
Syuuuuut...
Clap...
Sebuah anak panah kembali melesat melewati betis Ma Chao dan menancap tepat di kaki singgasananya.
Ma Chao kembali di buat geram dengan si pelaku yang terus bersembunyi, dia pun segera menyuruh salah satu prajurit nya untuk mengambil anak panah itu.
Ma Chao kembali membuka kertas yang terlipat pada ujung besi runcing anak panah itu, matanya kembali di buat melotot saat melihat tulisan yang ada di atas kertas itu.
'Jika itu yang kau inginkan! Maka bersiaplah untuk berperang' itulah kalimat yang dia baca dari secarik kertas yang kini ada dalam genggaman nya.
Ma Chao terlihat sangat kesal, dia pun segera meremas kertas itu sambil bersungut-sungut.
"Segera beritahu seluruh petinggi kekaisaran untuk berkumpul di aula rapat kembali!" ucap Ma Chao sambil bergegas pergi.
Para petinggi yang tadi di bubarkan pun segera kembali setelah mendengar perintah dari Ma Chao dan bergegas berkumpul di aula rapat.
Kening mereka terlihat berkerut saat memandang raut wajah Ma Chao yang suram, apalagi nampak aura kemarahan menguar dari tubuh si ketua bandit yang kini menduduki singgasana kaisar itu.
Mereka tak tahu apa yang kini tengah di fikirkan oleh Ma Chao, dan apa yang membuat ketua bandit itu terlihat begitu murka.
"Ada seseorang yang mengirimi ancaman untuk ku, dia memberikan pilihan untuk menyerah atau pun berperang. Karena itulah aku mengumpulkan kalian semua, dan bersiaplah untuk berperang!" ucap Ma Chao membuat semua orang terlihat cemas.
Wajah mereka terlihat pucat saat mendengar kata perang, apalagi saat ini mereka juga belum tahu dengan kekaisaran mana mereka akan berperang.
Seberapa besar kekuatan musuh? Itulah yang kini mereka semua fikirkan, tentu saja para petinggi itu tak ingin mati konyol, mereka bersedia tunduk pada Ma Chao pun karena ingin tetap menikmati hidup enak sebagai seorang petinggi kekaisaran.
Ma Chao berdecak sebal melihat para petinggi kekaisaran yang bermental tempe itu, dia sepenuhnya menyadari jika para petinggi itu hanya ingin hidup dengan aman tanpa harus ikut berperang.
"Segera kirimkan surat ke semua kerajaan sekutu kita, dan katakan pada mereka jika kita butuh bantuan mereka untuk melawan musuh yang belum jelas asal usulnya ini!" ucap Ma Chao pada seorang kasim.
Kasim itu pun dengan sigap segera mengambil kertas dan tinta kemudian menulis surat yang akan di antarkan para prajurit ke kerajaan-kerajaan kecil yang telah bersekutu dengan para bandit itu.
"Sebarkan mata-mata ke seluruh kekaisaran, dan segera cari tahu siapa bedebah yang telah berani menentang keinginanku! Jangan lupa selidiki kediaman seluruh rakyat kekaisaran Jang! Aku yakin saat ini mereka tengah bersembunyi di salah satu tempat kita di sini!" ucap Ma Chao sambil menunjuk anggota nya.
__ADS_1
Mereka pun segera membentuk tim dan mulai berpencar untuk mencari informasi, sedangkan para prajurit yang di perintahkan oleh Ma Chao untuk mengirim surat, segera berangkat dengan menaiki kuda dan melesat dengan cepat menuju kerajaan-kerajaan kecil yang telah bersekutu dengan mereka.
Ma Chao juga segera membuat pengaturan untuk para prajurit nya agar bersiap, dia kini menambah jumlah prajurit yang menjaga istana kekaisaran semakin banyak, terutama untuk kediaman putri kesayangan nya, Ma Xue.
Barisan para prajurit pun telah rapi, mereka tinggal menunggu perintah dari Ma Chao untuk segera bergerak. Hanya saja Ma Chao saat ini terlihat bingung, dia masih belum tahu siapa sebenarnya musuh yang kini mengintainya dan kenapa dia harus berurusan dengan orang-orang itu.
Belum juga dapat jawaban, tiba-tiba Ma Chao di buat kaget dengan ratusan prajurit nya yang tiba-tiba tersungkur ke tanah dan langsung mati.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Para prajurit itu pun mati dengan mata yang melotot, seperti nya mereka di buat kaget dengan serangan yang langsung merenggut jiwanya itu.
Mata Ma Chao membola saat melihat jika punggung para prajurit itu telah tertancap anak panah hingga menembus dada mereka.
Syuuuut...
Syuuuut...
Syuuuut...
Bruk...
Bruk....
Bruk....
Ma Chao kembali di buat kaget saat lagi-lagi anak panah itu meluncur dan mengenai pasukannya, hingga mereka kembali tersungkur ke tanah, sudut bibir mereka mengeluarkan busa berwarna putih menandakan jika anak panah yang di lesatkan untuk yang kedua kalinya ini mengandung racun.
"Sial! Siapa sebenarnya orang-orang ini? Dan kenapa mereka terus menyerang para prajurit ku" ucap Ma Chao.
Dadanya terlihat naik turun menahan amarah yang kini mulai menggunung di hatinya.
__ADS_1
Kepala nya di buat berdenyut dengan sangat hebat saat satu persatu dari orang-orang nya terus berjatuhan dalam keadaan tak bernyawa.
Ma Chao pun langsung membakar petasan dan melepaskan nya ke atas untuk memberi tanda pada anak buah nya, nampak nya kali ini Ma Chao tak bisa mengandalkan para prajurit nya yang lemah dan memilih untuk memanggil para bandit gunung yang merupakan anak buahnya untuk membantunya melenyapkan para pemberontak yang kini mulai menyerang dengan sangat ganas.
Para bandit pun mulai berdatangan ke arah Ma Chao, mereka berkumpul dan bersiap untuk menerima perintah dari sang ketua.
Sebenarnya mereka merasa heran dengan tindakan yang kini di lakukan oleh Ma Chao, tapi mereka masih sangat menyayangi nyawa mereka hingga tak berani mengajukan pertanyaan apa pun pada Ma Chao.
Jendral kekaisaran Jang pun segera mengumpulkan pasukan terbaiknya untuk menghadang serangan yang bisa datang kapan saja, dia tak bisa lengah agar tak terkecoh oleh trik licik yang kini di pertontonkan oleh musuh nya.
Bahkan jendral itu pun di buat bertanya-tanya dengan kemampuan mata-mata milik Ma Chao yang tak bisa menemukan keberadaan dari pasukan yang kini menyerang istana kekaisaran Jang.
Trang...
Trang...
Trang...
Terdengar suara pertempuran tak jauh dari gerbang istana, semua prajurit pun segera bersiap begitu juga dengan para bandit yang kini mulai melesat menuju ke pintu gerbang istana kekaisaran guna mencari tahu siapa orang yang telah berani membuat kekacauan di istana kekaisaran Jang itu.
Duak...
Duak...
Brak...
Brugh...
Para prajurit kekaisaran pun di buat babak belur dengan serangan yang dilakukan oleh orang-orang berbaju hitam yang kini ada di hadapan mereka, selain memiliki kecepatan menyerang di atas rata-rata, para penyerang ini pun sangat pandai untuk bertarung jarak dekat mau pun jarak jauh.
Bahkan kekuatan tubuh mereka tak bisa di remehkan, pukulan nya saja sudah setara dengan sekarung semen 20kg, sangat keras dan juga kuat.
Saat ini di depan istana kekaisaran Jang telah muncul sekitar 4000 orang berpakaian hitam, mereka memakai penutup wajah, tapi pemimpin mereka menggunakan topeng perak dengan pakaian berwarna merah darah.
Segala macam senjata berada di tubuh mereka, mulai dari pedang, belati, anak panah, pisau lipat, bahkan rantai dan juga kapak.
__ADS_1
Membuat siapa pun yang melihatnya langsung merinding melihat persiapan perang yang di bawa mereka.