
Walaupun suster bilang, Lia butuh banyak perawatan di sini, hanya untuk berjaga-jaga dia masih dibawa ke ruang cek kontrol dan istirahat kembali. Tapi, aku lebih suka rela tinggal bersamanya sambil merawatnya.
Tidak lama, suster itu harus pergi untuk menghadiri suatu hal, dan meninggalkan adikku Lia dan aku sendirian di ruangan saat ini.
“Kakak…? Ahhh… Aku mengacaukannya lagi, benar?”
Dia sepertinya menghubungkan ingatannya, dengan ekspresi murung.
“Ya, mengecek darahmu itu untuk mengetahui kondisi keadaanmu sepenuhnya. Kegagalan besar yang tidak bisa lebih mudah dan jelas.”
“Kakak sangat jahat sekali... Hump…! Bukankah kakak seharusnya menyemangati dan menghiburku pada saat seperti ini? Kakak jahat!”
Lia bilang itu sambil memalingkan wajahnya, lalu cemberut kesal.
Makan, mandi dan beristirahat, hal seperti itu yang adikku lakukan setiap harinya di rumah sakit ini, sambil di monitor kesehatannya oleh dokter.
“Kamu berniat untuk membalas tentang jawabanku yang tadi, Lia?”
“Bagaimana aku mengatakannya…? Sebenarnya, aku tidak punya perasaan negatif seperti rasa benci di hatiku... Tapi, aku berpikir aku harus melangkah kedepan untuk bertahan. Untuk alasan itulah aku ingin sembuh.”
Melihat padaku, mata Lia bersinar dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
Melihat matanya yang teguh, aku tidak bisa menolong untuk membujuknya. Pada saat yang dulu ketika Lia bilang aku akan melindungi perasaan ini untuk kakak, dia juga memperlihatkan mata yang sama.
“... Itu artinya kamu masih tidak berniat untuk menyerah, bukan?”
“… Huh?”
Lia membuka mata lebar-lebar karena merasa sedikit terkejut.
“Walaupun kamu baru saja bilang, kupikir aku akan hidup disini saja seumur hidupku. Sambil di temani oleh kakak. Jadi, kata itu kamu tidak berniat untuk menyerah dengan kondisi kesehatanmu, bukan?”
“I-itu tentu saja! Walaupun aku sakit, aku akan bekerja keras!”
Mendengar jawaban yang diharapkan, aku tersenyum lega.
“Hmmm... Aku mengerti tentang logika ini, tapi, bahkan jika aku sudah mengerti, tetap saja, aku masih tidak bisa melakukannya...”
Melihat Lia berkecil hati, aku membuat keputusan di hatiku. Berpikir secara rasional, ambil topik pembicaraan yang bagus, lalu menanyakannya.
“Lia, berapa banyak sesi liburan sebelum tes darah dimulai lagi?”
“Uh, aku rasa tidak ada kesempatan lagi untuk sesi liburan lebih lama, kita hanya bisa melakukan liburan ringan mulai minggu besok, itu saja kak.”
__ADS_1
“Hmmm... Itu bisa bagus. Kita kehabisan pilihan jika tidak ada waktu untuk liburan. Apa disini liburan sendiri keluar rumah sakit diperbolehkan?”
“Mengunjungi tempat lain untuk liburan membutuhkan persetujuan dari pihak rumah sakit ini dan seseorang untuk
mengawasi kita, kak.”
“Oh… Oke, kalau begitu, aku akan mendiskusikannya dengan dokter terlebih dahulu. Jika persetujuan itu diperbolehkan, maka, mulai minggu besok ayo pergi liburan bersama di taman bermain terdekat dari sini saja, ya?”
“Eh... Liburan kakak…? Berduaan…? Apa itu disebut dengan, kencan?”
Mulut Lia terbuka lebar dan terkejut, sepertinya dia sangat senang.
“Ya, berduaan seperti sepasang adik dan kakak, bergandengan…”
“Kakak... Terima kasih, aku sayang kakak.”
Air mata menggenang di mata Lia, lalu terjatuh mengalir di pipinya.
“H-hei, adik! Kenapa kamu menangis?”
“Aku… Aku tidak tau...”
__ADS_1
Melihat tetesan air matanya Lia yang mengalir tanpa henti, aku secepatnya menenangkan dia sambil mengelus pelan kepalanya.
Tapi, Lia tidak bisa berhenti menangis untuk waktu yang lama…