
Xin Quan hanya tersenyum kecut saat mendengar laporan dari salah satu pelayan selir suaminya, bukan kah kedua selir itu terlalu bodoh jika menganggap Xin Quan lemah dan tak menyiapkan rencana kedua? Bahkan jauh sebelum suaminya mengangkat selir, dia telah memikirkan cara untuk melenyapkan mereka.
"Sepertinya sebentar lagi palu kesayangan ku ini akan makan dengan kenyang!" ucapnya pelan sambil mengelus perut nya yang masih rata.
Xin Quan sama sekali tak merasa takut atau pun gentar menghadapi kedua selir suaminya itu, dirinya justru begitu bangga karena bisa menunjukkan ketangguhannya pada calon anak nya itu.
"Kau harus lihat bagaimana ibumu ini nanti menangani kedua ulat bulu yang baru saja menggeliat dari tanah itu nak.. Saat kau lahir nanti, kau harus lebih hebat dan lebih tangguh dari kami" ucap Xin Quan dengan senyum manis nya.
Yuan Jicheng hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang istri, tangan nya langsung ia lingkarkan di pinggang Xin Quan sambil mengecup pucuk kepala nya dengan penuh cinta.
"Biarkan aku saja yang akan menangani kedua ular kecil itu" ucap Yuan Jicheng di telinga Xin Quan.
Xin Quan hanya mendelik, bibir nya mengerucut saat mendengar ucapan dari sang suami.
Dia pun segera melepaskan rangkulan suaminya dan menggembungkan pipinya, kemudian menghentakan kaki nya dan berjalan menuju ke kursi.
Xin Quan terlihat begitu menggemaskan saat sedang merajuk, Yuan Jicheng selalu saja merasa tak berdaya jika melihat istrinya berfose seperti itu.
Dia pun segera melangkah mendekati Xin Quan dan berjongkok di hadapannya.
Tangan Yuan Jicheng terulur dan mengelus perut istrinya yang masih rata itu.
"Baiklah.. Jangan marah lagi, aku tidak akan merebut mainanmu itu, kau boleh melakukan apapun sekarang" ucap nya membuat wajah Xin Quan kembali sumringah.
__ADS_1
Wanita yang kini berbadan dua itu menatap suaminya dengan penuh puja dengan mata yang mengerling nakal.
"Suamiku memang yang terbaik.." ucapnya sambil mengunyel kedua pipi suaminya dengan telapak tangannya.
Yuan Jicheng langsung saja bangkit dan membopong Xin Quan ke peraduan, mata nya terlihat telah berkabut.
"Seperti nya aku harus menghukummu sekarang" ucap nya sambil membaringkan tubuh sang istri.
"Eh.." Xin Quan kaget melihat kelakuan suaminya yang seperti orang yang tengah kesurupan itu.
"Suamiku.. Bukan kah ini masih terlalu pagi?" ucap Xin Quan mencoba lepas dari kungkungan sang suami.
Sedangkan Yuan Jicheng hanya menyeringai melihat kegugupan istrinya itu.
Sementara itu di paviliun anggrek bulan saat ini, Ai Li terus saja di pusingkan dengan kelakuan dari sang suami yang terus menempel padanya.
Bahkan dengan terang-terangan suaminya itu mengambil bayi kecil yang ada di gendongan nya dan memberikan nya pada pelayan.
Kini Ai Li terlihat seperti ibu dari tiga bayi, dan yang lebih parahnya itu, bayi besar yang terus menempelinya kemana pun dia pergi seolah tak ingin berbagi kasih sayang dengan si kembar yang baru saja di lahirkan sebulan yang lalu.
Wajah cantik Ai Li mengerucut saat waktu bermain nya terus di ganggu oleh suami bucin nya itu, tapi nyatanya hal itu malah membuat pangeran kedua menyunggingkan senyuman puas.
Akhirnya dia bisa menyingkirkan dua iblis kecil itu dari dekat istri tercinta nya. Tapi tunggu.. Iblis kecil? Bukan kah kedua bayi itu putra nya? Jika begitu, siapa bapak iblis itu sebenarnya? Sepertinya pangeran kedua harus mengganti panggilan nya kepada kedua bayi kembar itu sebelum dirinya di panggil bapak iblis.
__ADS_1
Ai Li terus saja merengut, wajah nya terlihat pahit. Tak menampakan keramahan atau pun senyuman seperti biasanya.
Pangeran kedua tetap santai sambil merebahkan kepalanya di pangkuan istri tercinta, pikiran nya terasa begitu damai begitu juga dengan hatinya yang terus saja bahagia, akhirnya setelah satu bulan, dia bisa kembali bermanja pada Ai Li.
"Sepertinya aku harus segera melakukan sesuatu agar istriku tetap bersamaku, biarkan saja kedua anak itu bersama para pelayan. Huh, mereka terus saja mengambil perhatian istriku selama satu bulan ini. Lihat saja nanti aku akan mengirim mereka ke akademi secepatnya agar tak menjadi sainganku" gumam pangeran kedua.
Kepala Ai Li nampak manggut-manggut, sepertinya ibu dari si kembar itu mulai merasakan ngantuk dan ketiduran saat masih memangku kepala suaminya.
Pangeran kedua menoleh sambil tersenyum pahit, baru saja ingin berduaan, dia kembali di tinggalkan oleh istrinya yang langsung terlelap karena kelelahan.
Dengan segera dia pun bangun dan segera membetulkan posisi tidur istrinya, setelah menyelimuti tubuh Ai Li dengan selimut, pangeran kedua segera keluar dari kamar dengan langkah pelan, dia tak ingin membangunkan sang istri dari mimpi indah nya.
Kini langkah pangeran kedua menuju ke kamar kedua putranya, nampak para pelayan yang sibuk mengajak kedua bayi itu bermain sambil terus menggodanya dengan berbagai macam mainan.
Pangeran kedua melangkahkan kaki mendekat ke arah ayunan sambil terus melihat kedua bayi itu, wajah kedua nya benar-benar mirip dengan nya, sangat mirip.
Dahinya mengernyit melihat wajah kedua putranya itu, "Pantas saja istriku begitu menyukai kedua anak ini, rupanya wajah mereka benar-benar mirip denganku" gumamnya dalam hati sambil melotot ke arah kedua putra kembar nya.
"Huh.. Mereka seperti nya tidak menyukai ku" ucap pangeran kedua sambil terus memperhatikan kedua bayi yang nampak langsung memalingkan wajah nya.
Perseteruan dan persaingan sepertinya akan segera dimulai antara ayah dan juga kedua putra nya ini, pangeran kedua langsung mencibir sambil memandangi putranya.
"Walaupun wajah kalian mirip denganku, Ai Li akan terus jadi milik ku. Huh... Jangan harap kalian bisa merebut istriku itu!" dengus nya sambil melangkah meninggalkan kamar kedua putra nya yang langsung menangis seolah mengerti apa yang di katakan oleh sang ayah.
__ADS_1