
“Iya, itu PR buat kamu, dan kamu harus…, …”
Dan pada saat yang tepat, tiba-tiba aku langsung jadi merasa panik tidak menentu, setelah aku mendengarkan bahwa dia mengeluarkan suara batuk berat, sambil menyumbat mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“… Hukkk…! Uhukkk…!”
Dengan cepat aku menghampirinya dan melihat kondisi tubuhnya.
“Ida, apa kamu tidak apa-apa?”
“Maaf, Aam. Aku baik-baik saja.”
Aku berusaha melihat ke arah tangannya. tapi, dia menolak secara lembut, sambil dia menghindari kontak langsung dariku. Aku sempat berpikir heran tentangnya, sepertinya dia telah menyembunyikan sesuatu dari aku.
Secara kebetulan, aku mendengarkan suara mobil yang secara tiba-tiba menghampiri dan tepat berhenti di depannya Ida. Mobil sedan mewah berwarna hitam bersih dan seluruh badan mobil itu basah, karena air hujan.
Mobil hitam itu telah membelokir isi kekawatiranku kepada Ida.
Tidak lama kemudian, kaca dari pintu mobil itu terbuka pelan-pelan. Aku sempat terkejut dan muncullah sesosok wanita muda dari sisi pintu mobil.
__ADS_1
“Ida kamu kenapa ada di jalan? Cepat kamu masuk ke dalam mobil!”
Dia mengeraskan suaranya begitu saja, sambil bernada seperti marah dan memaksa. Aku berpikir siapa wanita itu, apa dia ibunya atau apa ya?
Aku melihat Ida seperti orang ketakutan dan wajahnya yang sudah menegang kalau bertemu dengan wanita yang ada di dalam mobil itu.
Dan tidak lama kemudian, Ida menjawabnya dengan nada yang sedikit ketakutan, dan sempat dia menyembunyikan ketidak senangannya dengan menaruh seyuman manis ke arah wanita yang ada di dalam mobil itu.
“Iya ma... Maaf Aam, aku sampai disini saja, ya?”
Dengan jeda pendek, Ida menengokkan kepalanya menghadap ke arahku, lalu dia menyapaku dengan bentuk raut wajah yang sedikit sedih.
Eh… Ternyata ibunya. Aku mengucapkan salam kepadanya dulu deh.
“Iya, tidak apa-apa. Apa benar kamu tidak apa-apa?”
Aku menyapanya sekali lagi, sambil wajahku yang penuh kekawatiran.
“Iya aku baik-baik saja. Ada mama yang sudah menjemputku.”
__ADS_1
“Ida, cepat kamu masuk ke dalam mobil!”
Sekali lagi, ibunya itu memanggilnya dengan suara yang sangat keras kali ini, sampai-sampai dia terkejut dan badannya bergetar seperti ketakutan.
Dan pada saat detik terakhir, Ida membuka sisi lain pintu mobil, lalu pada saat dia masuk, dia sempat menyapaku dengan senyum manisnya.
“Aam? Terima kasih ya, dan sampai bertemu lagi.”
“Iya Ida, sampai bertemu lagi. Kamu hati-hati, ya.”
Begitulah aku menjawabnya sambil bentuk wajaku yang sama dengannya, saling menyapa dengan wajah yang tersenyum manis dan tenang.
Setelah beberapa deretan pemikiranku yang membuatku dingin, karena cuaca sehabis hujan, aku melihat ke arah mobil itu dengan tatapan yang penuh perasaan kangen dan inginku berteriak. Jangan melupakanku, Ida!
Tapi pada kenyataannya, aku hanya memperhatikan mobil itu yang pergi dengan ekspresi bosan, lalu satu menit kemudian aku tersadarkan diri.
“Ahhh…! Aku tadi belum tanya kepadanya, dia dari kelas apa, ya?”
Usai berpikir seperti itu, aku hanya bisa dibuat penuh penasaran.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, aku harus tenang, ini hanyalah sebuah pemikiran positifku saja, sebuah cara berpikir, dan juga mungkin hanyalah sebuah kumpulan emosi, sebuah akumulasi dari pengetahuan atau tidak lebih dari itu.
Itulah mengapa dirinya bukanlah hal yang menunjukkan identitasnya yang sebenarnya, dia tidak sedikit pun atau sama sekali bukan. Pemikiran dia bahwa sifat hanyalah sebuah symbol, dan hal itu semua adalah salah satu hal yang paling dia pahami, sepenuhnya dan untuk selama kehidupannya.