
“Ini bekalmu, Aam.”
Pada saat yang sama, makanan untuk bekal pagiku telah siap. Aku dengan cepat menempatkan makanan tersebut ke dalam tasku.
Sebelum cerita lebih lanjut, anggota keluarga yang ada di rumah hanya aku dan ibuku saja, lalu adikku sekarang ada di rumah sakit. Dan ayah, beliau sudah meninggal pada saat aku masih kecil.
Foto beliau yang masih terpajang rapi tanpa debu di sudut ruang keluarga, berjajar rapi dengan foto yang lain, mereka itu paling aku sayangi.
Dan seperti biasa kalau soal bekal untuk adikku si Lia, ibu sudah membuatkannya bekal dengan lauk yang sama denganku. Nah, setiap pagi sebelum ibu pergi bekerja, ibu selalu menjenguk adik sambil membawa bekal untuknya, semoga adik makannya banyak dan cepat sembuh, aminnn…
Tepat, sebelum makan aku pergi ke arah wastafel dekat meja makan, karena sebelum makan harus cuci tangan dulu supaya terhindar dari penyakit.
Aku kembali ke meja makan dengan memutari sisi meja lain, lalu kembali duduk dengan manis, dan dengan santai aku mulai makan bersama.
Di saat tepat makan pagi bersama ibu, aku melihat hewan berkepak sayap yang cantik dari arah sudut lain meja ini. dia terbang ke sana dan ke mari, seperti dia tidak punya tujuan lain selain di sana setiap kali dia terbang.
__ADS_1
“Heee… Ada kupu-kupu ya, sepertinya akan ada tamu nih.”
Ibu berbicara dengan wajah yang senang. Sambil mengangkat sendok yang penuh dengan nasi, aku berpikir tentang apa yang ibu katakan sekarang.
“Ada kupu-kupu berarti nanti rumah ini akan kedatangan tamu? Apa itu fakta atau hanya sekedar mitos, ya?”
Aku memikirkan hal itu sambil makan, dan tidak terasa nasiku sudah habis. Setelah selesai, aku membantu ibu untuk membereskan dan merapikan meja makan ini, mencuci piring dan mengelap meja makan, supaya rapi.
Setelah selesai aku pun menyapa ibuku sambil mencium tangannya.
“Ibu aku berangkat dulu, ya?”
Aku berpikir sejenak, sepertinya ada sebuah kata, dari perkataan yang tidak sebegitu mengerti dan tidak jelas yang keluar dari mulut ibuku.
“Iya bu... Eh, belok...? Kemana...?”
__ADS_1
Dengan jeda pendek lalu mengubah nada bicaraku ke sedikit lemas. Setelah selesai berpikir dan sudah tau tentang perkataan itu, lalu aku cepat bergegas berangkat pergi ke sekolah dengan melewati pintu depan rumah.
Sesampai di teras rumah aku sempat mengecek, apa hari ini akan turun hujan atau tidak, dengan arah sudut kepalaku langsung melihat ke arah atas langit. Aku menyipitkan mataku dan tepat yang aku pikirkan sekarang, di karenakan hal ini tidak luput dari musim yang namanya hujan.
“Hari ini sepertinya akan turun hujan.”
Langit dari arah barat yang sudah berwarna abu-abu, hal itu bertanda bahwa daerah yang aku mau berangkat kearah sekolah itu akan turun hujan.
“Payung…! Payung…! Aku harus mengambilnya dulu.”
Aku kembali kedalam rumah lagi dan secepat kilat aku langsung mengambil payung itu dari rak sebalah kanan sudut pintu masuk rumah.
“Yos… Sedia payung sebelum hujan datang.”
Aku berjalan sendirian menuju ke sekolah dengan langkah kaki yang santai, empat minggu lagi dari sekarang akan diadakan ujian akhir semester.
__ADS_1
Menggunakan seragam SMA seperti ini rapi dari atas sampai ke bawah, rambutku yang lumayan acak-acakan, sambil aku berjalan ke arah sekolahku membawakan payung di tangan kananku, mengingatkan aku sendiri bahwa sekolah sudah benar-benar akan segera di mulai. Dan di saat yang sama, aku melihat ke arah jam tanganku, jam enam empat puluh lima.
Sambil mengangkat kepala dan melihat ke arah langit, sekarang yang begitu hampir gelap itu terasa kontras sekali dengan suasana hatiku ini.