2 Meter per Second

2 Meter per Second
Ke kelasnya...


__ADS_3

Tepat di hari ini, hari ke duaku setelah bertemu dengan Ida.


Pelajaran ke dua telah selesai, artinya jam ini adalah jam istirahat. Saatnya bagiku untuk pergi ke kelasnya Ida, tapi setelah beberapa detik ada keraguan, dan akhirnya aku menjaga kepercayaan untuk lanjut jalan.


Di dunia ini terdapat jenis hubungan, yaitu tipe yang ingin segera bertemu dengan dirinya. Dan begitulah jenis hubungan yang aku kepada Ida Permatasari miliki. Karena kita berdua satu sekolah tapi beda kelas, tidak heran kalau aku ingin segera ke kelasnya Ida. Meski begitu, dia jarang terlihat di lingkungan sekolah ini selama dua tahun terakhir ini sih, bahkan kami pun sekolah di SMA yang sama. Mungkin bakal ada yang bilang kalau itu karena status sosial kami yang berbeda jauh, tapi masalahnya adalah, mungkin kami berdua jarang saling menyapa saat bertemu. Tidak ada yang bisa kukatakan, selain ikatan rasa ingin bertemu dengannya memang begitu dalam.


“Ah… Apa Ida sekarang ada di kelasnya ya? Aku merasa tidak yakin kalau hari ini dia masuk sekolah, mengingat kemarin saat aku bertemu dengan dirinya, dia hujan-hujanan di bawah pohon. Mungkin dia sedang sakit demam? Tapi, aku harus memastikannya dulu, apa hari ini dia masuk sekolah?”


Aku menyusuri lorong ini, menggerutu diriku sendiri dalam kesepian.


“Kalau, Ida tidak ada di kelasnya, mungkin saatnya aku akan pergi ke perpustakaan saja, dari pada di kelas… Nanti, aku malah ngelamun gak jelas, sambil terbayang memikirkan tentang dirinya yang tak kunjung bertemu.”


Setelah beberapa langkah lagi menuju ke kelasnya Ida, aku melihat ke papan nama kelasnya, kelas IPA 2-A. Mengingat jarak kelasku IPA 2-E dengan kelasnya ialah sekitar 100 meteran, itu menurutku cukup jauh ke kelasnya.

__ADS_1


Aku sudah sampai di depan pintu masuk kelasnya Ida, berhenti sejanak, menghirup nafas, lalu buang palan-pelan. Aku sudah siap! Masuk!


Namun, saat jauh mata memandang untuk melihat sekeliling kelas ini dan meninjau tempat duduk satu-persatu sambil mengingat wajahnya Ida.


Tapi, yang aku temukan hanyalah sekumpulan murid laki-laki dengan perempuan yang saling ngerumpi di sudut kelas ini. Ternyata Ida tidak ada di kelasnya, apa sekarang dia lagi keluar untuk cari makan ya? Begitulah pikirku sambil melihat-lihat tempat duduk yang kosong di kelas ini.


Aku merasa sedih lagi, mengeluh nafas. Kenapa Ari dan Novi juga tidak ada di kelasnya sih, aku kan bisa bertanya kepada mereka berdua saja. Gawat ***! Kenapa aku malah dibuat berlama-lama di sini ya? Aku kan sudah tau kalau Ida tidak ada di kelas ini. Aku ini seperti… Seorang penguntit saja.


“Bro siapa anak itu?”


“Sepertinya bukan aku yang dia cari… Bentar, aku tanyakan dulu.”


Seseorang murid laki-laki yang tidak aku kenal malah menghampiriku dengan tampangnya seperti orang yang ingin menginstrogasi si penguntit ini.

__ADS_1


Aku harus kabur nih… Tapi, bahaya kalau aku tiba-tiba lari, pelan aja. Membalikkan badanku, mengambil langkah awal untuk segera cabut dari sini…


“Bro tunggu! Kamu sedang mencari sapa?”


“Maaf bro! Hmmm…? Aku mau tanya? Apa Ida ada di kelas ini?”


“Ida…? Hmmm…? Ohwalah iya, iya, Ida permatasari kan?”


Laki-laki ini sempat berpikir tentang nama itu, bentuk raut wajahnya menunjukkan wajah yang sama saat aku bertanya kepada Novi dan Ari.


Bentuk raut wajah yang menujukkan, kalau dirinya itu jarang bertemu dengan seseorang dalam waktu yang sangat lama, lupa karena kebingungan.


“Iya! Apa dia ada di kelas ini?”

__ADS_1


“Maaf bro! Sejak kemarin lusa anaknya tidak masuk sekolah.”


__ADS_2