2 Meter per Second

2 Meter per Second
Dia ingin Menyentilku


__ADS_3

Tanpa arahan yang jelas darinya, Ida pun berhenti, aku pun ikut-ikutan berhenti juga. Aku melihat ke arahnya yang sekarang melihat kakinya, dan sekarang aku dibuat bingung dengan tingkah lakunya yang tiba-tiba ini.


Aku sempat tatapanku melihat ke arah sekitar, dan memastikan tidak ada seseorang yang mendengarkan pengakuanku ini. Kalau iya, aku akan di buat malu. Dan sepertinya ini aman, suara hujan melindungi kejujuran hati.


“Ida, kamu kenapa? Jangan diam saja, Ida!”


Dan seperti yang aku bayangkan, apa dia akan marah atau dia akan… Ah sudahlah, aku harus segera meminta maaf kepadanya sekarang ini juga.


“Maaf Ida, aku tidak sengaja melihatnya. Kamu boleh memukulku, menendangku. Tapi, jangan marah atau mengeluarkan suara yang aneh. Dan jangan membenciku! Kita kan baru saja berteman, dan sekali lagi… Maaf!”


Dan kelihatannya aku hanya bisa menjadi tamengnya saja. Lawanku terlalu sulit untuk ditangani sekarang ini. Lebih sulit dari pada menangani seratus pertanyaan dari sekian pertanyaan yang murid ajukan kepadaku.


Dengan jeda waktu yang panjang. Tiba-tiba, dia membalikkan arah badannya dariku. Aku akan berpura-pura tidak tau akan hal ini dan berusaha menghiraukannya sekarang, supaya isi hatinya dan pikirannya tenang dulu.


Karena terlalu lama, aku akan mencoba memanggilnya dengan nada pelan, sambil menyembunyikan rasa ketakutanku akan dirinya marah.


“I-ida…?”


Dengan jeda pendek, tiba-tiba dia langsung membalikkan badannya. Dan sekejap pose dari badannya berubah. Sekarang, tangan kanannya seperti ingin menyentil sesuatu, bentuk wajahnya cemberut dan marah yang manis.

__ADS_1



“Mana dahimu! Cepatlah berlutut!”


Dia langsung mengeluarkan suara keras, sambil bentuk dari jemari tangan kanannya yang sepertinya sudah bersiap untuk menyentil sesuatu.


“Dahi…? Berlutut…? Hmmm…? Buat apa, Ida…?”


Ternyata, seorang gadis itu sangat sulit untuk dimengerti ya? Apalagi buat para cowok yang seperti saya ini, bertemu dengannya aja udah bingung.


Pertama, aku sempat dibuat kebingungan olehnya, dengan tingkah lakunya itu, yang tiba-tiba bersuara keras, seperti kalimat perintah mendadak.


ini salah atau udah betul buatnya?


Tanpa jeda waktu yang lama, dia langsung mengulangi perintahnya itu, seperti seorang putri yang lagi marah besar kepada bawahannya.


“Cepat! Mana dahimu?”


“Ini dahiku, gak aku sembunyikan, kok.”

__ADS_1


“Aku ini gak nyampek tau. Cepat kamu berlutut!”


Oh iya, aku sampai lupa? Ida kan orangnya pendek. Kalau aku lihat-lihat tingginya Ida sekitar 150 cm, cukup buat aku untuk memeluknya. Hehe…


Aku pun di buat pasrah tak berdaya dengan perintahnya itu, dan sekali lagi aku akan menuruti katanya deh, daripada lebih parah kedepannya.


“Iya, iya. Aku laksanakan.”


Aku langsung berlutut sambil menutup kedua mataku, menghadap ke dirinya yang bersiap untuk menyentil dahiku, dan aku tidak memperdulikan celanaku basah terkena air hujan, karena demi keinginannya itu.


Dia siap menyentil sambil bersuara lucu menggemaskan, tapi aku akan menikmatinya dari suaranya itu, sunggu suara yang lucu menggemaskan.


“Ihhh…! Kamu itu ya…”


Tidak lama kemudian, munculah suara aneh dari arah dahiku seperti.


“Ctesss…!”


Sudah aku duga dan aku rasakan, sentilan dari seorang gadis itu tidak sakit, malah aku menikmatinya. Karena empuknya jari jemari tangan seorang gadis yang imut, bersih, indah, dan juga tidak ada tenaganya sama sekali.

__ADS_1


Sekali lagi aku bukan seorang masokis atau suka di siksa, loh ya.


__ADS_2