
Pagi menyapa, sang mentari malu-malu memunculkan sinarnya, sepasang suami istri saat ini masih lelap dalam tidur nya, sambil terus memberikan dekapan dan juga kehangatan untuk pasangan terkasih nya.
Riuh suara burung kenari bernyanyi, terbang bebas kesana kemari sambil memamerkan kepakan sayap nya dengan anggun.
Derap langkah para prajurit terdengar menuju lapangan pelatihan, riuh para pelayan pun berhambur menuju pekerjaan mereka, terdengar begitu nyaring di telinga sepasang suami istri.
Sang istri menggeliat dari pelukan suaminya dan mulai membuka matanya perlahan, sinar mentari mulai masuk melalui ventilasi udara kamar nya.
Tangannya terulur untuk melepaskan rangkulan tangan sang suami yang setia melingkari pinggang nya semalaman.
Wanita itu menatap wajah suaminya yang terlihat begitu polos dan juga sangat imut dimatanya, sambil menoel hidung mancung milik sang suami yang terlihat kembung kempis saat menarik nafas dalam tidurnya.
"Kalau sedang tidur saja, dia terlihat begitu imut! Entah kenapa dia tak beisa menyayangi kedua putranya!" rutuk sang istri sambil membelai wajah suaminya yang masih anteng memejamkan mata.
Hap...
Baru saja telunjuk wanita itu ingin menoel kembali hidung suaminya, ternyata sang suami telah bangun dan langsung menangkap telunjuk istrinya itu dengan mulutnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Cepatlah bangun! Bukankah hari ini kau akan pergi menuju kekaisaran Jang?" tanya Ai Li.
Mendengar ocehan istrinya, pangeran kedua pun membuka matanya perlahan sambil mengemut telunjuk sang istri.
"Sebentar lagi!" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Ai Li hanya fiam melihat kelakuan suami bucin nya itu sambil terus mengelus rambut panjang suaminya, meskipun sebenarnya hatinya berat melepaskan suaminya untuk pergi menumpas para bandit di kekaisaran Jang itu, tapi dia tak bisa menolak ataupun melarang sang suami.
Apalagi perintah dari kaisar adalah mutlak dan tak bisa di bantah siapa pun.
Pangeran kedua bergegas bangun dan segera menyuruh para pelayan untuk mempersiapkan air mandi nya. Sementara Ai Li segera mempersiapkan seluruh keperluan suaminya.
Setelah semuanya siap, pangeran kedua pun segera membersihkan diri dan juga berganti pakaian.
Sebelum menuju aula istana, pangeran kedua menyempatkan diri untuk melihat kedua bayi kembar nya yang saat ini masih berada di atas ayunan.
"Dengar! Hari ini ayah akan pergi menuju kekaisaran Jang! Kalian jangan nakal! Jangan menyusahkan ibu kalian!" ucap pangeran kedua sambil mengecup kening Yuan Weisheng dan juga Yuan Weimin.
Kedua bayi itu tersenyum sambil terus berceloteh, keduanya sepertinya begitu bahagia melihat ayah mereka yang akan pergi, dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama Ai Li, sang ibu.
__ADS_1
Pangeran kedua melihat kedua putranya itu, matanya sedikit menyipit, dan gurat di kening nya pun terlihat hijau dan juga menonjol.
"Jangan berfikir untuk merebut ibu kalian dariku! Ingat! Setelah kalian besar nanti, cepatlah mencari calon istri agar tak mengganggu ayah dan ibu kalian lagi!" ucap pangeran kedua sambil menunjukan jari telunjuk nya.
Mata kedua bayi itu melotot mendengar peringatan dari ayah mereka, keduanya pun langsung memalingkan muka seolah mengerti apa yang di katakan oleh ayah bucin nya itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Pangeran kedua pun melanjutkan perjalanan nya untuk meminta berkat dan juga restu dari sang ibu, tak lupa dia juga berpamitan pada kaisar Yuan.
Kepergian pangeran kedua bersama 5000 orang pasukan the shaddow team tentu saja mengejutkan rakyat yang melihatnya, mereka tentu sudah mendengar bagaimana sepak terjang dari bawahan Queen Shaddow itu, tapi benar-benar tak menyangka jika semua pasukan itu adalah milik pangeran kedua.
Tak...
Tak...
Tak...
"Ayo kita berangkat!" teriak pangeran kedua.
Drap...
Drap...
Drap...
Langkah kuda terdengar menggema keluar dari istana kekaisaran, pangeran kedua memimpin dengan beberapa orang yang di percaya oleh Ai Li guna menjaga suaminya dan membantu menyelesaikan segala urusan di kekaisaran Jang nanti.
Butuh waktu sekitar sepuluh hari jika menunggang kuda dengan cepat menuju kekaisaran Jang, karena itulah pangeran kedua telah memerintahkan para pasukannya untuk mendirikan tenda di tepi hutan.
Berkali-kali kelompok mereka pun di serang oleh segerombolan bandit hutan maupun binatang penjaga, bahkan tanpa perintah dari pangeran kedua, pasukan the shaddow team pun langsung membabat habis para pengganggu itu seperti menepuk nyamuk saja.
Pagi kembali datang, setelah beristirahat semalaman, pasukan itu pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju kekaisaran Jang.
__ADS_1
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama sepuluh hari, mereka pun sampai di gerbang kekaisaran Jang.
Suasana di tempat itu terlihat sangatlah sepi, bahkan rakyat sekalipun tak terlihat di sana.
Tentu saja, karena saat ini rakyat tengah berbondong-bondong untuk bekerja sebagai budak untuk membuat sebuah istana yang megah dan juga sangat mewah untuk putri dari si bandit Ma Chao yang bernama Ma Xue.
Rakyat di peras dan terus di paksa bekerja keras oleh Ma Chao demi memenuhi keinginan dari putri kesayangan nya yang manja.
Hal itu pasti akan di lakukan oleh Ma Chao mengingat saat ini banyak sekali raja dari kerajaan kecil yang bersedia bergabung dengan pasukan Ma Chao.
Mereka bahkan kini tengah berselisih dan terus saling memperebutkan si cantik Ma Xue.
Untuk Ma Xue sendiri, dia tak peduli raja mana yang akan menikahi nya, asalkan orang itu benar-benar bisa memanjakan dan menuruti semua keinginan Ma Xue, maka dia akan menerimanya.
Dia sangat ingin sekali menjadi seorang permaisuri yang di cintai dan di puja oleh semua orang.
Syuuut...
Tap...
Sebuah anak panah melesat dan langsung menancap di kursi singgasana yang tengah di duduki oleh Ma Chao, secarik kertas terlihat disana, membuat Ma Chao mengerutkan kening nya.
"Bedebah mana yang berani mengancamku dengan anak panah ini!" teriak Ma Chao sambil berdiri dan mengedarkan pandangannya pada semua orang.
"Cepat cari dimana pun bedebah itu! Dan bawa padaku hidup-hidup!" Ma Chao memerintahkan semua orang-orang nya.
Dia pun langsung mencabut anak panah itu sambil mengeluarkan secarik kertas yang menempel pada ujung anak panah.
Wajah Ma Chao menggelap saat membaca isi surat itu, dia pun segera meremas kertas itu dan membuang nya ke sembarang arah.
Penasehat istana yang kini menjadi penasihat Ma Chao pun bangkit dari duduk nya dan mengambil surat yang tadi telah di buang oleh Ma Chao.
Matanya menyipit saat membaca isi surat tersebut dengan tangan kiri yang terkepal.
'menyerah atau berperang?'
Hanya tiga kata yang tertulis di kertas itu tapi berhasil membuat Ma Chao benar-benar emosi saat ini.
__ADS_1
"Hei kau! Jika kau ingin berperang denganku, mari berperang! Tak perlu mengirimkan surat tak penting itu terhadapku, dasar bajingan kecil!" teriak Ma Chao entah pada siapa.
Para prajurit yang tadi di berikan perintah oleh Ma Chao pun telah kembali, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menjawab siapa dan dari mana anak panah itu berasal.