
Aku berjalan di sebelahnya dengan kecepatan yang sama pula, seakan-akan aku akan siap untuk berhenti kapanpun dan dimanapun. Aku mempertimbangkan apa yang harus aku lakukan sambil melihat kepalanya Ida.
Ida memiliki tubuh yang kecil, suara yang lemah, pendiam dan kalem, bertampang datar, dan tidak ada ekspresi di wajahnya, itu berlaku saat ini.
Berdiri di sebelahnya sama seperti berdiri di atas bongkahan es tipis yang hampir saja retak. Dia bagaikan kerajinan yang terbuat dari kaca bening yang halus dan dapat hancur begitu saja kalau disentuh, piarrr…!
Itulah kesanku sendiri yang aku berikan kepada Ida, hal ini berlaku untuk sekarang dan tidak seterusnya, dan bukan berlaku untuk yang tadi, saat aku dan dia berada di bawah pohon sambil melakukan seperti perkenalan.
Tiba-tiba, dia berkata dengan nada yang lemah lembut dan pelan.
“Aam, itu tidak buruk.”
“Eh…? Apanya yang tidak buruk?”
“Kedengarannya bagus. Aku menyukainya.”
Tiba-tiba aku langsung terpana oleh dirinya. Pendeknya, Ida adalah seorang gadis muda yang sepertinya mudah untuk tertipu.
Bagaimanapun perasaanku kalau melihat dirinya, saat ini Ida sangat cocok dengan nuasa cuaca dingin ini yang dilanda air hujan.
Hujan adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang melewati semua dari perasaan kesedihannya pada umumnya dan yang berkepribadian penuh. Itu adalah sarang dari orang-orang yang luar biasa menaruh kesedihan.
__ADS_1
“Astaga…! Sabar…! Tenang…! Dan tenang…!”
Semakin aku ingin mengatakan sesuatu yang jelas, semakin sulit jadinya untuk memikirkan sesuatu untuk dibicarakan. Kamu tau, aku baru saja melihat ke arah dirinya dan itu tidak sengaja aku melihat ke arah dadanya.
Dan ini juga akan hasil dari pernyataan dariku untuk dirinya yang terakhir deh. Dengan wajahku berubah menjadi merah sepenuhnya.
Akan tetapi, kalau ini terus menerus sampai kebawa pulang ke arah rumahnya, hal ini adalah penampilannya yang menyedihkan dan dapat membuat aku menjadi malu sambil berbincangan penuh olehnya.
“K-kamu tinggal di kota Surabaya ini, kan?”
Ida menganggukkan kepalanya begitu saja sambil mengucapkan.
“Iya, aku asli dari kota Surabaya.”
Matanya yang jernih melihat dari sudut ke arah depannya, dengan tanpa perubahan ekspresi wajah sama sekali, sungguh tatapan yang sunyi.
“Sama, aku dekat di daerah sini, di belakangnya stasiun.”
“Sepertinya kamu dan aku seumuran deh, aku kelas dua.”
“Sama, aku kelas dua, juga.”
__ADS_1
“Kita berada di tahun yang sama.”
Aku berpikir secara rasional, dia dan aku kan satu sekolah dan tahun angkatan yang sama pula, tapi mengapa, aku tidak pernah melihatnya, ya.
“Oh ya Ida, kamu…"
“Iya, Aam. Ada apa?
Dan aku lagi-lagi melihat ke arah dadanya, aku harus menyelasaikan permasalahan ini secepatnya, mengeluh napas dalam-dalam karena ingin tenang, lalu mengucapkan dengan nada yang santai tapi memaksa.
“Maaf Ida, bukannya aku lancang, sebelumnya aku minta maaf.”
“Iya ada apa, ucapkan saja!”
Dia hanya menjawab santai, sepertinya tidak ada halangan darinya.
Aku mengeluh nafas sebentar, lalu memulai berbicara jujur di hati.
“Huhhh… Tolong bajumu, eh bukan, kancing bajumu tolong kamu perbaiki, ada yang lepas, maaf aku tadi sempat melihatnya sekilas. Maafff…!”
Tunggu! Kenapa aku bisa berbicara terlalu jujur? Tapi, ah sudahlah.
__ADS_1
Aku mengatakan begitu saja dengan suara yang lantang, mengatakan hal yang seperti ini saja, aku sudah terasa sampai di ujung batasku.
Akhirnya, aku bisa tenang setelah selesai mengucapkan semua hal ini. Tapi, di sisi Ida, tiba-tiba dia berhenti dan diam dalam keheningan yang kejam.