
Di dalam sudut sisi ruangan kamar yang luas, mahkota bunga yang terbalut di sekitar tubuhnya pun terjatuh dengan perlahan-lahan dan hal itu memperlihatkan keadaan secara utuh seakan membuat suasana yang haru.
Isi pandanganku pun tidak teralihkan sama sekali.
Kesunyian yang meliputi ruangan di rumah sakit ini tampak bagaikan permukaan danau yang sudah membeku, penuh hawa dingin yang kejam.
Wajahnya terlihat meratapi pada saat itu telah menjatuhkan mahkota bunga yang berada tepat di atasnya. Tulang lututnya yang naik ke atas dengan perlahan-lahan dan bentuk lekukan kencang pada sisi selimut tidurnya.
Suara sedih Lia terus bergema di ruang ini, sama seperti waktu itu.
“... Apa aku akan sembuh kakak, jadi, kumohon, temani aku! Kakak.”
Waktu itu, tidak ada seorang pun berbicara setelah mendengar Lia berkata begitu, dan tidak seorang pun tahu harus seperti apa lagi. Hal yang menyelamatkan dia dari ketidaktahuan ini adalah aku akan menjawabnya. Iya, kakak akan menemanimu di sini sampai kamu sembuh, adikku Lia yang manis.
“Ah, begitukah? Ini sama seperti waktu itu.”
Aku melihat dengan sedikit ada rasa kawatir. Saat aku tersadarkan, kusadari kalau ternyata ada satu kursi kosong yang berada di samping dirinya.
__ADS_1
“Di sini yang menjabat sebagai kakak adalah Aam, jadi, silakan adikku yang manis, Lia bertanya kepadaku! Apa yang belum kamu ketahui, Lia?”
Aku berkata kepada Lia dengan wajah tersenyum dan bernada lucu.
Lia berhenti memetik mahkota bunga itu, menatapku, lalu meneguk air liurnya dan sedikit mengatur pernapasan. Sesekali dia meninjau ruangan ini dengan pandangan tidak ramah dan wajahnya penuh dengan kesedihan.
Bibir adikku Lia yang kecil dan entah kenapa kering itu perlahan mengucapkan beberapa kata akan keluar dari cekaman atmosfer yang dingin.
“Kakak, apa di dunia ini tidak ada hal yang tidak bisa dilihat dari kebahagiaan dan cinta, kak? Aku masih belum bisa mengerti tentang hal itu.”
Setelah mendengarkan sebuah kalimat cukup panjang yang keluar dari mulutnya, aku di buat heran dan terus mempertahankan keadaan diam membeku ini, adikku Lia itu seperti mengungkapkan apa isi hatinya itu.
Aku akan mencoba berpikir secara rasional dan tenang kali ini.
Tetapi, itu semua hanyalah sebuah kumpulan imajinasi. Tidak memiliki makna tertentu. Begitu aku memikirkan tentang itu, aku bahkan tidak bisa mengingat katanya. Gema suaranya di telingaku juga sudah menghilang.
Meskipun begitu, jantungku berdetak begitu kencang. Dadaku dengan anehnya terasa berat. Seluruh tubuhku berkeringat. Untuk sejenak ini, aku menarik nafas dalam-dalam, dan mencoba untuk menjawabnya.
__ADS_1
“Ada sesuatu di dunia ini yang belum pernah dilihat oleh siapapun, bahagia dan cinta. Jika ada yang tahu, maka semua orang pun akan ingin untuk memilikinya. Dunia ini telah menyembunyikan dengan sangat baik, sehingga sulit untuk memperolehnya, karena itulah tidak ada yang pernah melihatnya.”
“Hmmm…? Begitu ya.”
Lia perlahan-lahan memalingkan pandangannya dari wajahku dengan tatapan kosong, lalu pergi membuang pikirannya ke arah ke luar jendela.
“Kamu tidak mendengarkan dari tadi?”
“Mmmm… Aku tidak begitu, ehemmm… Kupikir aku akan hidup di sini saja seumur hidupku. Sambil di temani oleh kakak, saja deh.”
Tiba-tiba saja, Lia mengatakan sesuatu yang canggung dan sunyi.
“Hahhh… Jangan begitu Lia!”
Tunggu, memangnya itu masalahnya? pikirku bertanya-tanya, dan ketika aku tersadarkan kembali, aku kembali duduk dengan tenang. Semua kejadian, perasaan, pandangan masa depan, keraguan, dan keputusasaan bercampur aduk di dalam diriku, dan rasanya hatiku mau meledak.
Aku dan Lia kembali mengeluh nafas karena ingin merasa tenang. Inilah kenapa Lia merasa tidak puas tentang jawabanku itu, bukan berarti aku menjawab pertanyaannya dengan keadaan yang aku kawatirkan sekarang ini.
__ADS_1
Angin berbisik dengan lembut. Ketika aku menatap balik untuk memerhatikannya, di balik jendela itu terlihat kumpulan awan dan jejeran pohon yang hening, tenang, dan sama sekali tidak tertarik dengan semua ini.