2 Meter per Second

2 Meter per Second
Awal ceritaku...


__ADS_3

Ingatan kabur ini muncul lagi dalam otakku dan terhubung ke hatiku.


Aku tidak ingin melihat wajah adikku berubah lebih cepat daripada pemandangan di luar jendela yang seperti itu, warna bunga yang akan cepat berubah hanya dengan satu hal. Aku tidak pernah mengira bahwa adikku yang ada di dalam hatinya itu memiliki serangga kecil yang begitu cepat berubah.


Betul, itu adalah penyakit kanker hati yang berawal dari Hepatitis A.


Pada hari itu, seorang dokter juga memberitahu ibuku untuk tidak memberitahuku mengenai hal ini. Aku juga berencana untuk melakukan itu.


Namun rumor sangat cepat menyebar di sekitarnya, dan sampai di rumah sakit dengan cepat. Ketika diriku mendengar akan hal itu, sesaat aku…


“Adik, kakak akan melakukan yang terbaik untukmu seorang.”


Dia tidak bertanya apapun kepadaku, dan hanya mengulangi motto biasa yang aku miliki, dengan ringannya memegangku dalam pelukannya.


Dadanya yang begitu hangat dan pola detak jantungnya berirama menyakinkanku. Saat dia masih kecil, aku juga akan selalu melakukan seperti ini ketika dia sedih. Tetapi di waktu itu, dada adikku begitu tipis dan kurus, tulang bahunya terlihat, bau yang kaya akan obat-obatan berlari menghampiri lubang hidungku, seluruh pengelihatan mataku juga mulai menjadi suram, serta tembok keyakinan sudah runtuh dan air mata yang hampir keluar deras.


Lia mulai melemaskan kedua tangannya dan melepaskan pelukannya. Dia berbicara hangat kepadaku, namun sangat menusuk ke hatiku, dia bilang.


“Kakak maafkan aku… Lia harus pergi…”


“Adik jangan tinggalkan kakak sendirian! Seharusnya kakak yang minta maaf kepadamu, karena aku sempat menjadi kakak yang buruk buat kamu, Lia.”

__ADS_1


Lia menjahuiku, mundur perlahan-lahan, merentangkan tanganku ke arahnya. Namun Lia semakin jauh, masuk ke dalam cahaya, lalu menghilang.


 “Lia…! Jangan pergi…! Aku mohon jangan pergi, Lia…! Liaaa…!”


Ketika kesadaranku belum kembali, aku berlari menghampiri sorotan cahaya terang yang tepat di depanku. Aku tidak menghiraukannya, tetapi terus berlari ke arah cahaya, tapi makin jauh dan menjauh, lalu hilang dalam abstrak.


Tiba-tiba, aku terbangun dengan penuh berlinangkan air mata.


Di dalam ruangan kamar tidurku yang redup cahaya, terlihat sorotan cahaya kecil yang lurus menyinari mataku, dan hal itu membuat aku terbangun dari mimpi, entah aku tidak tau aku sedang mimpi apa. Tiba-tiba, ingatan dari mimpi itu hilang entah kemana, paradok mimpi atau d’javu aku juga tidak tau.


“Trrr…Ting…! Trrr…Ting…! Trrr…Ting…!”


Tapi, anehnya di sini kenapa jam alaramku selalu bunyi pada saat aku sudah bangun pagi, hmmm…? Itu masih terpikirkan olehku. Tetap saja aku tidak memperdulikan hal itu dan mulai beranjak bangun.


Berjalan sambil melawan pandangan yang kabur, pergi ke arah sumber cahaya itu datang, lalu aku membuka tirai jendelaku. Tanpa di sengaja aku langsung menutup kedua mataku dengan tangan sambil berkata.


“Ahh... Kampret…!”


Aku membuka kelopak mata secara pelan-pelan. Sekejab ruangan kamarku sudah di penuhi oleh cahaya si matahari, bergerak lurus melewati celah kecil sudut jendela dan mengkilaukan butiran debu yang melayang.


Aku menghirup udara segar di pagi hari, sungguh cuaca yang sejuk.

__ADS_1


“Indah… Tidak! Ini tidak baik aku harus bersihkan dan rapikan dulu.”


Tiga puluh detik bukan satu menit kemudian, secapat kilat aku mencari sapu dan kemoceng. Bergegas merapikan tempat tidurku yang acak-acakan dan menyapu lantai, supaya bersih jangan lupa berdoa, hahaha…


Di waktu yang tepat setelah selesai bersih-bersih, aku tidak tau apa ini berisik atau ibu sudah tau kalau aku sudah bangun. Ibu memanggilku dengan suara yang menggema keras tapi nyaring dan nada tidak memaksa.


“Aam… Kamu sudah bangun? Cepat kamu turun! Makan sini!”


“Iya ibu, bentar. Aku akan segera turun.”


Sambil mengeluh nafas dalam, karena sudah selesai merapikan tempat tidurku. Aku segera mandi dan mengganti pakaian ke seragam SMA.


Merapikan rambutku yang masih acak-acakan sambil menahan kantuk, aku menguap dengan lesu sambil berjalan keluar dari ruang kamar tidur menuju ke kamar mandi. Dan pada saat itu, cermin kecil berbentuk oval yang tergantung di dinding menarik perhatianku.


Sebuah tangan yang masih lemas lesu mengusap embun yang ada di cermin. Kamar mandiku penuh dengan kabut karena shower di pagi hari.


“Kampret... Gak bisa hilang cuk!"


Setelah mengusap, cermin itu kembali berembun. Sungguh sia-sia aku untuk menyalurkan semangatku pada sebuah cermin. Aku pun menyerah dengan sebuah cermin, bergegas mandi dan mengganti pakaian ke seragam.


Tidak lama kemudian, setelah selesai mandi dan mengganti pakaian ke seragam SMA ku yang sudah rapi, menurutku sih.

__ADS_1


__ADS_2