggukkan kepalanya.
Sepertinya pasangan suami istri ini telah mengetahui arti dari kode yang di berikan oleh Mei pada pelayan nya, tapi keduanya tak menunjukkan respon apa pun, hanya diam.
Mei berjalan dengan sangat anggun sambil membantu Yui yang saat ini tengah terpuruk karena kematian Yun, para pelayan dari kedua selir itu pun mengiringi nya dari belakang.
Mei kali ini berniat untuk menghasut Yui agar ikut membenci Xin Quan, dia juga akan mengajak Yui untuk bekerja sama dalam melenyapkan Xin Quan.
Bukankah mereka memang berteman selama ini? Jadi Mei merasa itu adalah hal yang biasa, lagi pula Mei juga butuh kambing hitam saat ini jika rencana besar nya nanti mulai di jalankan.
Yui adalah orang yang paling tepat untuk menjadi pion, apa lagi selama ini Yui juga sangat dekat dengan Xin Quan.
Xin Quan tak mungkin mencurigai Yui, jadi Yui bisa bergerak dengan bebas di dalam paviliun milik Xin Quan dan mencampurkan racun ke dalam makanan atau pun minuman milik dari istri sah Yuan Jicheng itu.
Sesampainya di paviliun milik Yui, Mei segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan minuman dan juga cemilan, setelah itu para pelayan pun segera meninggalkan kedua selir itu agar bisa mengobrol dengan santai.
"Yui, apa kau tidak mencurigai sesuatu?" tanya Mei sambil mengangkat cangkir teh milik nya.
__ADS_1
Yui hanya menggeleng pelan sambil melirik ke arah Mei, mata kedua orang selir itu pun saling bertatapan kemudian keduanya pun tersenyum dan mengangguk.
Yui segera mengusap pipi nya dan menghapus sisa air mata yang sejak tadi terus mengalir, dia pun mengambil cangkir teh milik nya dan mengangkat nya ke arah Mei.
Kedua selir itu pun saling bersulang, nampaknya kedua wanita yang terlihat sangat patuh dan juga lembut itu menyembunyikan kekejaman masing-masing dalam diri mereka.
Mei hanya tersenyum saat melihat Yui mengerti arah dari pembicaraan nya, kemudian dia pun mulai mencoba untuk memprovokasi Yui agar mau ikut andil dalam rencananya.
"Aku yakin jika kematian Yun ada hubungannya dengan putri Xin Quan, sepertinya wanita itu ingin melenyapkan kita satu persatu agar bisa memiliki pangeran Yuan Jicheng sendiri, padahal selama ini kita bertiga selalu mengalah dan membiarkan dia selalu menempel pada pangeran, tapi sepertinya wanita itu belum merasa puas jika tak menyingkirkan kita bertiga" ucap Mei sambil menyesap teh nya dengan anggun.
Yui pun mengangguk membenarkan ucapan dari Mei, entah siapa dulu yang akan menyusul Yun, entah dirinya atau pun Mei sahabatnya.
"Apa kau memiliki rencana?" tanya Yui sambil menatap wajah Mei.
"Katakan padaku, rencana apa yang kau buat?" tanya Yui semakin penasaran.
Mei pun segera menyerahkan bungkusan berisi racun pada Yui "Itu adalah racun yang sangat ganas, siapa pun yang memakan atau meminum racun itu sudah di pastikan akan mati dengan sangat cepat" ucap Mei.
Yui hanya mengangguk sambil memperhatikan bungkusan yang ada di tangan nya.
"Apa kau memiliki rencana cadangan? Jangan sampai kita celaka gara-gara tak memiliki rencana kedua, jika racun itu tak bisa membunuh putri Xin Quan kita harus segera beralih ke rencana lain" jawab Yui sambil menatap dalam pada wajah Mei.
Mei pun segera mengangguk mengiyakan ucapan Yui.
"Aku sudah menyewa seratus orang pembunuh bayaran untuk membunuh si Xin Quan itu!" ucap Mei sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Sorot matanya terlihat sangat marah, hingga urat-urat di sekitar kening nya pun muncul.
Mei kembali mengingat ucapan dari Yuan Jicheng yang telah menghinanya malam kemarin, dia sangat yakin jika Yuan Jicheng mengatakan kata-kata yang begitu kasar karena Xin Quan.
"Baiklah, aku akan membantumu untuk mengirimkan racun itu ke paviliun putri Xin Quan, kuharap dia segera mati beserta anak yang ada di dalam kandungan nya" ucap Yui sambil memasukkan bungkusan racun itu ke dalam hanfu nya.
Mei pun tersenyum sumringah mendengar jawaban dari Yui, dia tak akan terkena masalah jika Yui sampai ketahuan.
'Ini seperti menepuk dua lalat dalam satu kali tepukan, jija sampai putri Xin Quan mati karena racun, maka Yui pun akan mati karena di eksekusi oleh pangeran kelima atau pun kaisar. Dan aku yang akan menjadi satu-satunya istri dari pangeran Yuan Jicheng' gumam Yun dalam hati sambil mengelus tangan Yui.
"Kita harus segera menyingkirkan putri Xin Quan dari sisi pangeran Yuan Jicheng" ucap Mei.
Yui pun mengangguk setuju mendengar ucapan Mei.
Secara diam-diam, Yui telah menyuruh salah satu pelayan nya untuk menguping dan segera menyampaikan informasi pada Xin Quan.
Tentu saja informasi yang akan di berikan oleh pelayan itu tidak sepenuh nya benar, karena Yui telah membungkam mulut pelayan itu dengan 3 kantung koin emas.
'Jika kau fikir hanya kau yang ingin menjadi istri satu-satunya pangeran Yuan Jicheng, kau salah Mei. Aku juga menginginkannya. Mari kita lihat apa kau sanggup menerima serangan ku kali ini? Kau fikir aku tak tahu rencanamu untuk menjadikanku sebagai pion dari permainan yang kau buat? Kau benar-benar naif Mei, kau belum tahu apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan apa pun yang aku inginkan, kurasa kau harus sedikit berkorban untuk ku kali ini, hahaha...' gumam Yui dalam hati sambil merutuki kebodohan Mei yang begitu mempercayainya.
Sepertinya walau pun kedua selir itu tersenyum manis dan juga terlihat sangat akur, hati dan juga isi kepala mereka ternyata sangat berbanding jauh dengan tindakan nya, mereka saling menyerang dan juga saling menjatuhkan secara diam-diam.
Meskipun Yui dan juga Mei berteman sejak sama-sama masih menjadi pelayan di istana kekaisaran Yuan, nyatanya kini keduanya bagaikan musuh dalam selimut.
Saling mengumpat, saling mengutuk dan juga saling menghancurkan.
__ADS_1