
Dengan senyumku yang penuh dengan kepuasan, Anita tidak sengaja melirik ke arahku secara diam-diam, lalu bersembunyi lagi di balik bukunya.
“Hmmm…? Ada apa? Apa ada yang menyenangkan di wajahku ini?”
“Tidak, tidak ada… Ngomong-ngomong Anita, tentang buku yang sedang kamu baca itu. Apa kamu tidak merasa bosan dengan buku itu, Anita?”
“Apa? Ada yang salah?”
Anita memiliki senyum sempurna membentang di wajahnya, berpura-pura dia tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku bicarakan ini.
Melihat bentuk senyuman itu menyebabkan aku sedikit pusing, dan aku mulai merasa bahwa apa yang dipertanyakan dalam pikirannya mungkin semacam kesalahpahaman. Atau mungkin saja itu hanya produksi dari suatu dorongan secara tiba-tiba yang dia punyai di dalam pikirannya.
“Ah... Tidak, tidak apa-apa. Lupakan saja itu, Anita!”
Tidak ada sesuatu yang perlu dicemaskan, aku menyimpulkan, dan menutup topik pembicaraan ini. Terus, mereka yang berada tepat di belakangnya, sengaja mengkritik yang mereka lihat, entah dari tatapan dingin atau kebencian, seakan mereka ingin aku mendengar ketidakpuasannya itu.
__ADS_1
Mataku beralih ke arah jendela.
Walaupun aku sudah memberikan tatapan ingin mengenalnya lebih jauh lagi, hal yang menyedihkannya adalah Anita, dia tetap saja memalingkan kepalanya pergi ke arah lain dengan jengkel, berpura-pura melihat ke dalam bukunya. Benar-benar reaksi yang dingin. Memangnya ini sikap yang seharusnya diberikan oleh seorang teman di kelas ini, ya? Bukan… Apakah dia benar-benar membenciku sekarang? Pikir diriku dalam kepanikan.
“Aam…”
“I-Iya?”
Karena namaku tiba-tiba dipanggil, aku menjawab dengan setengah tidak sadar. Seperti yang sudah kuperkirakan, ada beberapa orang yang cekikikan, dan sangat sulit untuk tetap tenang. Oeee… bisa tenang gak?
“Jadi, aku minta maaf! Karena aku memanggilmu dengan keras-keras. Apakah aku mengagetkanmu? Dan juga soal perkataan tadi, akan aku tebas kamu! Aku menyesalinya. Apa kamu mau memaafkanku, Aam?”
Anita berkata demikian dengan nada yang pelan dan halus. Namun, dia berbicara sambil memalingkan pandangannya dari mukaku. Dan suasana di kelas, apa saja boleh, darinya itu membuatku sangat khawatir kepadanya.
Apakah benar kalau dia itu sangat manis kalau sedang sedih? Kalau dibilang bahwa dia itu sama seperti putri dingin, itu masih bisa dipercaya sih.
“Tidak usah minta maaf begitu…! Lagipula, aku yang memulai duluan menanyakanmu tentang, apa kamu seorang maniak buku?”
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu.”
Namun, karena aku sudah bilang begitu, dan aku adalah seorang pria, maka aku tak bisa lari dari itu. Dan yang lebih penting lagi, karena aku sudah memecahkan suasananya, aku harus menghadapi suasana canggung ini lagi.
“Ya sudah Anita. Baik-baiklah denganku, ya?”
“Ya, aku juga ingin berbaikan denganmu.”
Setelah aku berbicara dengan sopan dengan Anita, tunggu sebentar? Ekspresi dari teman sekelasku mulai menjadi aneh, bagaikan mereka berpikir, bilang lebih banyak lagi dong dan enggak cuma segitu, kan? Heeee…
Setelah selesai sambil mengeluh nafas karena ingin merasa tenang.
Aku berdiri dan berjalan untuk kembali ke tempat dudukku lagi.
Pertamanya, aku hanya merasakan mereka melihatku dari belakang, tapi sekarang aku bisa merasakan tatapan mereka menusuk tepat dari depan. Bahkan, gadis yang sedang ngerumpi di belakang punggungku dari tadi tidak mempedulikanku lagi, lalu melihat ke arahku juga. Seperti yang diharapkan, bahkan aku, yang mengaku bisa menghadapi cewek, penuh dengan ketakutan. Bahkan jika aku sangat menyukai adikku ups, stop, aku harus tetap fokus.
Tidak mungkin bagiku untuk mengoceh tentang diriku sendiri. Bukannya aku tidak tertarik, tapi aku tidak ingin semua orang untuk mendengarnya. Lagipula, bukannya aneh untuk membicarakan apa yang dia sukai dari sejak pertama dia masuk sekolah ini? Aku akan menakuti mereka dengan berbicara tentang, menanam dan mencangkok padi, kan? Sebagai catatan, aku tidak suka dengan menanam dan mencangkok padi. Aku cuma bilang itu dengan maksud agar bisa dimengerti itu saja sih.
__ADS_1