
"Ada apa kakak keempat? Kenapa kau terlihat begitu cemas?" tanya pangeran kelima
"Sepertinya ayahanda telah mengetahui keberadaan mata-mata yang aku tempatkan di istana" ucap pangeran keempat sambil memberikan kotak kecil itu pada pangeran kelima.
Pangeran kelima pun segera menerima kotak itu, matanya terbelalak melihat 5 pasang bola mata di dalamnya.
Huek... Huek...
Pangeran kelima pun merasa mual dan hampir muntah mencium bau amis dari darah di kelima pasang mata itu.
"Segera siapkan pasukan, seperti nya kita tak bisa sembunyi lagi, secepatnya kita harus segera menyerang istana dan menurunkan ayahanda dari singgasananya" ucap pangeran keempat dengan mata yang menyorot penuh kekejaman.
"Apakah pasukan kita telah siap semua? Aku harap kita tidak tergesa-gesa untuk melakukan penyerangan, kita harus terus mengintai pergerakan mereka, jangan sampai kita bernasib sama seperti putra mahkota" ucap pangeran kelima.
"Cepat atau lambat ayahanda pasti akan mengirimkan pasukan nya untuk membunuh kita semua, jadi lebih baik kita tak mengulur waktu lagi dan bersiap mulai sekarang" ucap pangeran keempat.
"Baiklah, aku akan berbicara pada adik keenam agar ikut mempersiapkan pasukan" ucap pangeran kelima sambil keluar dari ruangan itu.
Wajah Pangeran kelima terlihat begitu sayu, dia seolah merasa jika penyerangan yang di lakukan akan membawa dampak yang sia-sia, apalagi dengan jumlah prajurit yang tersisa kini tak lebih dari 5000 orang.
Bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri pada musuh? Tapi dia pun tak bisa mengabaikan perintah kakaknya, dan langsung menuju ke tempat pangeran keenam.
Setelah sampai di kediaman pangeran keenam, pangeran kelima pun segera menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya, termasuk perintah dari kakak keempat mereka yang sudah terlihat sangat frustasi itu.
"Bukankah itu terlihat seperti kita akan menyerahkan nyawa? Saat ini prajurit yang tersisa pun lebih sedikit di banding jumlah kemarin" ucap pangeran keenam.
Pangeran kelima pun mengangguk membenarkan namun kemudian berucap
"Walau bagaimanapun kakak keempat saat ini adalah kakak tertua kita, sudah sewajarnya jika kita mengikuti keinginannya untuk segera bersiap dan melakukan penyerangan, aku tak bisa membiarkan ayahanda bahagia begitu saja setelah melenyapkan ibunda dan juga kakak pertama" ucap pangeran kelima
__ADS_1
"Baiklah.. Sepertinya aku juga harus bersiap, bagaimana pun juga ibundaku mengalami ketidakadilan saat berada di istana, ayahanda dan selir yang lain sengaja menyingkirkan ibundaku" Ucap pangeran keenam sambil mengeraskan rahang nya.
"Kita harus menyerang diam-diam, jika kita langsung menyerang secara terbuka, sudah di pastikan jika mereka pasti akan mengalahkan kita" ucap pangeran keempat
"Baiklah aku setuju, aku akan menyuruh seseorang untuk kembali menyelinap ke dalam istana" ucap pangeran keenam
"Itu bagus, kita harus bergerak cepat sebelum ayahanda mengirimkan pasukan untuk membantai kita semua, sementara ini kita akan diam terlebih dahulu. Dan mengawasi dari kejauhan, kita tak bisa menganggap remeh kekuatan yang dimiliki ayahanda, bahkan dia juga berhasil meratakan kekaisaran yang lebih besar saat itu" ucap pangeran kelima sambil berjalan keluar dari kediaman pangeran keenam.
Saat ini pangeran ke lima pun harus segera menyiapkan pasukan tempur nya dan sedikit melatih mereka kembali agar tak kaku saat melakukan peperangan nanti.
Sepertinya saat ini ketiga pangeran itu lupa jika beberapa waktu yang lalu rumor tentang menantu kekaisaran telah menghabisi nyawa para pemberontak beserta menyiksa para ketua dan juga wakil ketua dari organisasi itu dengan keji dan sangat brutal menyebar. Saat ini ketiganya hanya fokus memikirkan seberapa besar kekuatan yang di miliki istana kekaisaran hingga bisa meratakan kekaisaran Jang dalam semalam.
Di sisi lain An Xia dan juga Ai Li saat ini tengah berkunjung di kekaisaran Xin, mereka sangat penasaran dengan putri Xin Quan yang di rumorkan sombong dan juga manja.
Ai Li dan An Xia di sambut dengan hangat oleh kaisar Xin, dengan santai fia pun memperkenalkan An Xia dan jua Ai Li pada putri semata wayang nya Xin Quan.
Ai Li dan An Xia saling pandang, wajah mereka seperti sedang saling memberi kode sebelum akhirnya tertawa, Xin Quan sebenarnya sangat penasaran dengan kedua calon ipar nya itu.
Ai Li dan An Xia pun berpamitan pada kaisar Xin untuk membawa Xin Quan menuju sebuah taman untuk berbicara.
Nampak keduanya sangat santai, hingga Xin Quan pun merasa jika kedua calon iparnya bukanlah orang biasa, keduanya pasti memiliki sesuatu yang sangat spesial hingga kaisar Yuan menjadikan keduanya sebagai menantu.
Tapi apa yang kaisar Yuan lihat? Bahkan jeduanya terlihat seperti anak kecil yang manis saat ini.
"Aku tahu kau memiliki banyak topeng, tak perlu menyembunyikan hal itu dari kami, sorot matamu membuatku mengerti sesuatu, kau tidak sesederhana yang terlihat" ucap Ai Li
Xin Quan pun tertegun, hingga akhirnya seringaian muncul dari sudut bibir Xin Quan
"Kalian benar, aku memang memiliki kemampuan dan kesukaan yang berbeda dengan gadis lain seusiaku" ucap Xin Quan
__ADS_1
"Aku tahu tanganmu berlumuran darah, kau bukanlah gadis lugu dan juga manja seperti yang terlihat, kau bersembunyi terlalu dalam putri Xin Quan" ucap An Xia
Xin Quan hanya tersenyum dengan santai sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Kau benar, aku suka darah.. Melenyapkan orang bukanlah hal yang sulit untukku, aku memiliki kemampuan untuk mengeksekusi lawan dengan brutal dan kejam" ucap Xin Quan
"Ckckck... Jangan terlalu memperlihatkan kesombonganmu itu pada kami, apa kau sudah mendengar jika beberapa hari yang lalu gerombolan pemberontak di kekaisaran Yuan telah di eksekusi oleh menantu kaisar?" tanya An Xia.
Xin Quan melotot, seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh An Xia, kemudian menjerit dan berjingkrak begitu bahagia
"Bukankah itu berarti bahwa tangan kalian pun tidak sebersih yang terlihat? Jangan bilang jika kalian berdua yang mengeksekusi mereka!" ucap Xin Quan sambil menatap kedua nya.
Ai Li hanya menatap sejenak kemudian kembali menyesap teh nya, ketenangan yang di tunjukkan kedua wanita itu sungguh membuat Xin Quan semakin penasaran.
"Mungkinkah mereka bisa mengeksekusi para penjahat itu dengan brutal? Bahkan mereka terlihat sangat santai seolah bukan mereka yang melakukannya.
"Itu memang kami.." ucap An Xia
Byuuurrr...
Xin Quan menyemburkan teh dari mulutnya dan
Uhuk... Uhuk...
Dia pun terbatuk, sambil memandang kedua nya Xin Quan pun mengatakan kalimat yang membuat Ai Li dan An Xia terpukau.
"Bisakah kalian mengajakku main bersama? Sepertinya dapat menebas leher orang akan membuatku semakin bersemangat" ucap nya dengan mata memohon.
"Ckckck.. Kau ini seperti a****g saja, jangan melalak di depanku, dan kondisikan juga dirimu itu, kau terlalu barbar untuk bergabung dengan kami" ucap An Xia
__ADS_1
Tapi dengan cepat Xin Quan pun segera menjawab.
"Hehehe.. Aku memiliki seribu topeng di wajahku, jika harus menjadi putri yang anggun seperti kalian, itu hanya masalah kecil, tapi kalian juga harus memberiku mainan yang bagus, agar aku bisa bersenang-senang" ucap Xin Quan sambil menaik turunkan alis nya.