2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 91


__ADS_3

Di kekaisaran Yuan saat ini, seluruh keluarga istana di gemparkan dengan teriakan 2 orang wanita yang tengah mengandung, Ai Li dan juga An Xia begitu bersemangat saat mendengar prediksi dari seorang tabib tentang jenis kelamin anak mereka.


Tabib itu mengatakan jika Ai Li akan memiliki sepasang anak kembar, sedangkan An Xia akan mendapatkan seorang putra.


Pangeran kedua pun tak kalah heboh nya, begitu juga dengan pangeran ketiga.


Saat ini kedua calon ayah itu membawa kertas kosong ke ruang kerja pangeran kedua, para pelayan pun di suruh untuk menggiling tinta, keduanya hanya diam sambil duduk di kursi, tangan mereka memainkan kuas yang akan di pakainya untuk menulis.


Berkali-kali para pelayan mendengar kedua pangeran itu menghela nafas berat, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat besar, bahkan mereka tidak akan melakukan hal seperti itu saat berhadapan dengan musuh nya di medan perang.


"Apa kau sudah mendapatkan nama yang bagus?" tanya pangeran kedua dan hanya di balas gelengan kepala oleh pangeran ketiga.


Kedua nya kembali termenung, mulut nya terus berkomat-kamit dengan mata terpejam.


Jika tadi mereka berjingkrak bahagia karena akan mendapatkan putra, sekarang kedua nya terpekur memikirkan nama yang paling bagus untuk anak mereka kelak.


Berkali-kali keduanya hendak menuliskan sesuatu tapi kemudian menggeleng dan kuas itu pun kembali di putar di tangan mereka.


Ai Li dan juga An Xia yang melihat keadaan suami mereka seperti orang bodoh pun mengerutkan kening nya, tapi tak lama kemudian kedua calon ibu itu terkikik saat menyadari betapa stres nya suami mereka mencari nama yang terbaik untuk calon anak mereka kelak.


Tak ingin ambil pusing dengan masalah yang di alami oleh para suami, akhirnya An Xia dan Ai Li pun berjalan menuju paviliun mawar yang di huni oleh selir agung, hari ini mereka mendapatkan undangan untuk minum teh di kediaman mertua nya.


Tap...


Tap...

__ADS_1


Tap...


Terdengar langkah yang menggema di lorong istana menuju paviliun mawar, Ai Li dan An Xia di ikuti oleh lima orang pelayan masing-masing kini berjalan dengan santai sambil menghirup udara segar.


Langkah kedua wanita hamil itu terhenti saat melihat hamparan bunga mawar di depan paviliun ibu mertuanya, perlahan mereka pun mendudukkan dirinya di atas kursi yang di kelilingi bunga mawar sambil mencium aroma harum dan segar.


Taman itu membuat keduanya terlihat begitu damai, tak akan ada yang menduga jika kedua wanita itu bisa jadi seperti iblis jika ada yang mengusiknya.


Apalagi melihat senyuman manis yang tersungging dari bibir keduanya, membuat semua orang pun mengira jika kedua wanita hamil itu adalah wanita yang penyayang dan sangat sabar.


Itu memang benar, Ai Li dan An Xia memang sangatlah sabardan juga penyayang, semua orang pun pasti tahu.


Sabar dalam menguliti tubuh musuh-musuhnya, dan juga penyayang pada binatang imut dan kecil mereka.


Selir agung dan selir kehormatan yang sedang berjalan bersama sambil di iringi lima pelayan setia mereka masing-masing, melirik ke arah taman dan mendapati kedua menantu mereka sedang bersantai di iringi hembusan angin pagi yang segar.


Dengan perlahan, selir agung dan selir kehormatan pun mendekati mereka dan mengajaknya untuk masuk ke paviliun, tentu saja hal itu akan mereka lakukan mengingat saat ini kedua menantunya sedang mengandung calon cucu mereka.


"Putri Han, putri An, kenapa kalian duduk di luar? Mari masuk ke dalam bersama ibunda, kalian bisa masuk angin jika terus duduk seperti ini" tegur selir agung sambil mengajak kedua menantunya untuk masuk.


Selir agung menggandeng tangan Ai Li sedangkan selir kehormatan menggandeng tangan An Xia, keempat orang wanita berbeda usia itu nampak seperti ibu dan putri kandung saat berjalan bersama.


Para pelayan segera menyiapkan kursi untuk para jungjunannya agar bisa duduk dengan nyaman, beraneka macam kue pun di suguhkan apalagi di tambah hidangan teh melati yang madih mengepul.


Membuat semua orang merasa rilex dan nyaman.

__ADS_1


Pangeran ketujuh saat ini masih terdiam di dalam kamar nya, dia telah mendengar jika kedua saudaranya itu akan segera memiliki seorang anak laki-laki, tapi entah kenapa dia masih merasa berat untuk kembali berkumpul dengan saudaranya yang lain.


Apa lagi mengingat ancaman kedua kakak ipar nya saat mereka mengobrol bertiga membuat pangeran ketujuh merasa malu dan juga sangat takut.


Takut jika kedua kakak iparnya itu benar-benar tak mau mengakui dirinya sebagai seorang saudara karena telah menyakiti Xin Quan.


Dan merasa malu karena kebodohannya sendiri yang tak bisa membedakan yang mana berlian dan yang mana batu kali.


Pangeran ketujuh sebenarnya berharap agar kedua kakak bersama kakak iparnya itu akan mengunjunginya, namun ternyata keinginan nya itu terpaksa harus dia kubur dalam-dalam, karena An Xia dan juga Ai Li yang selalu saja menatap nya penuh permusuhan.


Kedua wanita hamil itu begitu kecewa dengan tindakan pangeran ketujuh yang menurut mereka sangat tidak pantas, dia yang harus nya menjadi panutan semua orang malah berbuat tebalik dan mengecewakan keluarga nya.


Pangeran ketujuh juga telah mengirimkan seorang mata-mata di kediaman putri Xin Quan, tujuannya hanya satu, dia ingin melihat dan juga mengetahui apakah pangeran Yuan Jicheng akan memperlakukan nya dengan baik atau tidak.


Tadinya pangeran ketujuh berkeinginan untuk merebut kembali Xin Quan dari Yuan Jicheng, tapi saat mata-mata nya mengatakan bahwa mereka semua hidup damai dan terlihat sangat harmonis meskipun pangeran Yuan Jicheng memiliki tiga orang selir lain, membuat pangeran ketujuh mengurungkan niat nya.


Dia tak ingin melihat kebencian di mata Xin Quan lagi, hatinya begitu sakit jika gadis yang dulu merebut hatinya itu tersakiti.


Mengingat kelakuan buruk Yuan Jicheng di masa lalu membuat dirinya merasa was-was dengan masa depan Xin Quan.


Andai saja di masa lalu dirinya tak berbuat buruk pada Xin Quan, mungkin saat ini dia telah menikah dan hidup dengan bahagia bersama gadis itu.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, penyesalan pangeran ketujuh pun tak akan merubah keputusan Xin Quan yang telah memilih Yuan Jicheng meskipun saat ini tak lagi menjadi seorang pangeran.


Xin Quan bukan lah gadis yang tamak menurut pangeran ke tujuh, dia dengan lapang dada menerima Yuan Jicheng yang telah di usir dari kekaisaran nya sendiri dan menjadikannya sebagai suami.

__ADS_1


Tidak tahu saja pangeran ketujuh kalau Xin Quan baru saja merampok rumah kediaman bangsawan Liu dan menguras hartanya tadi malam, jika tahu mungkin pangeran ketujuh pun akan menebas lehernya sendiri karena menganggap Xin Quan seperti dewi.


__ADS_2