
Tak lama kemudian, sepuluh menit tidak delapan menit kemudian, pintu kelas pun terbuka. Munculah sesosok wanita yang bisa di bilang cantik dengan rambutnya yang berwarna hitam, lurus dan terurai sempurna.
Dia yang sedang menirukan seorang murid bagaimanapun mataku melihatnya, tapi dalam tubuhnya dia sebenarnya adalah seorang guru cantik.
Ya bisa di bilang cantik sih, dia itu bernama ibu guru Ani Lestari. Dia berpakaian yang seperti keibu-ibuan, tapi umurnya itu loh masih dua puluh tujuh tahun dan paling parahnya dia masih belum menikah, siapa yang mau?
“Baguslah, selamat siang semuanya?”
Dia datang lalu menaruh buku kehadiran siswa ke mejanya sambil menyapa ke semua muridnya. Suasana atmosfer di dalam kelas pun menjadi hening seketika, dan mata semua murid langsung terpana menuju kearah dia.
“Baiklahhh…! Silahkan kembali ke tempat duduk masing-masing!”
Dia itu ibu guru Ani yang mengajarkan pelajaran matematika, dia mengatakan hal itu dengan wajah yang tersenyum manis dan bernada lucu.
Siswa-siswi yang menyebar berangsur-angsur, kembali ke tempat duduknya mereka masing-masing, di karenakan pelajaran ke dua akan dimulai.
Ibu Ani melihat sekeliling kelas yang sudah tenang. Bersiaplah, bu Ani memulai pelajarannya dengan mengetuk sebuah kapur ke arah papan tulis.
__ADS_1
“Ok… Kita adakan test mengerjakan soal…”
“HHHHHHEEEEEEEE…!”
Yang bergema keras. Yah, itu memang bisa dimengerti sih.
“Heee… Cukup… Bagus! Cukup meriah untuk hari ini ya.”
Itu tadi info mendadak dengan dampaknya demikian besar ya.
“Tentu saja kalian boleh buka buku, boleh bertanya kepada saya, dan tentunya, tidak boleh saling menyontek satu sama lain. Ingat itu!”
“HHHHHHEEEEEEEE…!”
Dan dalam sekejab mata memandang, lembaran kertas soal pun langsung di bagikan kepada masing-masing murid yang ada di kelas ini.
Dan pada akhirnya…
__ADS_1
Tetap ada kemajuan sedikit. Walaupun pikiranku sekarang ini bahkan sudah hampir berputar-putar kebingung mau melakukan apa lagi.
“Bahaya nih...!”
Mau bagaimana lagi. Ini masih dibilang mungkin hampir mudah untuk mengerti beberapa hal dengan cara latihan mengerjakan soal yang cukup sulit. Tapi, ada beberapa bagian yang bahkan tidak bisa dimengerti dari awal.
Mengerjakan deretan angka dari soal matematika yang tidak bisa diselesaikan dengan cara bagaimanapun juga. Yup, hal-hal seperti itu tidak bisa diselesaikan kecuali diberikan beberapa salah satu contoh.
Tapi, yang terjadi sekarang itu benar-benar tidak bisa dijelaskan. Saat aku pertama kali menyentuh soal itu, rasanya aku benar-benar sudah familiar dengan hal ini, sudah berpengalaman bertahun-tahun, seperti itulah.
Tapi, aku benar-benar tidak bisa mengerti hanya dengan membaca buku lalu sekali mengerjakan soal yang berisikan deretan bermacam-macam jenis rumus seperti ini, rasanya itu seperti… Memangnya aku benar-benar ingin menyalakan, siapa sih yang membuat rumus sesulit ini sebelumnya?
“Hmmm…?”
Aku pun melipat tanganku di depan dan menatap buku matematika yang berada di meja. Tentu saja, aku sekarang sedang dalam kelas sekarang.
Ibu Ani mungkin kadang-kadang suka terdiam sendiri di sisi sudut pojok ruangan kelas ini, sambil duduk manis melipat kakinya. Tapi, dia terus mengajarkan para siswa tentang pengetahuan dasar ilmu matematika ini.
__ADS_1
“Yes, tinggal soal yang terakhir.”
Di sini ada soal terakhir yang saya masih belum mengerti sama sekali, kalian tau apa itu? Garis singgung dengan gelombang cossinus, masa ada sih.