
Berdiri dalam kenikmatan, aku sedikit tersenyum manis ke arahnya, dan pada saat yang tepat, dia mengucapkan kata pelan, tapi menyakitkan.
“Aam, mesum.”
Jantungku langsung tertusuk benda yang lancip, seperti tertusuk satu anak panah yang tepat terkena sasaran, langsung ke arah jantungku dan tembus ke dalam isi memori otakku, itu sangat menyakitkan bukan.
“Benar-benar, mesum.”
Dia mengulangi hal yang sama, dan kali ini anak panah yang ke dua.
Aku pun sempat kebingungan dengan kata yang barusan dia ulangi, karena tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita, aku akan berkata jujur.
“Mesum? Maaf Ida! Soalnya bajumu terbuka sedikit, dan aku tidak sengaja melihat ke arah dadamu. Soalnya kamu itu…”
“Memangnya aku kenapa…?”
Aku melangkah, terlihat bentuk wajah yang cantik dan bau harum dari jarak sedekat ini, lalu aku menyentuh kepalanya, sambil berkata lembut.
“Kamu itu terlihat kecil dan imut di mataku.”
__ADS_1
“A-apa… Kecil dan imut katamu?”
Ida menangkis tanganku, lalu menatap balik ke arah wajahku, mata hitamnya bagaikan berlian hitam yang berkilau, dan terlihat indah di mataku.
“Iya kecil dan imut… Memangnya kata-kataku ada yang salah?”
Tentu saja, percakapanku ini tentang wajah dan tinggi badannya Ida.
“Aam, bodoh.”
“Bodoh…? Saya…? Di mana yang salah?”
“Iya, Aam bodoh… Hump…!”
Dan ini yang ketiga, aku telah dibuat bingung olehnya dengan ada kata yang sangat menyakitkan, letaknya kata bodoh itu ada di sisi mana ya?
Entah kenapa? Di saat yang tepat, hatinya langsung berubah menjadi tenang tanpa sebab. Aku berpikir, ada apa ini? Tenyata hujannya sudah reda!
Aku merentangkan begitu saja tanganku, sambil memastikan hujannya apa benar-benar sudah reda, dan ternyata, iya. Tidak ada satu tetesan dari air hujan itu yang menetes ke genangan air di depanku, aku menutup payungku begitu saja, sambil melihat-lihat ke atas langit.
__ADS_1
Aku melihat ke arah dirinya yang lagi melihat ke atas langit juga, dia seperti bunga matahari yang ingin mendapatkan sinar dari sang matahari.
Perlahan-lahan sinar itu menyinari keseluruh tubuhnya.
Bentuk ekspresi wajahnya yang tersenyum manis melihat ke atas, tapi di dalam hatiku itu, ada yang mengganjal. Dia tersenyum sedikit dipaksakan? Seperti ada yang menghalangi di dalam kehidupannya. Siapa ya itu?
Seperti seorang putri yang terkurung di dalam ruangannya sendirian, dia tidak punya kunci ataupun keinginan untuk keluar dari ruangannya itu.
“Aam, aku mau bertanya kepadamu?”
“Iya, tidak apa-apa, silahkan bertanya apa saja kepadaku. Tapi, jangan pertanyaan seperti hal yang membuatku merasa kesulitan, loh ya?”
“Kenapa awan yang sedih itu tidak menurunkan air hujannya, namun pada saat senang, dia tidak tersenyum, tapi mengeluarkan air matanya?”
“Hmmm…? Kenapa ya…? Ida, apa pertanyaanmu itu gak kebalik?”
“Enggak lah. Pertanyaanku ini berbobot kok, gak asal-asalan.”
Aku mengeluh nafas, lalu berpikir dalam keheranan, namun waktu…
__ADS_1
“Lama…! Ya sudah. Pertanyaan itu, PR buat kamu, aja ya?”
“Apa? Pertanyaan itu, PR buat aku?”