2 Meter per Second

2 Meter per Second
Kecewaan...


__ADS_3

Aku tidak mengerti apa yang diceritakan oleh pandangan adikku ini.


Tapi yah, aliran deras perkembangan saat ini dari dalam isi hatiku, apa boleh buat selain menaiki ombak kecil yang sangat menghanyutkan ini.


Apakah Lia adikku akan selalu merasakan sedih seperti ini? Jika dia itu benar-benar sedih, ini berarti dia telah merasakan sakit, itu pasti sakit.


Tidak, Itu harusnya sangat berlawanan, kan. Seharusnya aku ingin membuat rasa sakit yang dia rasakan itu bisa terbagikan kepadaku sama rata.


Itu karena aku selalu ingin mengatakan, adikku Lia tersayang, sambil aku ingin melihat halusinasi wajahnya Lia tersenyum yang penuh ketulusan.


Dengan tampang yang sudah sepertinya kesusahan sambil pelan-pelan aku melirik ke arah bibirnya yang kering, pecah-pecah lalu menegukkan air liurnya, dan kali ini adikku sepertinya lagi butuh air minum.


“Adik, apa kamu haus?”


“Kakak, tolong ambilkan air! Aku haus.”

__ADS_1


Suara manis adikku terdengar begitu pelannya. Seperti biasa, aku berkata demikian sambil tersenyum, menyembunyikan ketidak kesedihanku.


Lia tidak memiliki banyak alasan untuk menyuruhku mengambil air yang berada di sisi sudut ruangan ini. Dia hanya bertindak seperti biasa dan hidup dengan waktu luang. Namun, itu memang tidak wajar untuk dia yang sakit diperbolehkan keluar dari ruang lingkup rumah sakit ini lebih lama.


Aku bahkan membantunya untuk meletakan gelas setelah dia selesai minum. Ini adalah rasa peduli yang aku luangkan banyak waktu kepadanya.


Setelah selesai minum air putih lalu meletakkannya kembali. Tidak lama kemudian wanita yang memanggil dirinya perawat pun telah datang.


Lia di bawah ke sesuatu tempat yang sepertinya sudah dia kenal.


Aku berpikir apakah tidak apa-apa seperti ini?


Ini adalah… Sebelumnya saat perawat datang ke ruangan adikku Lia, ini adalah sebenarnya bukan yang aku inginkan sekarang ini.


Pada peristiwa pemeriksaan kondisi dengan cara mengecek darahnya, bahkan saat ini, aku menunjukkan diriku yang tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


Karena itulah sepertinya Lia kecewa padaku dan melepaskanku.


Bahkan hal itu, aku tidak bisa meninggalkanya sendirian masuk ke dalam ruangan yang berbeda. Sekarang aku bisa menghabiskan waktuku dalam keheningan di selasar dan melihat apa isi di balik pintu kaca kecil yang ada di sisi sudut lain ruangan ini. Lalu, aku bisa membasuh jejak-jejak dari dunia kesepian dari tanganku dan menjadi kakak yang selalu ada untuknya.


Tapi… Ada apa dengan perasaan sedih yang sedang aku alami ini?


Setelah itu, aku tidak tahu lagi. Terganggu dengan rasa kesal dan sedih yang kurasakan, bercampur aduk bahkan ada rasa penasaran juga, aku menghabiskan duduk sambil menunggu mereka selesai memeriksa adikku.


 Tapi, karena itu, aku sendiri tidak sengaja melihat Lia di tempat yang tidak terduga, saat aku duduk di kursi selasar dengan perasaan penasaran.


Aku melihatnya ketika meninggalkan tempat dudukku yang berada di sebelah pilar besar. Kakiku tanpa sadar bergetar, ketika melihat kelakuan Lia yang seperti itu di depan mataku, saat aku tidak berada di sisinya.


Karena Lia tidak menyadariku kalau aku ada di balik pintu ini, sekali lagi kelihatannya aku sedang mengintip dari sisi balik pintu kaca kecil yang lain.


Entah kenapa saat mengambil darahnya, Lia sudah berwajah ingin memberontak keluar dari ruangan ini, sepertinya dia tidak menyukai ini.

__ADS_1


Setelah sepuluh menit kemudian, Lia di bawah ke ruangannya lagi.


__ADS_2