2 Meter per Second

2 Meter per Second
Gadis di bawah air hujan...


__ADS_3

Aku berhenti sejenak sambil melihat ke arah tiga anak itu dari arah berlawanan menuju ke sekolahku, mereka yang seumuran dengan adikku berjalan bersama memakai seragam sekolah, tersenyum dan saling bercanda.


“Aku ingin melihat adikku senyum lagi.”


Tak lama kemudian, sambil melihat mereka. Aku merasakan sebuah sentuhan kecil yang mengenai tangan kiriku. Aku mengecek, ternyata hanya air, dan aku kira itu apa, aku menghiraukan hal itu dan melanjutkan berjalan.


Lima detik bukan sepuluh detik kemudian, aku merasakan sebuah tetesan lagi, dan kali ini aku melihat ke atas. Dan tetesan selanjutnya langsung mengenai mataku, rasanya perih dan ada rasa berat saat menutup mataku.


“Aduh…! Cuk! Hujan cuk!”


Tes...! Tes...! Suaranya air hujan yang menghantam permukaan bumi semakin lama semakin membesar. Aku cepat-cepat membuka payung dan mulai berteduh di sebuah kepakan tenda berjalan, pada saat itu hatiku pun mulai bercampur aduk dengan kegelisahan, kekawatiran dan terburu-buru.


“Ohhh… Ini sungguh tidak baik dan hampir buruk.”

__ADS_1


Saat mendekati belokan yang sudah hampir menyepit setipis gang kampung, angin kuat dari sisi belakang semakin mendorong baju seragamku.


Daun hijau yang melambai-lambai beterbangan dari barisan pohon tinggi di sisi jalan semakin menambah rasa dingin dan kegelisahan di hatiku.


“Aku hampir saja terpeleset cuk!”


Didorong embusan oleh angin dari sisi pohon yang dapat menurunkan semangat pagiku seperti itu dari arah belakangku, hal ini juga sempat mendadak memperpendek jarak langkahku, aku pun perlahan keluar dari jalan sempit ini.


Setelah beberapa deretan pemikiranku yang membuatku dingin karena cuaca hujan yang ada di sekitar, aku berhenti sementara. Sebuah taksi biru melaju masuk ke dalam lingkaran sebuah taman kota dan berhenti di bahu jalan, sekitar dua puluh meter dari arah sudut lain aku melihat taksi itu.


Itu adalah sebuah seragam lama, karena dia sudah terlihat terbiasa mengenakannya. Dia tidak memegang apa-apa pun, maupun membawa tas di belakangnya, dia memperhatikan taksi yang pergi dengan ekspresi bosan.


“Apa, dia tidak naik taksi?”

__ADS_1


Saya mengira gadis itu menaiki taksi yang baru saja berhenti di bahu jalan di sebuah taman ini, dan ternyata gadis itu hanya menghiraukan saja dan membiarkan taksi itu lewat begitu saja.


Aku pun melangkahkan langkahku sedikit, limabelas meter dari arah aku melihat taksi itu, sekelebat deretan pemikiranku pun bertanya sesuatu.


“Kampret… Cantik cuk…! Anaknya siapa ya gadis itu?”


Tak lama kemudian, aku melangkahkan kakiku lagi untuk melihatnya dari sisi sudut yang lebih dekat, kali ini sejauh sepuluh meter dari gadis itu. Aku melihat wanita itu yang sekarang ini berteduh di bawah pohon rindang, dia yang sedang melihat ke atas, sambil menunggu hujan reda.


Sekilas, mataku berwarna pelangi memberinya kesan penampilan yang dewasa. Tetap saja, dia seharusnya berada di generasi yang sama dengan aku. Mengapa, karena dia memakai seragam yang sama sepertiku.


Kulit yang berwarna putih pucat terlihat mewarnai seluruh tubuhnya dan sekelilingnya dengan pakaian warna putih dan rok warna abu-abu.


Begitu terpesonanya aku pada pemandangan menakjubkan ini, mataku langsung terpaku pada gadis itu, memblokir semua hal lainnya di pikiranku, dan hanya memiliki dunia putih tanpa batas yang ada di dalam hatiku. Aku mulai sedikit demi sedikit tidak dapat melihat hal lain kecuali di sekeliling gadis itu, dan aku pun menjadi kesulitan untuk bernapas lega. Aku juga bahkan lupa di mana dia berada pada saat ini.

__ADS_1


“Apa dia tidak kedinginan, ya?”



__ADS_2