
“Anooo… Apa sudah selesai membahas tentang dadanya?”
“Maaf, Aam. Memang dia ini itu… Sedikit, ehemmm… Sinting.”
“Aku mengerti, ehemmm… Jadi, dia itu dari kelas kamu, ya?”
Berpura-pura batuk yang sama telah berbunyi dua kalinya untuk mengembalikan keadaan. Di bawah perintahku sendiri, Novi pun kembali ke topik semula, walaupun di sini Ari kelihatan seperti ingin mengubur dirinya sendiri ke dalam balik bayangan pohon yang sedang dia pegang sekarang ini.
“Iya itu memang benar sih, Ida Permatasari itu dari kelasku. Tapi, dia itu sepertinya jarang masuk sekolah, masuknya itu setiap 2 - 3 kali seminggu.”
“Tidak pernah masuk? Apa dia itu sakit atau punya hambatan lain?”
Aku mempertanyakan sambil wajahku sedikit mendekat ke mereka.
“Maaf, Aam. Aku juga tidak tau informasi tentang Ida itu.”
Ternyata mereka berdua itu benar-benar tidak tau informasi bahkan sedikitpun tentang Ida Permatasari. Apa dia itu orangnya sangat misterius, ya?
“Kalau begitu, terima kasih atas informasinya, ya.”
Tepat di perempatan jalan belokan menuju ke rumah sakit, kami bertiga pun sempat berhenti, lalu saling melambaikan tangan dan berkata.
“Sampai bertemu lagi ya? Kamu hati-hati di jalan ya, Aam.”
__ADS_1
Kami bertiga pun mengambil jalan pulang yang berbeda, berpisah sih.
“Ya, terima kasih. Oh ya, kalian juga hati-hati saat pulang.”
Aku sempat melihat mereka, Novi dan Ari dari sudut pandang yang sama, untuk memastikan kalau mereka berdua itu sudah benar mengambil arah jalannya menuju ke tempat rumahnya, tentu saja, mereka arahnya itu berlawanan dari aku yang sekarang menuju ke rumah sakit sekarang ini.
Pada saat yang tepat, aku di sapa lagi oleh beberapa teman sekelasku dan tentunya mereka itu juga temanku namun sedikit sering ricuh di kelas.
“Sore, bro.”
“Ohhh… Sore juga, bro.”
Sambil bertegur dan saling menyapa ringan saat sore dengan teman sekelasku, tetap masih di lingkungan sekitar dan aku langsung menuju ke sana.
Gedung rumah sakit yang sudah tua. Sorotan cahaya yang bersinar masuk dari kemiringan sudut jendela. Ada penyangga di sana-sini untuk memperkeras dinding terhadap gempa bumi, dan untuk beberapa alasan jendelanya memiliki gorden indah berlukiskan bunga mawar terpasang di sana. Dikatakan bahwa pada satu waktu pengobatan ini telah menjadi tempat demonstrasi untuk pasien agar tetap tenang dan selalu sejuk isi hatinya.
Membawa amplop berharga milik dua orang di sisinya, aku perlahan menaiki anak tangga. Di sudut khusus ruang tunggu dari lobi, beberapa pasien baru, itu diragukan, apakah mereka sudah sembuh atau belum, masih pakai seragam putih, tapi sudah keluar dari ruangannya. Melirik ke samping, melihat ke arah mereka yang lagi sedih sambil melihat ruangan di mana keluarganya di rawat, mengikuti orang di depan, aku juga sudah hampir sampai di ruangan, di mana adikku dirawat di sini. Momen yang tadi itu sangat menyentuh hatiku.
Untuk menguji sedikit rasa kegelisahan, aku memegang gagang pintu. Dengan pelan dan mencoba memutar gagang dengan lembut. Aku juga tidak merasakan perlawanan yang diharapkan jika pintu terkunci, ini pasti terbuka.
“Permisi, adik? Kakak sudah tiba, nih.”
Dengan jeda pendek sambil suara bernada lucu. Aku membuka pintu dengan pelan sambil mengintip sedikit di balik pintu kamar ini.
__ADS_1
“Hahhh…?”
Aku tercengang keheranan dengan apa yang sudah aku lihat sekarang ini, dan tanpa sadar membuka pintu dengan selebar-lebarnya.
Pemandangan yang sedikit aneh lah dari biasanya untuk menyambut aku masuk kedalam ruangan ini, perasaanku sekarang pun bercampur aduk.
Lia yang sedang duduk sambil memegang setangkai bunga, sepertinya bunga itu adalah bunga mawar putih yang aku petik kemarin lusa.
Aku melihat kearah sudut ruangan, lalu mataku terfokus ke salah satu vas bunga yang sudah aku siapkan kemarin lusa, tiga tangkai bunga mawar putih dan sekarang tinggal dua, sepertinya dia baru saja mengambilnya.
“Adik, kamu sedang ngapain?”
Aku berdiri begitu saja sambil bernada lucu memaksa, karena sedikit kawatir, tanpa ada jawaban sama sekali, sungguh kesunyian yang kejam.
Aku melangkah diam-diam, lalu langsung mendekati sisi meja lain.
Kegelisahanku pun langsung memuncak setelah melihat wajah adikku dari sudut yang hampir sudah sedekat ini, sungguh tatapan yang hampa.
Adikku Lia menatap mahkota bunga dengan pandangan kosong dan sedih, saat itulah dia tiba-tiba berkata dengan suara nyaring dan melengking.
“Sedih…! Senang…! Sedih…! Senang…!”
__ADS_1
Mengucapkan kata itu berkali-kali sambil memetik mahkota bunga satu-persatu, sepertinya dia sedang memilih sebuah harapan kecilnya itu, tapi terhalang oleh kesedihan dan kondisinya yang sedang dia alami sekarang ini.