
“Kakak, aku akan melakukan yang terbaik. Iya, yang terbaik, terbaik.”
Itu adalah perkataan adikku yang selalu di ulang-ulang.
Tanpa aku sadari, tiba-tiba kesadaranku pun perlahan dibuat lenyap olehnya, terlihat gambaran buram dan tidak jelas, lalu hilang dalam kesunyian.
Di dalam kesunyian, terlihat rangkaian ingatanku yang terulang lagi.
Kondisi tubuh adikku tidak baik semenjak dari kecil. Lalu, semenjak aku awal masuk ke kelas dua di sekolah SMA, dia telah tinggal di rumah sakit. Aku hampir saja tidak suka pemandangan dari luar jendela, pemandangan itu adalah sebuah pohon hanya akan berubah warna bunga berdasarkan musim. Aku akan selalu menemukan alasan untuk menjauhkan diri untuk melihatnya.
Aku tidak ingin melihat wajah adikku berubah lebih cepat daripada pemandangan di luar jendela yang seperti itu, warna bunga yang akan cepat berubah hanya dengan satu hal. Aku tidak pernah mengira bahwa adikku yang ada di dalam hatinya itu memiliki serangga kecil yang begitu cepat berubah.
Pada hari itu, aku datang ke sekolahnya untuk menjemput adikku. Aku melihat Lia menunduk ketakutan, saat sekumpulan ibu-ibu meliriknya.
“Kasian anak ini, yuk kita tinggalin dia aja, dasar anak lemah.”
Ketika diriku mendengar akan hal itu, sesaat aku menghampiri Lia…
__ADS_1
“Adik, kakak akan melakukan yang terbaik untukmu seorang.”
Dia tidak bertanya apapun kepadaku, dan hanya mengulangi motto biasa yang aku miliki, dengan ringannya memegangku dalam pelukannya.
Dadanya yang begitu hangat dan pola detak jantungnya berirama menyakinkanku. Saat dia masih kecil, aku juga akan selalu melakukan seperti ini ketika dia sedih. Tetapi di waktu itu, dada adikku begitu tipis dan kurus, tulang bahunya terlihat, bau yang kaya akan obat-obatan berlari menghampiri lubang hidungku, seluruh pengelihatan mataku juga mulai menjadi suram, serta tembok keyakinan sudah runtuh dan air mata yang hampir keluar deras.
Aku ingin Lia adikku benar-benar cepat sembuh dari penyakitnya yang dideritanya itu. Aku juga ingin menangis dan bersedu-sedu di pelukan adikku.
“Apa yang harus aku lakukan kepadanya…”
Ketika kesadaranku kembali, terlihat sorotan cahaya terang yang telah bermain di dalam ruangan gelap. Aku tidak menghiraukannya, tetapi terus menatap sorotan cahaya itu dari kejauhan, lalu hilang dalam abstrak.
“Kakak! Kakak! Bangun, kak! Sudah malam.”
Aku terbangun oleh suara polos, berisi dengan intonasi nada yang menakjubkan yang telah masuk ke dalam lubang telingaku, sungguh merdu.
Ketika aku mengangkat kepalaku dengan pelan-pelan, terdapat rasa yang samar memberitahuku bahwa itu sudah malam. Sepertinya, itu suara Lia adikku. Aku berdiri, begerak, tulang belikatku membuat suara berderit.
__ADS_1
“Apa kakak tidak pulang? Ini sudah malam, kak.”
Meskipun aku ingin berusaha untuk mengabaikannya, tetap aku tidak bisa melakukannya. Suara yang merdu dan lucu itu memiliki nada yang sama.
“Kakak di sini dulu aja deh, masih jam segini soalnya.”
Waktu menunjukan pukul enam malam. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi untuk bersamanya sebelum aku mau pergi pulang kerumah.
Dengan tampang yang sudah sepertinya kesusahan sambil pelan-pelan aku melirik ke arah perutnya, terdengar bunyi yang menunjukkan lapar.
“Mumpung aku lagi disini. Kakak, akan buatkan kamu makan malam.”
“Apa kakak memerlukan bantuanku?”
“Tidak perlu. Kakak akan menyiapkan semuanya. Jadi, kamu di sini saja. Soalnya menu makan malam ini hanya nasi bubur saja.”
Aku lekas menuju ke dapur gedung ini, letaknya tidak jauh dari sini.
__ADS_1