2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 53


__ADS_3

"Apakah kau sepemikiran dengan ku?" tanya pangeran kedua sambil melirik pangeran ketiga yang saat ini masih sibuk memandangi istri dan juga kakak iparnya itu.


"Sepertinya iya.." ucap pangeran ketiga sambil melirik sekilas ke arah pangeran kedua.


"Haruskah kita ikut turun tangan atau membiarkan mereka melakukan nya sendiri?" tanya pangeran ketiga sambil menatap raut wajah pangeran kedua secara intens.


"Biarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, selama itu tidak membuat mereka dan juga anak yang berada dalam kandungannya dalam bahaya, kita tak perlu ikut campur. Namun kita harus tetap mengawasi nya, jangan sampai mereka menemukan kesulitan apa pun" ucap pangeran kedua dengan lugas.


"Baiklah.. Aku setuju denganmu. Kita hanya akan mengawasi mereka dari jauh" ucap pangeran ketiga sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lebih baik kita segera pergi dari sini, jangan sampai istri kita merasa tidak nyaman dan terus diawasi" ucap pangeran kedua sambil melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


Pangeran ketiga hanya mengikutinya dari belakang dengan patuh, tanpa memprotes sedikit pun.


Sedikit banyak nya dia juga sudah tau kemampuan yang di miliki kedua wanita itu, jadi dia tak sebegitu khawatir saat menyadari jika istri dan kakak iparnya itu hendak melakukan sesuatu yang berbahaya.


An Xia dan Ai Li sebenarnya menyadari jika sejak tadi suami mereka terus mengawasi dari kejauhan, namun kedua istri yang sedang berbadan dua itu tentu saja tidak merasa keberatan dengan kelakuan suaminya itu.


Mereka juga menyadari jika apa yang dilakukan suami mereka itu masih dalam batas wajar, hanya ingin melihat iatri mereka nyaman danbisa melewati masa kehamilan nya dengan baik.


"Apa kau akan mengajak suamimu itu ikut bermain?" tanya An Xia sambil melirik sahabatnya.


"Tidak, biarkan dia fokus pada masalah istana saja. Kita bisa menyelesaikan masalah ini sendiri" ucap Ai Li santai.


Pangeran keenam saat ini ada di ruang kerja kaisar, dia berniat untuk mengambil alih tugas untuk menumpas beberapa pemberontakan di beberapa desa itu dari kedua kakak tirinya.

__ADS_1


Dia juga sudah mempersiapkan beberapa alasan logis yang tentu saja tak akan bisa di bantah oleh kaisar.


"Hormat kepada yang mulia Ayahanda.. Putra keenam menghadap" ucapnya sambil membungkuk.


Melihat kedatangan putra keenam nya, kaisar Yuan pun segera menyimpan kembali kuas nya dan melirik putra nya.


"Bangunlah putraku.. Zen menerima hormat mu, duduklah.." ucap kaisar Yuan


Pangeran keenam pun segera bangkit dan berjalan menuju sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan ayah nya.


"Ada apa?" tanya kaisar Yuan langsung ke pokok permasalahan.


"Ayahanda, saat ini istri dari kakak kedua beserta kakak ketiga sedang mengandung. Pangeran ini berfikir untuk mengambil alih tugas untuk memberantas para pemberontak yang saat ini sedang merajalela di kekaisaran kita. Hal ini berguna untuk menunjukan kemampuan pangeran ini dan juga bisa membuat kedua kakak lebih memiliki waktu luang untuk bisa menemani istri mereka yang sedang mengandung" ucap pangeran keenam sambil menjeda ucapannya saat seorang pelayan masuk dan menghidangkan teh dan beberapa cemilan di meja.


Usia pangeran keenam saat ini memang sudah mencapai 15 tahun, dan sudah lulus dari akademi, namun pengalaman mengenai pertempuran dan juga politik, kaisar Yuan merasa harus memikirkannya lebih baik lagi.


"Prajurit.. Panggil pangeran kedua beserta pangeran ketiga kemari" ucap kaisar Yuan.


Pangeran keenam mengernyit tak suka melihat tindakan ayahnya yang seolah tidak mempercayai kemampuannya namun masih mempertahankan ketenangan dan juga ketegasannya di depan sang ayah.


Tak lama pangeran kedua beserta pangeran ketiga pun datang, setelah membungkuk memberi hormat, mereka pun segera duduk di kursi lain tak jauh dari ayahnya.


"Adik kalian ingin mengambil alih tugas untuk memberantas pemberontakan di beberapa desa yang sedang marak akhir-akhir ini, bagaimana pendapat kalian?" tanya kaisar Yuan.


Pangeran kedua dan pangeran ketiga pun saling pandang sebentar sebelum pada akhirnya keduanya pun mengangguk setuju.

__ADS_1


" Tidak masalah ayah, selain kita bisa melihat kemampuan adik ke enam dalam menyelesaikan pemberontakan ini, kami juga di untungkan dengan bisa tetap dekat dengan istri kami yang saat ini sedang mengandung" ucap pangeran kedua dengan santai.


"Itu benar, jika adik ke enam bersedia mengambil alih tugas itu, maka kami juga bisa lebih tenang menjaga istri kami" ucap pangeran ketiga.


Mendengar jawaban dari kedua kakak tirinya, pangeran keenam pun tersenyum dengan sumringah.


"Jika seperti itu, maka adik juga tidak akan sungkan" ucap pangeran keenam sambil bangkit dari duduk nya dan sedikit membungkukkan badannya di hadapan pangeran kedua dan pangeran ketiga.


"Tidak perlu sungkan seperti itu.. Duduklah.. Lagi pula kedua kakakmu ini pasti akan senang jika kau memiliki pencapaian yang bagus di masa depan. Sebagai seorang pangeran tentu saja adik juga harus memiliki kontribusi yang besar untuk istana agar bisa di perhitungkan" ucap pangeran kedua sambil tersenyum penuh arti.


"Itu benar, sebagai generasi yang lebih tua, tentu saja kedua kakakmu ini akan membantu adik untuk bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kau harus lebih bersemangat lagi" ucap pangeran ketiga.


Kata-kata dari kedua kakak tirinya ini terkesan memprovokasi, tapi karena saat ini pangeran keenam telah larut dalam kebahagiaan dan juga mimpinya untuk bisa mengambil alih kekaisaran Jang dimasa depan, kata-kata kedua kakaknya itu hanya di anggap angin lalu.


Dia tak pernah berfikir jika ucapan mereka itu tentu saja akan di buktikan dengan tindakan kedua istri mereka yang sudah mengetahui niat dan juga kelicikan dari saudara-saudara suaminya.


Pangeran keenam pun segera mohon diri, setelah berpamitan pada ayah dan juga kedua saudara tirinya itu, dia pun bergegas kembali ke paviliun nya untuk membuat penampilan terbaik dari aksi heroik nya nanti dalam memberantas para pemberontak sekaligus mendapatkan pujian sang ayah beserta rakyat kekaisaran.


Dengan langkah lebar dan senyum yang terpatri di bibirnya, dia pun segera menyuruh para pelayannya untuk mempersiapkan seluruh keperluan nanti, tak lupa dia juga membawa beberapa peti koin emas agar bisa membagikannya kepada rakyat miskin dan mendapatkan pujian sebagai pangeran yang dermawan.


Dia juga memilih orang-orang yang tangguh menurutnya yang akan mengikutinya dalam pemberantasan pemberontakan itu, tak lupa dia juga mengirimkan pesan pada orang-orang nya untuk bersiap membantu pada saat di perlukan.


"Jangan lupa untuk memberikan racun itu pada putri An Xia dan juga putri Ai Li satu hari setelah pangeran ini berangkat dari istana. Dan satu lagi, jangan membuat siapa pun mencurigaiku atas apa yang terjadi nantinya. Pastikan kedua wanita itu keguguran atau mati lebih baik lagi" ucap pangeran keenam sambil menyerahkan botol racun pada pelayannya dan juga sekantung koin sebagai imbalan.


"Tentu saja pangeran, hamba siap menjalankan tugas ini dengan baik, pangeran tidak akan kecewa pada hamba" ucap pelayan itu sambil pergi dari paviliun majikannya.

__ADS_1


__ADS_2