
Di istana kekaisaran Yuan saat ini banyak sekali pembunuh bayaran yang menyamar menjadi pelayan dan juga prajurit, mereka di bayar oleh pangeran keempat dan juga pangeran kelima untuk membunuh Ai Li dan juga An Xia.
Tanpa mereka sadari, tindak-tanduk mereka telah di ketahui oleh beberapa penjaga bayangan.
Mereka berusaha mencari celah agar bisa membunuh mangsa nya, tanpa mengetahui jika sebenarnya mereka lah mangsa itu.
Guang yang merupakan kepercayaan dari kaisar Yuan segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerja kaisar untuk memberikan informasi penting ini secara langsung.
"Yang mulia..." Guang membungkuk di depan kaisar Yuan
"Ada apa Guang? Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya kaisar Yuan
"Benar yang mulia, menurut pengamatan hamba, saat ini ada beberapa orang pembunuh bayaran yang tersebar di istana ini. Mereka mencari kesempatan untuk bisa membunuh putri Han dan juga putri An" ucap Guang.
Pangeran ketujuh yang saat ini berada tepat di depan pintu ruang kerja kaisar Yuan pun sontak terkejut mendengar informasi yang di berikan oleh Guang.
Jantung nya seakan memburu saat tahu ada beberapa orang yang ingin mencelakai kakak ipar dan juga calon keponakannya itu.
Tapi yang lebih membuat pangeran ketujuh terkejut saat ini adalah jawaban dari ayahanda nya yang terkesan santai dan tidak peduli.
"Hahaha.. Itu bagus. Zen beberapa hari ini sempat berfikir keras untuk menyenangkan kedua menantu zen itu, ternyata tanpa zen cari, mainan mereka datang sendiri ke istana zen, syukurlah.. Zen sempat takut jika kedua menantu zen itu akan mati kebosanan" ucap kaisar Yuan.
Pangeran ketujuh dan juga Guang langsung melongo mendengar jawaban dari pria nomor satu di kekaisaran Yuan itu.
"Entah apa yang salah dengan yang mulia, bukannya khawatir pada nasib kedua menantu dan juga calon cucunya, dia malah lebih khawatir jika kedua menantunya itu mati karena bosan" gumam Guang dalam hati.
"Apakah ini benar-benar ayahanda? Kenapa dia malah terlihat gembira saat tahu ada yang mengincar kaka ipar dan juga calon anak mereka? Aku harus segera memberi tahu ibunda agar memperingatkan kakak ipar" ucap pangeran ketujuh dalam hati sambil melangkahkan kakinya menuju paviliun selir agung.
Melihat kedatangan putra bungsunya, selir agung pun tersenyum dan segera menyambutnya untuk masuk ke dalam, tak lupa dia pun menyuruh para pelayan nya itu untuk menyiapkan teh dan juga kudapan.
__ADS_1
"Ada apa putraku? Kenapa kau terlihat gelisah?" tanya selir agung
"Ibunda, saat ini aku sedang benar-benar khawatir pada kakak ipar, ada beberapa orang pembunuh bayaran yang menyamar di istana ini. Mereka memiliki niat untuk membunuh kakak ipar dan juga calon keponakanku" ucap pangeran ketujuh dengan serius
"Benarkah?" mata selir agung terlihat berbinar begitu bahagia saat mendengar ucapan putra bungsunya itu.
"Kenapa ibu malah terlihat bahagia saat mendengar berita itu? Apa ibu tidak khawatir?" tanya pangeran ke tujuh.
Bukan tanpa sebab selir agung terlihat berbeda, tentu saja semua itu adalah ajaran dari menantu ajaibnya itu, bahkan saat ini di kediamannya hanya ada 10 orang pelayan saja, itu pun merupakan pelayan baru yang di kirim dari paviliun Lotus salju milik Ai Li.
Semua pelayan lama nya sudah mati, selir agung sendiri yang mengeksekusinya, karena ternyata mereka adalah mata-mata yang dikirim mendiang permaisuri Ming Mei dan saat ini mereka tunduk pada pangeran keempat dan juga pangeran kelima.
"Apa maksud mu putraku? Kau seharusnya ikut bahagia mendengar berita ini, kedua kakak iparmu itu hampir saja mati kebosanan di paviliunnya karena tak punya mainan baru" ucap selir agung.
Pangeran ketujuh pun hampir di buat muntah darah mendengar ucapan ibunya itu.
"Ternyata ayahanda dan ibunda sama saja" gerutu pangeran ketujuh dan langsung pamit pergi.
Pangeran ke tujuh hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Sepertinya semua orang yang ada di istana ini benar-benar sudah gila" rutuk pangeran ke tujuh.
Ai Li dan An Xia yang merupakan target para pembunuh bayaran itu saat ini sedang duduk sambil menyilangkan kakinya, tubuh nya menyender pada Jun, sementara kakinya menempel pada Jin.
Mereka tidak terlihat takut sama sekali justru benar-benar sangat senang saat tahu ada yang mengincar nyawa mereka.
Pangeran ke tujuh tak tahu harus sedih atau pun bahagia melihat kelakuan semua anggota keluarga istana saat ini, dirinya yang sudah lama belajar di akademi bahkan belum mengenal kedua kakak ipar nya itu dengan baik.
Malam harinya, para pembunuh bayaran itu telah berganti pakaian, mereka menggunakan pakaian serba hitam dan juga bercadar
__ADS_1
Mereka berencana untuk menghabisi nyawa Ai Li dan juga An Xia malam ini.
Tapi baru saja mereka melangkah 3 langkah ke depan, tiba-tiba gerbang kediaman Ai Li langsung tertutup. Semua lampu pun padam.
Mereka pun segera meningkatkan kewaspadaan nya.
Auuum...
Auuuum...
Jin dan juga Jun melompat dari kegelapan dan mulai menyerang mereka dengan beringas.
Sementara para pembunuh bayaran saat ini merasa kaget saat melihat 2 ekor harimau putih yang sangat besar sedang menatap nyalang pada mereka.
Cakar dan juga giginya terlihat sangat tajam dan menakutkan.
"Astaga.. Dari mana asalnya kedua harimau itu?" ucap pembunuh satu sambil memegangi bahunya yang terkoyak karena mendapatkan cakaran dari Jun.
Pembunuh yang lain pun segera mundur dan menjaga jarak aman dari kedua binatang itu.
Namun lagi-lagi mereka di kejutkan dengan pagar duri yang terpasang tak jauh dari gerbang kediaman Ai Li tersebut.
Hingga mau tak mau, mereka pun maju dan berhadapan kembali dengan Jin dan juga Jun.
Di kediaman An Xia juga saat ini tak jauh berbeda, beberapa orang berbaju serba hitam melompat dari satu pobon ke pohon lain, dan berhenti di depan paviliun An Xia.
Pangeran keempat dan juga pangeran kelima memang belum mengenal kakak ipar nya, mereka hanya tahu dari rumor yang beredar di masyarakat tentang kedua gadis itu yang pemalu, penakut dan juga tidak memiliki kemampuan apa pun.
Sehingga mereka tidak merasa akan kesulitan jika ingin melenyapkan kedua nya.
__ADS_1
Para pembunuh yang di kirim ke kediaman An Xia pun terlihat sangat heran saat ini.
"Bukankah ini kediaman seorang pangeran? Tapi kenapa mereka tidak mempekerjakan satu orang prajurit pun untuk berjaga di luar?" pikir mereka yang langsung merasa curiga dengan situasi saat ini.