
Air hujan yang berhawa dingin akan melawan sinar mentari yang berhawa panas, dia pun mulai membungkus hatiku sedikit demi sedikit.
Sekarang adalah akhir musim panas, yaitu periode di mana iklimnya mulai mendingin. Hujan sedingin es menembus pakaian yang sudah lama aku pakai ini, lantas kehangatan di dalam tubuhku pun mulai lenyap seketika.
Musim hujan ini yang hampir setiap pagi, siang, sore dan malam hari terus menerus menghujani hampir seluruh di kota Surabaya.
Seolah-olah hal itu sedang menyambut dunia yang baru saja dimulai, detik pertama maupun pada saat menit pertama yang searah jarum jam yang terus mencari angka tiga belas dan itu tidak bertemu. Kedua sisi lorong yang mengarah ke rumah sakit dipenuhi pohon cemara yang sedang dilanda sedih.
Aku bukan tipe orang elegan dan berkelas yang biasanya berhenti sebentar untuk menikmati keharuman cuaca hujan yang membasahi pepohonan sekitar. Tapi pemandangan ini terlalu sedih, hingga aku tidak bisa lagi menikmati kehidupanku yang dilanda dengan banyak pikiran dan kekawatiran, meski itu terjadi hanya untuk sesaat atau mungkin seterusnya.
Sekelebat pikiranku dipenuhi dengan hal-hal berbau musim hujan, tapi bukan tentang pohon yang sudah dipenuhi tetesan embun sore hari. Tapi, aku ingin melihat adikku sehat seperti anak-anak pada umumnya.
Didorong embusan oleh angin dingin pada sore ini di ujung lorong gedung yang menembus masuk ke dalam pakaianku, ini menyegarkan. Tapi…
__ADS_1
Aku sekarang ini sedang menangis dan memohon pengampunan dengan sungguh-sungguh, tapi hal itu masih belum terwujudkan, dan bahkan aku tidak punya waktu untuk mengganti topik memikirkan hal yang lainnya.
Dadaku terasa begitu sakit, mungkin itu juga karena sebagian hatiku hancur, lantas aku berjalan dengan lesu di selasar gedung rumah sakit ini.
Suara teguran dari isi kepalaku dan perasaan hatiku ketika aku perlahan-lahan masuk lebih dalam lagi, bergema di telingaku.
Itu adalah isi penyesalan yang sulit kuterima.
Hatiku benar-benar hancur.
Yang kulakukan hanyalah terus di sisinya sampai dia dewasa.
Dan, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
__ADS_1
Tidak, sejujurnya aku benar-benar sudah tahu apa yang akan aku lakukan untuk tahap selanjutnya dan untuk selamanya.
Yaitu, aku harus terus berada di sisinya dan terus menghiburnya, kemudian setelah dia sembuh, aku akan terus melindungi senyumnya itu.
Bagaimana aku menghadapi ini semua?
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk senyumannya itu.
Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan senyumannya itu dengan kondisi seperti ini. Andaikan aku yang berada pada posisi dirinya, tidak mungkin lah aku memaafkan orang itu dalam kondisiku yang sudah seperti ini, meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri. Mungkin aku akan berpura-pura bersimpati padanya, tapi aku sungguh akan memanfaatkan kebaikannya itu.
Anggap saja aku memperoleh keberuntungan, isi semua doa ku sudah terwujudkan dan dia mulai berlari sambil tersenyum manis ke arah kakaknya.
Aku pernah mendengarkan sebuah permintaan kecil dari dirinya, bahwa dia akan terus tersenyum tulus di dalam rangkaian kehidupannya yang selalu tertekan ini. Jika, aku sebagai kakaknya terus selalu berada di sisinya.
__ADS_1
Ini sudah hampir berakhir. Tepat pada saat ini, aku merasakan bahwa hidupku mencapai dari akhir sebuah ending ceritaku ini.
Namun, ceritaku ini dimulai dari jam dua belas menuju ke satu lagi.