2 Meter per Second

2 Meter per Second
Terlintas di pikiranku...


__ADS_3

Di sudut ruangan kelas, seperti biasanya itu aku yang selalu membaca buku sendirian. Terkadang buku yang kubaca itu memiliki hard cover, tapi, terkadang aku membaca pelajaran selanjutnya yang bisa menaikkan daya ingatanku. Sepertinya biasa, aku ini tidak terlalu memilih buku-buku pilihan. Ini mungkin, karena aku membaca segala sesuatu yang mengandung huruf dan angka, walaupun mungkin saja bacaan pilihannya itu memang bagus.


Keberadaannya adalah sebuah pemberian. Atau ketidak hadiranku yang sudah bisa diduga oleh siapapun. Ya, itu tidaklah penting lagi bagiku, sih.


Setelah menghabiskan hampir dua tahun sebagai murid di sekolah SMA, dengan hampir lebih dari seribu murid setiap tingkat antara kelas satu sampai kelas tiga, kakak kelas, adik kelas, teman sekelas, dan semua guru sehingga hampir ribuan orang berada dalam tempat yang sama. Aku mulai bertanya-tanya berapa banyak sebenarnya dari orang-orang ini yang kukenal. Kupikir siapapun tahu jawaban, apa yang aku punya ini sangat menyedihkan.


Bahkan jika keajaiban terjadi dan aku sekelas dengan seseorang selama dua tahun, aku tidak yakin kalau aku akan merasa kesepian jika tidak berbicara dengan murid lain yang ada di sini. Itu hanya akan berakhir sebagai ingatan bahwa orang itu pernah ada. Walaupun aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku bila setahun yang akan datang, lalu setelah itu aku lulus dari sekolah SMA ini, aku mungkin tidak akan punya alasan untuk mengingat wajah teman-temanku, atau pun mampu bisa melakukan hal seperti itu juga.

__ADS_1


Itu bukan masalah bagiku. Begitu juga dengan para murid. Tidak hanya mereka, tapi itu juga berlaku untuk semua orang di sekolah. Pasti itu adalah suatu kesalahan, bahkan untuk memikirkan hal-hal yang menyedihkan.


Itulah yang kupikirkan sekarang ini. Tapi, pada hari ini...


Sesungguhnya, aku baru saja mengakhiri alasan mengerikan ini untuk liburan musim hujan depan ini, terdiam sendiri menjadi murid kelas dua, dan melihat ending dari penutupan akhir pelajaran festifal kenaikan kelas.


Seperti kejadian yang sedang kualami sekarang, aku tadi sempat saja terlambat, dan karena itu, aku bergegas menaiki tangga gedung sekolah.

__ADS_1


Dia pun bertanya kepadaku dengan wajah yang tersenyum manis.


Kenapa awan yang sedih itu tidak menurunkan air hujannya, namun pada saat senang, dia tidak tersenyum, tapi mengeluarkan air matanya?


Setelah selesai mengajukan pertanyaan itu kepadaku, aku pun di buat kebingungan lagi tentang kondisi tubuhnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan batuk yang lumayan keras, sambil menyumbat mulutnya dengan kedua tangannya.


Aku ingin mengetahui di balik tangannya, apa ada darah atau tidak? Hal itu pun terpikirkan sampai sekarang ini, hingga membuatku sengsara saja.

__ADS_1


Walaupun dia itu sedikit kurang sehat, dia bukanlah perempuan yang lemah akibat fisik yang dideritanya. Karena dia memiliki tubuh yang kecil dan pendek, dia memberikan kesan seolah-olah tubuhnya akan rapuh hanya dengan sedikit sentuhan. Karena alasan itulah, mungkin, banyak dari murid laki-laki di kelas kita yang setengah bercanda kalau dia adalah seorang pewaris sebuah perusahaan besar. Memang terdengar masuk akal, bahkan aku pun berpikir kalau perumpamaan dia itu cocok untuk menjadi seorang putri egois.


Dan pada saat waktu yang tepat, setelah hampir selesai memikirkan tentang kesehatannya Ida. Tiba-tiba, deretan pikiranku langsung tertuju ke adikku Lia tercinta, dia yang sekarang ada di rumah sakit, berbaring sendirian tanpa ada yang menemaninya untuk berbicara maupun saling menyapa.


__ADS_2