2 Meter per Second

2 Meter per Second
Alasan si gadis


__ADS_3

Gadis muda itu terlihat tak berdaya, seakan-akan dia sedang berdiri di bawah tetesan air hujan sendirian, sehingga membasahi keseluruh tubuhnya. Opss…! Aku hampir saja membuat keliruan besar dari pemahamanku sendiri.


Tanpa berpikir panjang aku melangkah kakiku ke arah gadis itu dengan langkah yang pelan dan sempat merasa grogi. Lalu pada saat yang tepat, tiba-tiba, pikiranku sekarang di penuhi hal yang tidak baik.


Aku berpikir, apa ini normal untuk seorang anak remaja SMA sepertiku ini yang menghampiri seorang gadis yang seumuran denganku, dia yang sedang kebasahan, berteduh di bawah pohon sendirian, dan tidak ada manusia satupun yang berada dekat dengannya. Walaupun ini tidak baik, aku akan tetap ke sana.


“Tenang…! Tenang…! Tenang…!”


Begitulah aku mengucapkan nada pelan sambil bertempo sangat cepat, supaya mencoba menenangkan diriku sendiri, tetapi bahkan dengan suara tersendat, karena diriku juga mulai takut kalau dekat dengan dirinya.


Maklum orang yang sepertiku aja kalau dekat dengan seorang gadis, apa lagi mau mengajak perkenalan lebih lama lagi, pasti akan merasa grogi dengan pikiran yang keluar kendali atau bisa di tambah lagi akan salah tingkah.


Pasti kalian juga memikirkan apa yang aku sedang pikirkan, itu cocok.


“Aku harus memberanikan diri, karena aku adalah lelaki sejati.”


Jantungku terus memberontak ingin ke luar, aku sendiri sudah berada titik bahaya akan membuatku untuk memberanikan diri berbicara dengannya.


“Pe-permisi, mbak?”


Aku menyapanya dengan wajah ketakutan serta sedikit gugup.


Tanpa ada perlawanan suara atau gerakan dari dirinya, aku akan menyapanya sekali lagi dengan nada lucu sambil tersenyum manis kepadanya.


“Maaf, mbak? Mbak, lagi menunggu siapa ya?”


Tanpa menunggu lama, dia langsung menengok wajahnya ke arahku.

__ADS_1


“Apa…? Kamu bilang aku mbak…?”


“Heee…?”


Aku pun spontan langsung terkejut dengan isi pikiranku yang tiba-tiba kandas di tengah jalan. Di karenakan pada saat aku memanggil dia dengan sebutan mbak, dia tiba-tiba berwajah marah dan sedikit cemberut tentunya.


Aku pun memikirkan sekali lagi, dan kali ini pasti akan berhasil.


“Kalau begitu…? Adik lagi ngapain di sini…?”


“Jangan adik…!”


Suara gadis itu membesar lagi, seperti dia tidak suka dengan kata yang aku sebutkan tadi. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyerah dan mempertanyakan kata yang cocok untuk memanggilnya, dengan mataku menjadi satu titik yang serius melihat detail dari bentuk raut wajahnya.


“Kalau begitu, di sebut dengan siapa? Agar kamu…”


“Ka…Ka…ka…ka…, …”


Dia berusaha mengungkapkan sesuatu, aku melihat bentuk dari getaran bibir dari gadis itu seperti merinding, sepertinya dia kedinginan.


“Ka…?”


Aku berusaha mengikuti dari gerakan getaran bibirnya. Tetap saja, aku tidak mengerti, apa yang dia berusaha ucapkan itu.


Tidak lama kemudian, dia pun berhenti dan kembali diam tanpa kata.


Apa sepanjang waktu dia telah berada di bawah pohon ini. Tidak lama kemudian, muncullah beberapa deretan pertanyaan tentang gadis yang tepat berada di depanku, tapi tetap saja aku tidak bisa mempertanyakannya.

__ADS_1


Kenapa dia bisa berada di sini, ya?


Tetap, aku tidak bisa berbicara dengannya, mencoba berpikir lagi.


Dia lagi menunggu siapa, ya?


Tetap, perasaan grogi yang terus muncul berada di sekitarku.


Dia mau ke mana, ya?


Tetap, dia pasti akan kembali marah kepadaku.


Tanpa ada arahan yang jelas dari mana dan siapa. Tiba-tiba, bibirku langsung mengeluarkan sebuah kata pertanyaan, aku harap ini yang terbaik.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”


Tanpa ada kata darinya yang keluar, sungguh hawa yang sunyi muncul di sekitarku, sepertinya dia tidak menanggapi dari pertanyaanku. Dan tidak lama kemudian sekitar satu menit, aku juga tidak bosan menunggu dia akan mulai berbicara. Dia mengungkapkan dengan awal nada yang pelan.


“Aku ke sini untuk menghindari orang-orang yang memakai baju putih, dan sudah sewajarnya aku berada di sini.”


Aku menatap ke arah wajahnya, yang merinding sepenuhnya sampai ke hidungnya, memucat tepat di depannya, bibir merahnya bergerak perlahan. Tentu saja, gigi putih yang cantik bersinar di antara bibir lembutnya.


“Orang berbaju putih? Siapa?”


“Terus, aku bertanya kepadamu... Kenapa kamu menghampiri aku?”


Dengan jeda yang singkat, mengubah nada bicaranya ke sedikit kasar. Dan pertanyaanku yang tadi tidak di jawab olehnya, seperti terabaikan.

__ADS_1


Mengeluh nafas dan berusaha tenang, aku langsung menjawabnya dengan awal wajahku yang biasa dan bernada sedikit santai kepadanya, di karenakan hal itu agar aku bisa menyesuaikan keadaan yang sekarang.


__ADS_2