2 Meter per Second

2 Meter per Second
Pasangan komedi...


__ADS_3

Setelah selesai mengucapkan salam perpisahan kepada beberapa para ibu dan bapak guru di sekolah ini secara sopan dan santun, aku berangkat dari sekolah menuju ke rumah sakit, tempat dimana adikku sekarang dirawat.


“Sepertinya, disana adikku lagi berwajah cemberut, deh.”


Suara burung gereja musim hujan ini yang berwarna kecoklatan saling bersahutan seperti badai, nyayian yang sungguh enak untuk didengarkan.


Melewati jalan sempit yang telah di aspal sepanjang jalan setapak dan menuruni beberapa anak tangga yang di kedua sisinya didirikan tembok, aku keluar dari bayang-bayang bangunan bertingkat menuju cahaya matahari.


Di bawah sana terdapat aliran air sungai. Permukaannya yang tenang memantulkan cahaya matahari sore, berkilauan dan menyilaukan, seolah-olah tidak ada yang memerhatikannya. Pepohonan berwarna hijau tua membentuk barisan di bawah awan orange di langit yang sudah menunjukkan hari mulai akan sore, dan beberapa seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dan tas sekolah hitam berjalan melompat-lompat tanpa alasan tertentu.


“Sore yang damai dan indah.”


Lalu, seperti biasanya, aku berjalan bersamaan beberapa gadis SMA, pakaiannya yang rapi sambil mengenakan rok panjang sampai ke lutut yang mempesona. Di dalam kepalaku, aku mencoba menambahkan susunan musik dari petikan senar pada pemandangan yang ada, sebagai musik latar belakang.


Oh, ini seperti bagian pembuka dari sebuah film drama korea, dengan kata lain, kita hidup di tempat yang sangat luas, kota Surabaya yang sangat padat dan udara yang begitu sejuk, karena telah di penuhi oleh pohon besar.


“Noviii…!”

__ADS_1


Setelah aku sudah jauh dari arah sekolah, terdengar suara memanggil nama seseorang dari arah belakangku. Itu Ari, dia mengayuh sepedanya dan terlihat jengkel, dengan seorang gadis SMA yang sedang duduk manis di kursi belakang sepedanya sambil bentuk wajah yang tersenyum dingin.


“Cepatlah, kamu turun dulu!”


“Aku nyaman di sini. Jangan pelit, dong!”


“Ayolah, kamu ini berat.”


“Kamu tidak sopan! Hump…!”


Wajah cemberut, dia bersuara cuek sambil membuang muka dari Ari.


“Kalian berdua benar-benar akrab, ya.”


“Kami sama sekali tidak akrab!”


Bantah mereka berdua secara bersamaan sambil bersuara keras.

__ADS_1


Mereka membantahnya begitu seriusnya sampai-sampai bentuk wajah dari mereka berdua menjadi konyol, membuatku tertawa kecil. Musik latar belakang yang dipikiranku berubah menjadi suara drum yang merdu.


“Maafkan aku ya, hehehe…”


Kami bertiga sudah menjadi teman dekat selama hampir dua tahun ini, Novi yang mungil, dengan rambut hitam dan poni lurusnya, serta Ari, yang tinggi dan kurus dengan rambut yang sedikit berantakan dan tidak memiliki gaya penampilan yang umum. Mereka selalu terlihat berkelahi, tetapi melihat bagaimana percakapan mereka selalu nyambung dengan sempurna, aku diam-diam merasa mereka akan menjadi pasangan yang cocok, mungkin.


“Oh, Novi, kamu akan merapikan rambutmu dengan benar hari ini?”


“Iya Aam, rambutku selalu terhempas oleh angin, makanya aku…”


“Rambutmu kamu kuncir, itu seperti, iya persisi ekor kuda.”


Setelah jeda pendek, Ari berbicara sambil sedikit tersenyum nyengir.


Novi yang sudah turun dari sepedanya Ari, menyentuh bagian ikatan rambutnya, wajahnya sedikit heran. Rambutnya dirapikan seperti biasanya di tarik ke arah belakang yang disimpulkan, lalu pelan-pelan diikat di belakang dengan tali ikat rambut. Seperti itulah, dia melakukannya sekarang ini.


“Ehhh…? Rambutku kenapa memangnya?”

__ADS_1


Komentarnya mengingatkanku pada saat komentar-komentar yang sempat kulupakan pada ketemuan tadi. Dia merapikannya dengan benar, hari ini bukankah itu, artinya kemarin rambutnya aneh? Selagi aku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi. Tapi, Ari sedikit membungkuk, kelihatan kawatir.


__ADS_2