
Aku kembali menemui sebuah cermin dan aku melihat diriku sendiri, dan ternyata sudah menghilang embunnya. Aku membasahi tanganku dengan air dan mengacak-acak rambut yang telah susah payah di aturnya. Aku kembali ke gaya rambut lurus acak-acakan yang seperti biasa. Pandanganku pun teralihkan, aku berlutut untuk mengambil sesuatu yang berada di lantai.
“Ah… Apa ini?”
Aku membuka kertas itu secara perlahan-lahan dan ternyata.
“Kampret… Uang seratus ribu rupiah,cuk? Darimana uang ini…?”
Begitulah pikiranku sambil menggaruk kepalaku kalau menemukan uang yang bukan milikku. Tak berpikir panjang, aku langsung memasukkan ke dalam kantong seragamku, eaaa… terahir akan masuk ke kantong juga, sip lah.
“Aku harus cepat-cepat nih.”
Kembali ke dalam kamarku lagi, kali ini aku mengambil tas yang tertinggal di kamar tidurku. Dan aku sempat melihat foto adikku yang dulu masih sehat pada umumnya. Foro adik dan kakak waktu kecil yang sedang main bersama-sama di salah satu taman bermain di kota Surabaya.
Aku mengambil foto itu dan memulai memanjatkan doa untuk adikku, doa supaya dia bisa sembuh dari penyakitnya dan beraktifitas seperti anak-anak pada umumnya, selalu tersenyum dan ceria. Adikku yang bernama lengkapkan Lia Larasati, dia itu telah menghidap penyakit kanker hati dan selalu dirawat di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari sekolahku.
__ADS_1
Adikku sering merasa cepat kelelahan kalau sering pergi keluar dari rumah sakit dan juga sering muntah disertai dengan demam yang cukup tinggi.
Setelah selesai berdoa, aku meletakkan kembali foto itu di tempat meja belajarku, tepat di samping buku pelajaranku dengan posisi sedikit miring sambil terkena paparan sinar matahari langsung, silau deh.
Berperangan dengan penglihatannya yang semakin kabur, wajahku juga terlihat sedikit lesu dan sempat merasa sedikit sedih setelah memberikan doa untuk adikku tercinta. Sambil mengeluh, aku menuruni anak tangga dan memasuki ruang keluarga. Oh ya, ruang keluarga dan ruang makan menjadi satu. Kalau aku ingin makan, langsung saja deh pergi ke ruang keluarga.
Di detik terakhir aku menuruni anak tangga, aku di sugukan oleh suara yang tidak asing bagiku dan kali ini dengan bau yang sedap menyengat dan menusuk hangat ke dalam lubang hidungku, harum.
“Sepertinya, ibu memasak ikan tuna goreng deh.”
Aku menyapa ibu dengan senyuman manis dan bernada lucu.
“Pagi, ibu…?”
Dengan jeda singkat, ibu langsung menyapaku dengan nada lucu juga sambil menunjukkan bentuk wajahnya yang tersenyum manis ke arahku.
__ADS_1
“Pagi, sayang...”
Semua hal ini adalah sesuatu yang biasa atau lebih normal lagi.
Satu-satunya hal yang berbeda adalah setiap kali aku membuka kulkas, aku akan merasa sedikit kemurungan lemas, hadehhh…
Di bagian depan kulkas adalah deretan jadwal tugas buat diriku yang sibuk. Banyak warna merah yang menghiasi tulisan, dan di situ pula terdapat kalimat yang tidak dapat aku abaikan selama aku duduk di bangku SMA.
“Aku tidak lupa, dengan jadwal semester sekolahku.”
Kamu belum tahu, jadwalku seperti apa ya? Yup sepertinya kalian menjawabnya hampir betul. Jadwalku kali ini ialah belajar penuh, di karenakan satu bulan ke depan dari sekarang akan diadakan ujian akhir semester sekolah.
Dengan hati yang sudah tenang, karena aku sudah mengeluh nafas. Aku mengeluarkan sebotol susu itu dari dalam kulkas, lalu aku mulai meminum susu itu. Aku harus tenang dan harus benar-benar tenang kali ini.
“Hmmm… Ini kelihatannya sangat enak.”
__ADS_1
Menu hari ini adalah tuna goreng, bayam, campuran sayuran segar dengan jagung kecil, dan yang terakhir tumis wortel dengan kecap. Ini mirip dengan makan pagi sebelumnya. Aku juga setuju untuk memakan ini dan tidak ada perlawanan dari dalam diriku. Mengapa, karena semua masakan orang tua itu pasti terasa enak walaupun masakan dengan menu yang baru.