
Mei segera beranjak dari tempat duduk nya, kemudian kembali berjalan menuju ke paviliun nya, hatinya diliputi kegembiraan karena merasa jika rencana nya untuk menyingkirkan Yui dan juga Xin Quan akan segera terlaksana.
Apa lagi kini Yui pun ada di pihaknya dan bersedia untuk membantu mengirimkan racun pada Xin Quan.
Kini dia tengah menulis surat untuk para pembunuh bayaran yang telah di sewa nya agar segera mengeksekusi Xin Quan, dia juga telah memberi tahukan para pembunuh itu untuk menutup mulut mereka rapat-rapat jika tertangkap. Atau menyebutkan nama Yui jika memang di perlukan.
Mei berencana untuk mengkambing hitamkan Yui untuk semua rencana yang di buatnya, bahkan dengan tega nya dia juga mengirimkan racun ke makanan Yui.
Namun siapa yang lebih cerdik? Yui atau Mei? Bahkan saat ini Yui tengah menemui Yuan Jicheng untuk memberitahukan seluruh rencana yang di buat oleh Mei.
Yui bahkan memberikan racun yang di berikan oleh Mei kepada nya siang tadi kepada Yuan Jicheng, hingga mantan pangeran kelima kekaisaran Yuan itu pun terlihat sumringah.
Yui tak tahu jika sebenarnya Yuan Jicheng telah mengetahui semua akal bulus nya yang ingin mengadu domba Mei dengan Yuan Jicheng dan juga Xin Quan.
Namun, demi membuat sang istri tercinta merasa senang, dia pun mengikuti semua permainan dari Yui dan berpura-pura baru mengetahui hal itu dari Yui.
Sungguh konyol selir yang satu ini, meskipun dia pernah menjadi pelayan dari Yuan Jicheng, dia bahkan tak pernah tahu apa yang di lakukan dan juga di rencanakan oleh Yuan Jicheng.
Matanya telah tertutup karena begitu mendamba dan juga menginginkan Yuan Jicheng sebagai milik nya sendiri.
Sedangkan Yuan Jicheng? Jangan kan tertarik, baginya kini selir-selir nya itu tidaklah berarti sama sekali jika di bandingkan dengan istri tercinta nya.
Selir-selir nya itu hanyalah sebuah pemenuhan hasrat saat dia belum bisa mendapatkan Xin Quan, ibarat nasi bungkus, habis tak habis buang! Jangan lupa cuci tangan.
Xin Quan berjalan menuju ruang kerja Yuan Jicheng, matanya sedikit mendelik dengan tajam saat menangkap siluet seorang wanita tengah bercengkerama dengan sang suami.
Tanpa meninggalkan keanggunan dan juga kesopanan nya, dia pun membuka pintu itu dengan sangat pelan.
Yuan Jicheng segera bangkit dari kursi nya dan menyambut kedatangan Xin Quan, tak lupa dia juga meminta agar Yui kembali ke paviliun nya.
Yui tersenyum pahit melihat kemesraan yang di pertontonkan oleh Xin Quan bersama Yuan Jicheng, tapi dia berusaha untuk terus meredam emosi dan juga rasa cemburunya itu dalam-dalam.
Yui tersenyum dengan sangat manis, dengan patuh dia pun segera meninggalkan ruangan kerja milik Yuan Jicheng.
Setelah kepergian Yui, Yuan Jicheng pun segera memberi tahu Xin Quan tentang semua yang di ceritakan oleh selir nya itu, Xin Quan mendengar dengan seksama semua penjelasan yang di berikan oleh suaminya.
Lalu terlihat jari lentik nya itu naik dan mulai mengetuk meja, sepertinya saat ini Xin Quan juga tengah merancang sebuah rencana untuk menyerang kedua selir itu.
Akhirnya wanita itu pun tersenyum lebar sambil memeluk suaminya dan langsung keluar dari ruang kerja Yuan Jicheng dengan wajah sedih.
Para pelayan dan juga pengawal yang melihat raut wajah Xin Quan pun bertanya-tanya dalam hati, ada apa? Pikir semua orang.
Kini langkah Xin Quan telah sampai di paviliun Mei, setelah di berikan izin, akhirnya Xin Quan pun masuk ke dalam.
"Salam kepada putri Xin Quan" ucap Mei sambil membungkuk.
__ADS_1
Xin Quan hanya mengibaskan lengan hanfunya dan Mei pun kembali bangkit.
Setelah duduk, kedua orang wanita itu pun langsung menikmati teh dan juga cemilan yang di sajikan oleh para pelayan Mei.
Xin Quan masih menunjukan raut kesal di wajahnya, bahkan kini jari lentik nya mulai menggenggam cangkir teh dengan kasar.
Prang...
Cangkir itu pun pecah setelah di banting oleh Xin Quan, bahkan telapak tangannya kini terlihat merah.
"Putri, apa yang terjadi dengan mu? jangan lakukan hal seperti itu lagi! Mei mohon, pangeran pasti akan sangat terluka jika tahu putri menyakiti diri sendiri seperti ini" ucap Mei berpura-pura peduli
"Hiks... Hiks..." Xin Quan pun menangis sambil memeluk Mei, tubuh wanita yang sedang berbadan dua itu pun terlihat bergetar di sertai lelehan air matanya yang terus mengalir.
"Ada apa putri?" tanya Mei kembali.
Xin Quan menatap Mei dengan mata yang berkaca-kaca, kesedihan terlihat di mata nya yang indah.
"Yuan Jicheng ingin menjadikan Yui sebagai istri sah nya. Hiks... Hiks... Apa salah ku Mei? Apa kekurangan ku? Dia benar-benar tega! Aku bahkan telah mengijinkan dia untuk menjadikan Yui sebagai selir nya, tapi sekarang dia ingin menggeser posisiku sebagai istri sah dari Yuan Jicheng" ucap Xin Quan sambil menggebrak meja.
Kedua tangan Mei nampak mengepal, matanya pun memerah menahan amarah, kenapa harus Yui? Kenapa bukan dirinya yang di pilih oleh Yuan Jicheng sebagai istri sah nya? Bukankah Mei jauh lebih cantik, lebih seksi dan juga lebih pintar?
Tak mungkin rasanya jika Xin Quan berbohong, wanita itu terlihat begitu sakit dan juga rapuh, bahkan air mata nya terlihat mengalir begitu deras bersama dengan sakit hati dan juga penderitaan nya.
Sedangkan Xin Quan memiringkan kepalanya sedikit sambil tersenyum tipis.
"Lebih baik putri sekarang kembali ke paviliun dan beristirahat, putri harus menjaga diri dengan baik! ingat anak yang ada dalam perut putri!" ucap Mei sok bijak sambil membantu Xin Quan untuk keluar dari paviliun nya.
Prang...
Prang...
Prang...
Setelah Xin Quan pergi, Mei langsung mengamuk di paviliun nya, dia melemparkan seluruh barang milik nya dan menghempaskan nya dengan sangat kasar.
Dia sangat sakit hati pada Yui yang telah berani merebut Yuan Jicheng dari nya, dan kini wanita itu pun terlihat menangis histeris sambil terus berteriak memaki Yui.
Xin Quan melangkahkan kaki nya menuju ke paviliun Yui, wanita hamil itu terlihat sangat sedih, bahkan dia berjalan dengan sangat gontai.
"Putri.." panggil Yui sambil memapah Xin Quan menuju paviliun nya.
Dahi Yui terlihat berkerut melihat keadaan Xin Quan yang menyedihkan, matanya terlihat sembab, dengan hidung yang memerah.
Sepertinya wanita hamil itu telah menangis cukup lama, hingga membuat penampilan nya pun terlihat sangat berantakan.
__ADS_1
Dengan cekatan, Yui pun mengambilkan segelas air putih untuk Xin Quan.
"Diminum dulu putri!" ucap Yui sambil menyodorkan gelas di tangan nya.
Xin Quan pun langsung mengambil gelas itu, dan meneguk air di dalam nya dengan sangat kasar.
"Yui! Hiks... Hiks.." Xin Quan kali ini kembali menangis sambil menyender ke bahu Yui.
Yui mengusap rambut Xin Quan dengan pelan sambil menunggu apa yang ingin di katakan oleh istri sah dari suaminya itu.
"Yuan Jicheng ingin menjadikan mu sebagai istri sah nya, karena dia sangat menyukaimu dan merasa kasihan terhadap ku yang sedang mengandung. Aku tak mungkin bisa terus mendampinginya dalam keadaan hamil seperti ini, tapi.. Hiks... Hiks.." Xin Quan menjeda ucapannya dan kembali menangis.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Yui seolah tengah di pompa dengan sangat cepat mendengar penuturan dari Xin Quan, dia kali ini merasa tak sabar mendengar kelanjutan cerita dari wanita hamil itu.
"Tapi apa putri?" tanya Yui.
"Ta-tapi Mei menolaknya, dia tak ingin kau menjadi istri sah dari Yuan Jicheng" ucap Xin Quan sambil mengintip raut wajah Yui dengan sudut matanya.
Wajah Yui terlihat menggelap saat mendengar ucapan dari Xin Quan, ternyata Mei benar-benar munafik, di depan Yui dia bertindak seperti seorang sahabat sejati, tapi di belakang nya dia ternyata ingin menjatuhkan dirinya, bahkan istri sah dari suaminya ini terlihat begitu sedih saat mengungkapkan hal ini padanya.
Yui berusaha untuk tersenyum manis pada Xin Quan meskipun hatinya saat ini begitu geram dan ingin segera menemui Mei untuk menjambak rambut nya dan juga menginjak-injak tubuh selir tak tahu diri itu.
"Meeei.. Sepertinya kau telah menabuh genderang perang hari ini! Lihat saja, aku akan segera melenyapkan mu secepatnya!" gumam Yui dalam hati sambil mengeram marah.
"Putri, banyak menangis tidak baik untuk kesehatan tubuh putri, lebih baik putri segera kembali ke paviliun dan beristirahat" ucap Yui mengusir Xin Quan dengan cara yang halus.
Xin Quan mendengus kesal mendengar ucapan Yui, tapi jauh di lubuk hatinya dia kini tengah berjingkrak penuh kemenangan.
"Sekali jentik, dua lalat mati!" gumam Xin dalam hati.
Akhirnya dia pun kembali menuju kediaman nya sambil tersenyum sumringah.
Jangan lupa untuk terus mendukung author ya, klik like dan komentar nya. Jika berkenan lemparkan juga vote dan gift nya ya. 🙏🙏🙏
Gift away kita tutup tanggal 5 ya.
Happy reading all...
Sehat selalu.
__ADS_1