
“Huh…”
Beberapa menit kemudian, aku sudah menaiki anak tangga terakhir, dan juga berusaha mengumpulkan beberapa kesadaranku sendiri. Di hadapan mataku tepat menghadap ke luar jendela, nampak embun yang menetes dan bertanda bahwa bangunan rumah sakit ini jadi sanksi atas semua kesedihanku.
“Apa tidak apa-apa ya, kalau aku menjenguknya sedikit telat?”
Kegelisahan yang ada di dalam diriku sendiri masih memuncak ketika aku sudah tiba di depan pintu kamar adikku, tenggorokanku yang sudah mulai bergetar kering, dan punggung belakangku yang sudah merasa pegal.
“Tak masalah, kan. Ini hanya kamar adikku?”
Aku menyuarakan suaraku secara pelan dan sedikit lantang untuk mencoba menenangkan diriku sendiri, tetapi bahkan dengan suara tersendat karena diriku sendiri juga merasa kawatir terhadapnya.
Tukkk...! Tukkk…! Tukkk…! Tukkk…!
Aku mengetuk secara pelan sambil menaruh penuh kegelisahan dan ketakutan. Semua yang menjawab dengan suara kesunyian yang kelam.
“Kok tidak ada jawaban? Sepertinya adikku sudah marah.”
Untuk menguji sedikit rasa kegelisahan, aku memegang gagang pintu. Dengan pelan dan mencoba memutar gagang dengan lembut. Aku juga tidak merasakan perlawanan yang diharapkan jika pintu terkunci, ini pasti terbuka.
“Permisi, adik?”
Adikku diam dan tidak ada jawaban kata atau gerakan darinya…
Dengan jeda pendek aku pun mulai masuk, mataku melihat ke arah adik perempuanku yang masih melihat ke arah jendela dengan posisi bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Dia itu adiku yang bernama Lia Larasati, memakai pakaian putih bersih yang indah dan berambut hitam lurus panjang.
Melihat pemandangan seperti itu, aku tidak bisa menahan diri untuk menutup mulut, atau aku bahkan berhenti bernafas secara legah dan tenang.
Tirai tergantung dari jendela di sebelah utara, di dalam kamar beratap rendah yang sunyi itu, di seluruh ruangan telah bertebaran kaya bau obat-obatan yang sudah menyapaku saat masuk ruangan ini. Di pojok ada meja, kursi dan vas bunga yang berisikan bunga mawar putih, sedangkan di tengah sudut ruangan ada tempat tidur berukuran kecil yang putih bersih.
Tanpa ada perlawanan suara atau gerakan darinya, aku pun langsung menyapanya sekali lagi dengan nada lucu sambil tersenyum manis kepadanya.
“Maaf adik, kamu lama menunggu kedatangan kakak, ya?”
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, dia pun langsung menengok ke arahku.
“Iya, kakak lama sekali. Di sini Lia sudah bosan.”
Suara yang sangat merdu sampai memukul gendang telingaku dengan bentuk wajahnya yang cemberut manis sempurna. Dengan jeda pendek, dia pun menolehkan kepalanya menghadap ke arah jandela ruangan kamar sakit. Seolah dia menolak ketidak senangan, tapi tingkah lakunya dan nada suaranya itu yang paling aku sukai, sungguh adik yang aku sayangi.
“Ahhh… Adikku Lia yang manis. Maaf ya, kakak yang datang telat.”
Wajahku tersenyum tulus ke arahnya, ketika aku meminta maaf.
Bagaimanapun juga, dia adalah adikku satu-satunya yang saya miliki.
Setelah melihat sekeliling kamar, aku menyipitkan mataku perlahan. Satu kursi, satu kasur... Tidak ada orang lain di sini selain Lia, dan di sini dia bangun, yang hanya menundukkan kepala saat di tanya mengenai kondisinya.
Aku merasa kalau berbicara kepadanya akan percuma saja, tapi aku memandang ke arah wajahnya yang cemberut itu diam-diam dan menarik kursi, lalu aku duduk tanpa membuat suara. Aku akan di sini menemaninya sebentar, jika Lia masih belum ceria juga saatnya aku sudah waktunya…
Aku melihat ke arah rambut hitamnya yang berkilau itu dengan tatapan penuh harapan, lalu melihat ke arah tangannya Lia secara bergantian.
Puisi untuk adikku Lia tercinta.
Adikku yang aku sayangi.
Aku akan berusaha menjadi kakak yang selalu ada untukmu.
Yang kupunya sekarang hanya sakit di sudut hati.
Aku ingin hidupnya seperti anak-anak pada umunya.
Ceria dan tersenyum.
Adikku tidak boleh merasakan pahitnya dunia.
__ADS_1
Adikku harus tetap sehat dan tersenyum.
Tuhan kumohon bantu aku.
Bantu aku untuk terus menjaganya.
Bantu aku untuk terus membahagiakannya.
Walaupun dia terus berada di rumah sakit.
Aku akan selalu mendoakannya.
Meminta pencerahan harapan putih untuknya.
Tuhan maha tahu akan segalanya.
Dan aku selalu percaya tentang hal itu.
Tentang kesembuhannya.
Adikku harus bahagia dalam hidupnya.
Dia tidak boleh hancur, dia tidak boleh merana.
Tidak, dia harus bahagia.
Aku bersedia memohon doa setiap malam untuknya.
Untuk hidupnya dan untuk senyumnya.
Aku akan terus melindungi.
Senyumnya.
__ADS_1