
Yuan Jicheng terlihat begitu emosi setelah mendengar pengakuan dari ke tiga pembunuh bayaran itu, dadanya naik turun, matanya memerah dengan tangan yang terkepal.
Dia tak pernah menduga jika salah satu selir nya yaitu Yun, berniat untuk membunuh istri tercinta nya.
Dengan cepat, Yuan Jicheng pun segera keluar dari dalam kamarnya dan memerintahkan para prajurit yang berjaga untuk membuang jasad para pembunuh bayaran itu dari dalam kamar nya.
Segera para prajurit itu melaksanakan titah yang di berikan oleh Yuan Jicheng, mereka mulai melangkah memasuki paviliun dan bersiap untuk membersihkan semua kekacauan tadi.
Tapi tiba-tiba saja mata mereka terperanjat melihat ceceran darah yang begitu banyak di lantai, apalagi dengan potongan daging segar yang telah di cincang-cincang.
Keterkejutan mereka tak hanya sampai disana, kali ini mereka kembali di buat ternganga oleh pemandangan di hadapannya, ada tiga jasad tanpa kepala, dengan isi perut yang sudah di keluarkan bahkan badan nya pun di potong beberapa bagian.
Hoek...
Hoek...
Beberapa orang prajurit pun berlarian keluar dari paviliun itu sambil memuntahkan semua makanan di perut mereka, betapa mengerikan nya mayat para pembunuh bayaran yang telah di bantai itu.
Dengan sangat hati-hati dan penuh ketelatenan, akhirnya mereka pun berhasil mengumpulkan semua kumpulan tubuh dari mayat para pembunuh bayaran itu kemudian memasukkan nya ke dalam karung, dan berniat membuang nya ke hutan.
Setelah itu, mereka pun segera memanggil para pelayan untuk membersihkan sisa darah di lantai yang masih berceceran.
Sementara itu Yuan Jicheng telah sampai di paviliun yang di huni oleh selir Yun, dengan cepat dia pun berjalan memasuki paviliun itu.
Brak...
Suara pintu kamar yang tiba-tiba saja di tendang dari luar oleh Yuan Jicheng.
Yun yang saat itu tengah di dandani para pelayan nya pun sontak kaget dan langsung membalikkan tubuh nya ke arah pelaku pendobrakkan pintu itu.
__ADS_1
Mata Yun langsung tersenyum lembut saat menyadari jika yang mendatangi nya itu adalah Yuan Jicheng yang sangat di rindukan nya, Yun pun segera bangkit dari duduk nya dan langsung membungkukkan badannya.
"Salam pangeran!" ucap Yun dengan suara yang di lembut-lembut kan, membuat Yuan Jicheng merasa semakin jijik padanya.
Sementara Yuan Jicheng langsung berjalan ke depan sambil mendudukkan dirinya d kursi.
"Sampai kapan kau akan terus berpura-pura menjadi seorang gadis polos selir Yun?" tanya Yuan Jicheng sambil memandang Yun dengan tajam seolah berusaha untuk menyelami isi hati wanita itu.
Yun tergagap mendengar pertanyaan dari Yuan Jicheng, tapi tak lama kemudian dia pun segera mengubah ekspresi nya dengan sangat tenang.
"Apakah hamba telah melakukan kesalahan pangeran?" tanya Yun berpura-pura, padahal dalam hatinya saat ini dia sungguh cemas dan juga waswas memikirkan nasib nya jika sampai para pembunuh bayaran itu tertangkap.
Yuan Jicheng menyipitkan matanya sambilmelihat Yun dengan pandangan yang sinis dan penuh ejekan.
"Kau sungguh sangat pandai memainkan sandiwara mu itu selir Yun" ucap Yuan Jicheng sambil berdengus.
"Hamba tidak mengerti maksud pangeran" ucap Yun masih dengan nada yang pelan sambil tersenyum manis, seolah dia benar-benar wanita yang polos dan tanpa cela.
Deg...
Deg...
Deg...
Terdengar suara jantung Yun yang berdetak kencang saat mendengar ucapan yang sarkas dari Yuan Jicheng.
Tapi Yun segera mengenyahkan pikiran buruk nya dan kembali tenang.
Dalam hati Yun meyakini jika Yuan Jicheng sangat mencintai nya, jadi tidak mungkin jika dia akan mencelakai dirinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bosan terus berpura-pura dan menunjukkan wajah polos palsumu itu di hadapanku?" tanya Yuan Jicheng kembali.
Yun hanya menggeleng kecil untuk menjawab pertanyaan dari Yuan Jicheng tersebut.
"Kau berusaha untuk melenyapkan istri dan juga calon anak ku! Apa kau lupa? Atau kau akan terus berpura-pura tak tahu?" bentak Yuan Jicheng sambil menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
Kepala Yun tertunduk saat mendengar kemarahan dari Yuan Jicheng, dia benar-benar tak menyangka jika Yuan Jicheng akan mempertanyakan hal itu padanya dan membela Xin Quan.
"Apakah putri Cin Quan yang mengatakan hal itu pada pangeran?" tanya Yun yang masih saja terus berkelit untuk mencari muka dan juga menyalahkan Xin Quan.
"Kau tahu? Bahkan istri ku tak pernah berfikiran buruk tentang mu! Tapi kau? Kau berusaha untuk melenyapkan istri dan juga calon anakku! Apa kau lupa siapa dirimu selir Yun? Kau hanyalah seorang pelayan kelas rendah yang kebetulan di angkat menjadi selir oleh istriku! Apa kau pikir kau memiliki nilai di mataku? Bahkan dulu.. Aku hanya menjadikan mu pelampiasan hasrat ku semata dan tak lebih dari itu!" ucap Yuan Jicheng terang-terangan menghina dan juga merendahkan Yun.
Yun langsung berderai air mata mendengar ucapan dari Yuan Jicheng, sedikit pun dia tak pernah menyangka jika selama ini Yuan Jicheng tak pernah menaruh hati sedikit pun padanya.
Yun segera bersujud dan memeluk kaki Yuan Jicheng, dia merasa dunia nya seakan runtuh saat mendengar ucapan dari pria yang telah menguasai hati dan juga pikirannya itu.
Yun sama sekali tak pernah tahu jika selama ini Yuan Jicheng benar-benar tak pernah mencintai nya, bahkan dia selalu berfikir jika apa yang di lakukan oleh Yuan Jicheng semata-mata untuk keselamatan ke tiga selir nya agar tak di sakiti oleh Xin Quan.
Betapa bodohnya Yun yang tak bisa melihat tingginya langit dan rendahnya bumi, dia bahkan dengan bangganya selalu mengatakan jika Yuan Jicheng sangat mencintainya dan begitu melindunginya.
Dan apa yang dia dapatkan hari ini? Yuan Jicheng bahkan memandang nya dengan sangat jijik, dan juga mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan di hadapan semua pelayannya.
"Maafkan kebodohan hamba pangeran, hamba mengakui kesalahan hamba, tolong berikan ampunan dan juga belas kasih untuk selir bodoh ini" ucap nya sambil membenturkan dahi nya di lantai hingga berdarah.
Yuan Jicheng tak bergeming dari tempat nya, meskipun kening Yun telah mengucurkan darah, tangan kanan nya segera merogoh saku hanfu nya dan melemparkan nya pada Yun.
Trang...
Suara palu kecil yang terjatuh di lantai tepat di depan Yun, Yun memandang palu itu sambil mengerutkan kening nya, sedangkan Yuan Jicheng menyeringai menunjukkan senyuman iblis nya.
__ADS_1
"Kau tak akan mati dengan cepat jika hanya dengan membenturkan dahimu di lantai, lebih baik kau ambil palu itu dan kau hantamkan di kepala mu dengan sekuat tenaga, agar kau bisa segera bertemu dewa Yama" ucap Yuan Jicheng kembali sambil berdiri dari duduk nya.