
Aku mengeluh nafas panjang sambil mengelus dadaku sendiri, karena berusaha untuk tenang dan menghilangkan rasa grogiku kepadanya.
“Kalau begitu. Nama kamu siapa?”
Dan sekarang, detak jantungku jadi merasa tidak karuan, sambil menunggu respon dari gadis yang ada di depanku ini. Dia mengangkat tangan kanannya ke arahku, seperti orang yang mau melakukan berjabatan tangan. Aku yang sudah menunggu lama, akhirnya aku dan dia saling berkenalan.
Gadis itu mengucapkan sebuah kata sambil merasa sedikit gugup.
“N-nama aku, Ida Permatasari.”
Detak jantungku yang masih tidak karuan, aku menjadi sedikit gugup.
“Ohhh… Ida, nama yang bagus. Sedangkan namaku, Aam Pratama.”
Dengan jeda pendek aku memperkenalkan namaku sambil mengelus belakang kepalaku dan tersenyum manis kepadanya. Entah kenapa aku jadi tidak mau melepaskan rangkulan tangannya, karena tangannya yang terasa lembut dan juga sedikit hangat, seakan-akan hujan ini ikut terasa hangat.
__ADS_1
Ida juga tersenyum manis ke arahku, seperti yang aku bayangkan dan rasakan, dia juga sepertinya sangat senang dengan perkenalan ini.
Dan entah kenapa kalau dia tersenyum manis langsung ke arahku, senyuman manisnya seorang gadis itu membuat hatiku tiba-tiba menjadi terasa hangat. Seperti hati yang terus menerus terkena dinginnya air hujan, tiba-tiba tersapu bersih oleh hangatnya musim panas.
Aku mempertanyakan tentang kejadian ini, dan aku akan terus mengingatnya, tentang apakah ada yang lebih baik dari ini? Terus aku akan menjawab, Iya. Mengapa, karena aku akan mengucapkan kata terima kasih kepadanya walaupun hanya sekecil ini, sungguh hati yang senang.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang jelas akan membuat kamu mencari dan menemukan tujuan hidup kamu yang sebenarnya.
Sambil berteduh di bawah pohon, aku pun sudah selesai perkenalan dengan Ida, dan mengingatkan aku sendiri bahwa sekolah sudah benar-benar akan segera di mulai. Dan di saat yang sama, aku melihat ke arah jam tanganku, jam tujuh tepat, sebelum itu kelas di mulai pukul tujuh tiga puluh.
Sambil mengangkat kepala dan melihat ke arah langit, sekarang yang masih gerimis hujan itu terasa kontras sekali dengan suasana hatiku ini.
Tanpa menunggu, aku mempertanyakan hal itu sambil menawarkan payung kepada Ida, seperti yang kalian pikirkan, dengan keadaanku yang sekarang masih grogi dan bercampur aduk dengan perasaan sedikit malu.
“Aku mau pulang saja.”
__ADS_1
Aku langsung merasa tidak mengerti, kenapa dia mau ingin pulang.
“Pulang? Bukannya ini masih jam sekolah, sedangkan kamu masih memakai pakaian sekolah yang sama seperti denganku?”
“Tidak, aku mau pulang, saja. Pulang!”
Dengan jeda pendek, dia mengulangi kata yang sama sambil bernada lemas dan sedikit ada rasa kecewa yang bercampur rasa kesedihan darinya.
“Ok, ok! Yuk pulang bersamaku!”
“Kenapa aku harus pulang bersamamu?”
“Entahlah, aku kepingin aja jalan bareng denganmu.”
Aku memutuskan untuk mengatarkannya pulang, berduaan di bawah satu payung, keberuntungan atau apalah aku berjalan bersama dengan Ida. Aku juga sedikit merasa senang dan bercampur dengan perasaan malu.
__ADS_1
Pada saat perjalanan pulang, aku dan Ida saling berpaling arah pandangan dan seperti ada jarak satu spasi badan di antarku dengan dirinya, dengan perasaan yang sedikit malu, dan jantungku masih belum normal juga.
Haruskah aku mengantarkannya pulang begitu saja ke rumahnya dengan keadaannya yang seperti ini? Begitulah pikirku kalau dekat dengannya.