2 Meter per Second

2 Meter per Second
Kutebas kamu


__ADS_3

Tidak lama kemudian, aku melihat lagi ke arah tiga gadis yang ada di sisi pojok kelas ini, mereka yang sedang memegang sarapannya, sambil mereka menunggu jawaban gadis di depanku ini dengan penuh ketakutan.


“Ah… Anita apa kamu tau, siapa aku?”


“Ngak! Lagian siapa kamu?”


“Aku Aam Pratama, masa kamu gak kenal aku?”


“Gak kenal!”


Setelah Anita mengatakan demikian, hatiku menjadi suram. Namun, untuk sekarang ini aku yang ingin dia membalas berbicaraku ini dengannya pun menghembuskan napas lega. Di belakang, ke dua temannya dengan diam-diam membisik sesuatu tentang dia. Tapi di sekitarnya, ada sedikit kerusuhan.


“Ngomong-ngomong, apa kamu tau nama setiap murid di kelas ini?”


“Aku tidak ada waktu untuk mengingat sebuah nama.”


Itu pasti betul sekali. 10 orang tahun pertama, 22 orang tahun kedua dan 35 orang tahun ketiga datang ke kelas ini hanya untuk memperkenalkan diri mereka. Lumayan susah untuk menghapal nama mereka. Sebagai catatan, kalau ada orang yang datang dan bilang sesuatu kepadaku seperti. Apakah kau ingat aku? Kemungkinan aku mengingatnya hanya 20%, itu pasti kejam sekali.


“Ruang kelas adalah tempat di mana kamu memiliki kesempatan langka untuk saling berinteraksi, jadi, tolonglah mencoba untuk bersimpati.”


“Hari ini sudah ada yang berbicara denganku, ini sudah ke tiga puluh enam kalinya, dan hal ini adalah yang membuatku merasa langsung kesal.”


Aku mengeluh nafas dalam-dalam dan berusaha sedikit tenang, lalu pada saat yang tepat aku melihatnya lagi, dengan mata yang menunjukkan padanya bahwa gadis ini masih memiliki banyak hal yang akan dikeluhkan.

__ADS_1


“Anita, apa benar nih. Kamu seorang maniak buku?”


“Akan kutebas kamu!”


Itu adalah kata-kata tersakit yang terucap oleh mulutnya, untukku.


Ok, aku akan mendiskripsikan si Anita. Dia memiliki tubuh yang tinggi, dan terlihat tidak terlalu berbeda dengan siswa-siswa lainnya. Namun, dia mengenakan baju yang sangat cocok dengan tubuhnya sehingga dia terlihat lebih tinggi. Dan dia terlihat sangat anggun kalau sedang berjalan sih, mungkin karena kakinya yang panjang dan postur tubuhnya juga sangat bagus.


Bagaimana ya caranya untuk aku menjelaskannya? Aku tidak bilang bahwa hal itu hampir sama seperti seorang putri yang memiliki sifat begitu dingin sedingin es dan berwajah sangat cantik, dia lebih mirip seperti seorang purti es dan sepertinya bukan cuma aku yang berpikir seperti itu di sini deh.


“Kalau begitu Anita, mari kita baik-baik satu sama lainnya ya?”


Namun, Anita yang ada di depanku ini sepertinya berada dalam keadaan yang canggung, dan dia tidak merespon menjawab pertanyaanku.


Alasannya memang cukup sederhana sih, dengan pengecualian diriku sendiri, semua gadis di kelas ini tidak mau berbicara dengan dirinya.


Cuaca hari ini sangat segar, di karenakan air hujan yang menghujani gedung ini telah selesai, sebuah jendela dunia yang baru saja terbuka lebar. Itu saja sebenarnya sudah sangat bagus, dan sesuatu yang patut untuk ditiru.


Tapi, masalah utamanya yaitu dia dan aku yang saling berhadapan.


Ini… Sebenarnya ini lebih serius dari yang kukira selama ini…


Ini bukan karena aku yang terlalu percaya diri, tapi faktanya, aku benar-benar bisa merasakan tatapan dari semua gadis yang ada di kelas ini.

__ADS_1


Lagipula, tempat dudukku kali ini sangatlah menyenangkan. Karena tempatku dudukku kali ini sedang melihat ke arah wajahnya Anita secara langsung, melihat bentuk wajahnya yang serius memperhatikan bukunya.


Dan tidak lama kemudian, setelah berpikir secara jernih.


Mungkin ini adalah hari dimana waktu akan terus melambat dan waktu ini ialah yang sangat mengasikkan untuk meminta maaf kepada Anita.


Tapi, sebelum itu aku sendiri akan mencoba untuk tetap tenang membahas nada bicara aneh yang terucap dari mulut Anita.


Sepertinya, aku berpikir bahwa jika Anita tampak terlalu serius, itu akan menyusahkan bagi diriku. Jadi, aku mencoba untuk berbicara tentang hal sesuatu dengan ringan. Tapi, Anita apakah bertekad mendengarkan hal itu.


 Aku memegang ke arah dagu dengan tangan dan berkata mendalam.


“Oh... Apakah itu menjadi seperti itu?”


“Apa maksudmu dengan menjadi seperti, itu?”


“Itu adalah itu... Sebenarnya, aku berharap itu tidak akan tersesat di tengah-tengah jalan yang sedang kamu buat ini.”


“Dan apa yang kamu maksud dengan, tersesat di tengah itu?”


“Hmmm…? Tersesat di tengah adalah tersesat di tengah! Gunakan pikiranmu itu! Atau berusahalah bertanya pada dirimu sendiri!”


Aku akan berusaha memojokkan Anita. Sepertinya dia telah menginjak ranjau darat yang telah aku buat, kemudian dia memperbaiki pandangannya pergi dari buku menuju ke arahku yang baru saja melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2