2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN

2 GADIS SADIS DARI ZAMAN MODERN
Part 100


__ADS_3

Akhirnya seminggu pun telah berlalu, hari ini adalah pesta perayaan sekaligus memperkenalkan ketiga pangeran kecil pada seluruh rakyat kekaisaran Yuan dan juga para tamu yang hadir dari setiap kekaisaran.


Hal yang tak pernah di sadari oleh semua orang adalah.. Seseorang kini tengah duduk sambil menunduk, matanya terasa panas dan juga berembun, tangan kanannya sejak tadi mengusap dada nya, sedangkan tangan kirinya meremas hanfu yang di pakai nya.


Betapa miris nasib nya saat ini melihat wanita yang dulu dia hina dan terus dia abaikan kini tersenyum manis dan nampak bahagia di samping saudara tirinya.


Bahkan tiga selir yang mengikutinya pun terlihat begitu santai tanpa menunjukan persaingan ataupun rasa cemburu dan iri.


Sepertinya saudara tirinya itu bisa membahagiakan istri sah dan juga ketiga selir nya itu dengan sangat baik dan juga adil, hingga perdebatan pun tak terlihat dari kelima orang yang sejak tadi diam-diam di pandanginya.


Antara percaya dan tidak, pangeran ketujuh terus menatap Xin Quan yang sedikit pun tk menoleh padanya, pandangannya terus menatap sang suami dengan tangan yang di tautkan dengan tangan Yuan Jicheng.


Jika ada yang bertanya, apakah pangeran ketujuh menyesal? Tentu saja dia sangat menyesal telah menolak dan juga melukai hati Xin Quan.


Hingga akhirnya dia jatuh dalam kepedihan, di saat cintanya tumbuh, disaat itu pula gadis itu pergi meninggalkan nya demi cinta yang lain.


Acara demi acara telah terlewati dengan sangat baik, antusias rakyat begitu besar terhadap pangeran kecil yang lucu dan juga imut.


Ai Li menggendong Yuan Wei Min dengan sangat santai, bayi di gendongannya tak sedikit pun mengeluarkan suaranya, beda jauh dengan Yuan Weisheng yang berada dalam gendongan selir agung yang terus menangis.


An Xia menggendong Yuan Mingyu, ini adalah hari terakhir dia berkumpul dengan seluruh keluarga nya, esok hari dia bersama keluarga kecilnya akan segera berangkat menuju kekaisaran ming untuk mengambil alih tampuk kekuasaan yang kosong.


Seluruh rakyat kekaisaran Yuan bersuka cita dalam canda dan juga tawa, ribuan nampan berisi hidangan pun di keluarkan oleh istana kekaisaran untuk menjamu rakyat nya.


Semua terlihat begitu bahagia dengan kehadiran si kecil, tak seperti dua orang ayah yang kini tengah cemberut sambil terus melirik ke arah putra mereka dengan sinis.

__ADS_1


Setelah acara selesai, kaisar Yuan memanggil seluruh anggota keluarga nya untuk berkumpul, dia ingin membahas tentang Yuan Jicheng yang telah dia copot status kepangeranan nya, dan dia usir dari istana kekaisaran Yuan.


Semua orang sepakat agar kaisar Yuan memberikan kesempatan kedua dan mengembalikan posisi pangeran kelima pada Yuan Jicheng, namun tentu saja hal itu akan membuat seseorang semakin tersakiti karena telah memaafkan dan menerima kembali Yuan Jicheng di istana kekaisaran.


Yuan Jicheng menolak untuk mengisi kembali posisi sebagai seorang pangeran, dirinya menegaskan akan tetap menjadi rakyat biasa, tanpa memiliki tugas atau pun tanggung jawab pada istana kekaisaran.


Bagi Yuan Jicheng saat ini yang paling penting dalam hidup nya adalah Xin Quan dan juga calon anak mereka.


Yuan Jicheng bahkan tidak berniat untuk tinggal berlama-lama di istana kekaisaran.


Baginya kediaman kecil milik nya adalah yang terbaik, karena banyak cinta di dalam nya.


Mei yang mendengar jawaban dari Yuan Jicheng mengerutkan dahinya, sebenarnya dia enggan meninggalkan istana kekaisaran dan kembali ke kediaman kecil mereka, dia telah terlanjur nyaman tinggal di istana, jika dulu dia tinggal sebagai seorang pelayan, berbeda dengan saat ini dimana dirinya telah jadi seorang selir pangeran.


Sepertinya saat ini rasa iri dan juga cemburu telah menguasai hati kedua selir Yuan Jicheng yang sedang menginginkan sebuah rasa hormat dari orang-orang yang di bawah mereka.


Yun dan juga Mei kini tengah menyusun rencana, kedua selir itu nampaknya akan segera bertindak agar bisa memiliki kekuasaan di istana kekaisaran Yuan.


Xin Quan sebenarnya menyadari tingkah kedua selir itu, hanya saja saat ini dia tak mau di repotkan dengan hal-hal yang terlalu kecil.


Xin Quan hanya ingin sesuatu yang terbaik untuk anak yang ada di dalam kandungan nya, dia tak mau lagi berfikir macam-macam dan menyerahkan semua urusan pada Yuan Jicheng.


Yuan Jicheng tampak tersenyum tipis, pria itu menyadari benar keinginan kedua selirnya, tapi dia pun tak begitu mencemaskan keduanya, karena dia yakin jika Yun dan juga Mei pasti bisa mengatasi keinginannya tersebut.


Tanpa sepengetahuan siapa pun, Yun kini berjalan mengendap-endap keluar dari paviliun selir menuju ke belakang gudang untuk bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


Nampak dari kejauhan, seorang pria berpakaian serba hitam dan juga berperawakan tegap sedang menunggunya dengan sangat tidak sabar.


Yun bergegas melangkah dengan lebih cepat agar bisa segera menemui orang itu, pertemuan keduanya turut di saksikan oleh seseorang yang kini duduk santai di sebuah dahan pohon sambil mengayun-ayunkan kakinya.


Mo Feng, seorang kepercayaan Xin Quan mengintip dan juga terus mengawasi seluruh tindak tanduk dari selir itu dengan cermat.


Dia tak ingin kecolongan sedikit pun, dan memberikan celah atau pun kesempatan untuk orang lain menyerang Xin Quan.


"Ambil ini, dan habisi putri Xin Quan!" ucap Yun sambil melemparkan 5 kantung kecil berisi koin emas pada orang berbaju hitam tersebut.


Orang itu pun menerima kantung itu dan memeriksa nya dengan teliti, kemudian dia mengangguk pertanda paham akan keinginan majikannya.


Mei berfikir untuk menggoda Yuan Jicheng agar kembali tunduk pada genggaman tangan nya, dia ingin agar suaminya itu kembali jatuh cinta dan menuruti semua keinginan nya.


Kali ini, Mei ingin menyingkirkan Xin Quan dan merebut posisi istri sah Yuan Jicheng dari nya.


"Kali ini aku pasti bisa merebut posisi sebagai istri sah dari pangeran kelima dan tinggal di istana ini dengan penuh rasa hormat sebagai seorang permaisuri pangeran." gumam Mei sambil terus melangkah menuju sebuah gazebo di pinggir danau untuk menemui Yuan Jicheng.


"Salam pangeran" ucap Mei sambil menunduk, tingkah nya mirip sekali dengan gadis polos yang berusia 15 tahun, terlihat begitu malu-malu.


Yuan Jicheng melirik tingkah Mei yang sedikit berbeda, pakaian yang di pakai nya terlihat sangat menggoda dan begitu ketat membalut tubuh nya hingga memperlihatkan lekuk tubuh nya yang sintal.


"Ada apa selir Mei?" tanya Yuan Jicheng sambil menatap ke arah selirnya.


"Tidakkah pangeran merindukan Mei?" ucap nya dengan tutur kata sehalus mungkin membuat siapa pun yang mendengarnya langsung terpana.

__ADS_1


__ADS_2