
Baru setelah gadis ini melewati belakangku, dia pun duduk di depanku, meletakkan bukunya dan mendorong mejaku, dengan cepat kualihkan pandangku dari buku ini. Tidak peduli ada atau tidaknya keramaian, perpustakaan ini pun dipenuhi percakapan di setiap sisiku. Meski begitu, aku masih bisa mendengar beberapa teman kelas lain yang berbisik kala itu.
“Hei, gadis ini…?”
“Ya, sepertinya begitu.”
“Eh… Serius? Padahal kata orang, dia itu tidak menyukai cowok, loh.”
Pandanganku tertuju ke arah gadis ini, tapi gadis ini malah menutupi wajahnya dengan bukunya dan hasilnya aku gak bisa melihat siapa yang ada di depanku ini. Gadis yang ada di depanku itu sedang membaca bukunya. Karena gaya rambut itu dan bau parfumnya juga sama persis dengan teman sekelasku yang biasanya di panggil si Putri Es, maka aku langsung bisa mengenalinya. Dia memang Yuanita Angraini. Akan aku tebak, raud wajahnya sekarang pasti sedang kesal tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain ataupun melirik.
“Anita. Kenapa kamu ke sini? Anita…”
Pada akhirnya, Anita terus menatap ke arah bukunya dan tanpa ada gerakan dari wajahnya ataupun tubuhnya, seakan-akan dia tak tertarik lagi.
“Anita. Apa kamu mendengarkanku? Oeee…”
Setelah aku mengatakan hal tersebut, udara di sekitarku terasa seolah dialiri arus listrik. Tunggu, apa yang sebenarnya dara muda itu katakan?
Tidak lama kemudian… Anita tiba-tiba menutup bukunya, menata lalu membawa semua bukunya, dan terakhir dia berdiri dari tempat duduknya. Seakan-akan pergi meninggalkanku begitu saja tanpa ada kata yang terucap.
Sebelum hal itu terjadi, aku seketika ikut berdiri sambil berkata.
“Tunggu Anita! Jangan pergi! Aku tadi hanya bercanda kok.”
Anita pun menuruti kata-kataku. Dia duduk manis di tempat semula, meletakkan semua bukunya, dan terakhir membuka buku yang dia baca tadi.
Tak lama kemudian, suasana kecanggungan di antara kita pun terjadi.
__ADS_1
Memiringkan leherku, melirik ke arahnya sedikit sambil memastikan kalau, apakah dia bisa diajak bicara untuk sekarang ini? Tapi, sepertinya tidak, dia terlihat sangat serius membaca bukunya, sampai tak terasa lagi hawanya.
Aku menggaruk-garuk rambutku sendiri dan mencoba membuat topik pembicaraan yang pas, untuk mengilangkan kecangguanku ini terhadapnya.
Tunggu! Sepertinya aku merasakan ada gerakan kecil di bangkuku ini, mengingat bangku ini hanya muat untuk dua orang, ya siapa lagi aku dan Anita saja yang ada di depanku. Mungkin gerakan bangku ini di sebabkan oleh rasa kakinya yang mulai pegal, karena duduk terlalu lama dan gerakannya sampai menghantam bangku. Ini bertanda dia mulai bosan dan ingin diajak bicara.
“Anita. Arti dari namamu itu apa sih?”
Aku berkata dengan nada rendah dan pelan, namun jelas terlihat kebingungan yang aku tampakkan dari gerakan tangan di sekitar lembar buku.
“Aku tidak mau.”
“Hmmm... Kenapa Anita?”
“Aku tidak suka dengan namaku sendiri.”
Efek perkataan dari Anita terasa bagaikan dia sedang menuangkan nitrogen cair pada diriku yang sudah membeku mau berkata apa lagi. Kusadari pula ekpresi Anita sewaktu dia menggigit bagian bawah bibirnya. Itu adalah awal ekspresi yang sama seperti yang ditunjukkannya untuk semua orang, ekspresi yang ditunjukkannya ketika dia tidak ingin diganggu lagi.
“Anita, aku minta maaf! Kalau pertanyaanku tadi membuatmu sakit.”
“Benar. Jadi jangan banyak bicara kepadaku lagi!”
Suara keras Anita terus bergema di telingaku sama seperti waktu itu.
Gawat! Aku salah bicara kepadanya, waktunya tidak pas lagi ***!
Kesunyian yang meliputi diriku tampak bagai permukaan danau yang membeku. Terasa dingin sampai ke seluruh kujur tubuku, terdiam mematung.
__ADS_1
Tidak ada seorang pun yang lagi meliriknya ataupun membicarakan soal tentang dirinya yang sekarang, setelah mendengar Anita berkata begitu, dan tidak seorang pun tahu harus seperti apa lagi berkata-kata kepadanya.
“Huh… Hatiku terguncang saat bertemu dengan cewek cantik. Tapi…”
“Terus, kapan dan di mana kamu bertemu dengannya?”
Aku kaget ***! Seketika itu aku terkejut sambil melihat langsung ke arah Anita. Tapi, Anita malah tidak melihatku, dia tetap membaca bukunya.
Kenapa Anita malah tertarik dengan topik yang aku bicarakan ini, padahal aku berbicara sendiri sambil mengingat-ingat kembali wajahnya Ida.
“... Di dalam mimpiku?”
“Kamu mau kulempar ke UKS, ya?”
“Enggak, enggak. Duh, susah menjelaskannya. Dia itu orangnya…”
Aku berbicara terus terang, setelah itu aku diam. Karena berbahaya kalau aku teruskan, bisa jadi lebih rumit dan panjang, maaf aku diam saja ya.
“Kenapa kamu malah diam? Bicaralah Aam!”
“Bukannya tadi kamu sendiri yang memintaku untuk diam!”
“Nah, itu ingat! Kamu ingat kalau aku menyuruhmu untuk diam!”
Ahhh... Aku enggak tahu lagi, deh. Aku kok malah jadi kebingungan.
“Hmm, makanya tadi kubilang kalau kamu jangan banyak bicara lagi kepadaku! Dan lebih baik kamu diam saja! Lagi pula, dia itu siapa Aam?”
__ADS_1
“Sudah, jangan di teruskan lagi Anita! Aku malah jadi bingung nih!”
Kurasa percakapan kami tadi pasti terdengar sangat bodoh. Obrolan antar teman sekelasku ini pun menjadi semakin tak teratur, sementara tatap mata penasaran Anita bahkan terasa lebih menusuk. Jam selanjutnya adalah mata pelajaran B. Inggris yang paling tidak kusukai, namun di saat yang sama, suara bel masuk pelajaran terdengar seperti sang penyelamat di mataku.