
Tiga puluh orang pembunuh bayaran yang tersisa pun tercengang melihat ketua mereka yang ambruk ke tanah tanpa nyawa.
Sorot mata mereka pun terlihat marah dan langsng menunjuk wajah Xin Quan dengan jari telunjuk nya.
"Dasar wanita sial! Berani sekali kau membunuh ketua kami!" teriak ketiga puluh orang itu sambil menggertakkan giginya.
Senyuman tipis tersungging dari bibir mungil Xin Quan sambil menatap ketiga puluh orang itu dengan pandangan yang meremehkan.
Dia segera membersihkan darah dari sang jetua pembunuh bayaran itu dengan baju dari korban nya.
Dan mengetuk-ngetukan kaki kanan nya "Jadi siapa yang akan maju selanjutnya? Kemarilah! Dan puaskan palu kecilku ini dengan darah kalian!" ucap Xin Quan sambil mengusap palu nya.
Orang-orang itu pun langsung membuat kuda-kuda dan bersiap menyerang Xin Quan, sambil mengacungkan pedang mereka.
Hiyaaaa...
Terdengar teriakan mereka sambil mengayunkan pedang di tangan masing-masing.
Trang...
Trang...
Trang...
Brak...
Xin Quan menghalau semua tebasan dan juga sabetan dari pedang para pembunuh bayaran itu sambil sesekali menggerakan kaki nya untuk menendang lawan.
Ke tiga puluh orang itu pun mulai mundur beberapa langkah ke belakang, akhirnya mereka bisa merasakan bagaimana kekuatan dan juga kelincahan dari si iblis kecil Xin Quan dalam menghadapi musuh nya.
Xin Quan bahkan tak gentar saat dirinya di kepung dan di serang oleh tiga puluh orang pria kekar dari setiap penjuru.
Bahkan dengan santainya dia terus meliuk-liukan badan nya dan sesekali menarik tangan musuh nya dan menjadikannya sebagai tameng untuk melindungi dirinya sendiri.
Pada akhirnya ketiga puluh orang itu pun mulai mencari cara lain untuk membunuh, lima orang maju dan membuat serangan, Xin Quan memblokir serangan itu dengan cekatan dan sangat tepat sasaran.
Bahkan lima orang lainnya kembali maju dan berusaha untuk melukai Xin Quan, tapi si iblis betina itu terlihat seperti belut yang licin dan tak bisa di cekal oleh para pembunuh bayaran.
Xin Quan dengan ganas nya mulai menyerang dengan melepaskan seluruh kekuatannya, gagang pedang yang di pegang nya pun berkilat menunjukan ketajaman dan hawa haus darah.
Srak...
__ADS_1
Srak...
Srak...
Ayunan pedang Xin Quan berhasil menyayat perut orang-orang itu dengan sangat dalam, bahkan wanita itu pun terlihat semakin ganas dan mulai menyerang secara vertikal untuk mebelah tubuh musuh nya hingga dua bagian.
Crash...
Crash...
Jleb...
Beberapa orang pembunuh bayaran itu pun berhasil di penggal oleh Xin Quan, bahkan tiga di antara nya langsung tersungkur karena terkena tikaman belati wanita itu.
Di balik kegelapan, Yuan Jicheng berbinar melihat ketangguhan sang istri, berkali-kali dia memuji kehebatan istrinya dalam bertarung.
Membuat Shin, sang tangan kanan menggelengkan kepalanya, tidakkah tuannya ini kasihan terhadap istrinya yang kini tengah mengandung? Kenapa dia tak berusaha untuk membantu dan malah memilih untuk menonton di balik pohon? Bahkan keduanya baru saja melewati kediaman kedua selir Yuan Jicheng yang juga di santrongi oleh para pembunuh bayaran.
Tapi tuan nya seolah buta dan juga tuli, bahkan tak peduli dengan teriakan kedua selir nya yang ketakutan.
Dan kini istri sah nya pun dalam keadaan serupa, bertempur dengan para pembunuh bayaran, tapi dia tetap santai menonton sambil duduk di dahan pohon yang rindang sambil bertepuk tangan.
Dari pada tak dapat jatah malam dari istrinya, bukankah lebih baik jika dia duduk manis sambil menonton pertunjukkan di hadapannya itu? Itu lebih aman untuk nya yang bucin terhadap istrinya.
Xin Quan sebenarnya menyadari kehadiran Yuan Jicheng di dekat nya, tapi dia tak ambil pusing, selama suaminya itu menurut dan tak merebut jatah bermain nya, dia akan tetap jadi istri yang lucu dan menggemaskan setelah selesai bermain.
Bahkan dia pun berfikir untuk mencukur habis rambut para pembunuh bayaran itu untuk dia jadikan sapu untuk membersihkan paviliun nya nanti.
Atau menjadikannya sebagai sikat untuk mengelap sepatu suaminya, benar-benar istri yang sangat solehah dan juga sayang suami.
Trang...
Trang...
Trang...
Pedang kembali berdenting, para pembunuh bayaran dengan ganas berusaha untuk membunuh Xin Quan yang kini mulai terpojok akibat tendangan dari salah seorang yang mengenai perut nya.
"Berani menyakiti istri dan juga anakku? Kalian cari mati!" terdengar suara seorang pria menggelegar di telinga para pembunuh bayaran itu.
Tap...
__ADS_1
Yuan Jicheng muncul di samping Xin Quan dan dengan segera memblokir serangan yang di tujukan pada istri kecilnya itu.
Dia sudah tak peduli lagi dengan larangan sang istri, bahkan kalau perlu, dia akan membabat habis seluruh keluarga dari pembunuh bayaran itu dengan tangan nya sendiri.
"Shin!" teriak Yuan Jicheng pada orang kepercayaan nya.
Hap....
Shin pun muncul dengan wajah menahan amarah melihat istri tuan nya terluka.
"Bawa 500 orang prajurit dan bantai semua keluarga dari bajingan yang telah berani menyakiti istri dan juga anak ku! Jika perlu hancurkan juga tubuh dan tulang mereka agar rata dengan tanah!" perintah Yuan Jicheng pada Shin.
Para pembunuh bayaran itu pun kaget mendengar perintah Yuan Jicheng, bagaimana tidak? Walaupun mereka seorang pembunuh bayaran, tapi tak satu pun dari keluarga mereka yang tahu pekerjaan nya.
Bahkan kini istri dan juga anak mereka dalam bahaya, tapi bisakah mereka menyelamatkan keluarga nya? Bahkan kini Yuan Jicheng telah mengayunkan pedang nya dengan membabi buta.
Trang...
Trang...
Trang...
Suara pedang kembali berbenturan, Yuan Jicheng terus memberikan perlawanan sengit pada musuh nya hingga akhirnya.
Crash...
Jleb...
Jleb....
Satu persatu pembunuh bayaran itu pun kembali ambruk dalam keadaan tanpa nyawa, Yuan Jicheng tanpa ragu menghunuska pedang nya pada titik buta dari musuh-musuh nya.
Darah bercucuran makin banyak dan mengenang di tanah. Yuan Jicheng mencincang tubuh para pembunuh bayaran itu dengan sangat keji, tanpa meninggalkan potogan besar.
Kemudian menginjak nya dengan wajah menghitam, dan berbalik menatap istri nya yang kini meringis merasakan sakit di perut nya.
Yuan Jicheng mengangkat tubuh Xin Quan dan segera membawanya masuk ke dalam kamar paviliun nya, kemudian menyuruh para pelayan nya untuk segera memanggil tabib untuk merawat sang istri.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi di masa depan! Ingat ini! Aku adalah suamimu, dan sudah tugasku melindungi dan juga membahagiakan mu! Jangan membuat ku terlihat buruk karena membiarkan istrinya bertarung lagi!" ucap Yuan Jicheng sambil menatap marah pada Xin Quan.
Wanita itu menatap nanar sang suami, kemarahan suaminya adalah cinta yang tak akan pernah dia dapatkan dari orang lain.
__ADS_1